Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

INTERNASIONAL “Cinta Online” di Facebook, Perempuan Paruh Baya Kehilangan 6 Juta Dolar Hong Kong 24 Jan 2018 14:11

Article image
Penipu dengan modus percintaan online selalu menyasar korban lewat Facebook dan media online lainnya. (Foto: zeenews.india.com)
Polisi Hong Kong telah berkoordinasi dengan dengan polisi Malaysia untuk menangkap penipu yang menggunakan Facebook, email dan pesan SMS untuk menipu seorang perempuan paruh baya.

HONG KONG, IndonesiaSatu.co -- Seorang perempuan paruh baya asal Hong Kong yang kini bertempat tinggal di Canada menderita kerugian lebih dari 6 juta dolar Hong Kong atau setara dengan Rp 10 miliar lebih sejak pertengahan 2016. Angka tersebut menjadi yang terbesar dalam kasus penipuan dengan modus hubungan romantis online.

South China Morning Post (23/1/2018) memberitakan, korban telah mentransfer uang ke beberapa rekening bank di Malaysia lebih dari 100 kali transaksi dalam kurun waktu 18 bulan tetapi tidak pernah bertemu dengan lelaki pujaannya.

Sumber kepolisian hari Selasa menyatakan, ini merupakan kasus hubungan percintaan jarak jauh terlama dengan nilai kerugian terbesar. Dikatakannya, biasanya modus serupa akan berakhir antara tiga hingga enam bulan.

Kasus ini terungkap ketika korban kembali ke Hong Kong. Dia baru menyadari telah menjadi korban penipuan dan melaporkannya kepada polisi.

Menurut polisi, sang penipu mengaku sebagai mantan pengusaha Amerika yang tinggal di Malaysia dan mengirimkan foto seorang pria berkulit putih berumur 50-an tahun.

Perkenalan mereka bermula dari pertengahan 2016 ketika korban berada di Canada dan mereka berhubungan menggunakan Facebook messenger, email dan pesan SMS.

“Setelah berhasil menaklukkan hati korban, dia membual memiliki dana sebesar 100 juta dolar Hongkong atau setara 12,8 juta dolar AS berupa aset yang telah dibekukan pemerintah Malaysia karena gagal membayar fee dan pajak terkait,” kata seorang polisi.

“Dia (pelaku-red) kemudian meminta bantuan korban untuk membayar fee dengan janji akan mengembalikannya suatu saat bila asetnya bisa ditransfer ke luar negara (Malaysia).”

Sumber mengatakan, korban yang sudah dimabuk cinta mentransfer sebesar 1 juta dolar Hong Kong lebih dari 100 kali transaksi ke beberapa rekening bank di Malaysia dalam rentang waktu 18 bulan. Post lebih lanjut menulis bahwa uang ditransfer ketika dia sedang berada di Canada.

Korban yang sudah tidak lagi bekerja ini kemudian menyadari telah ditipu lalu menceritakan pengalamannya tersebut kepada teman-temannya.

Polisi Hong Kong kemudian meminta bantuan kepolisian Malaysia untuk menelusuri sang penipu. Sejauh ini, tidak ada satu orangpun yang berhasil ditangkap.

Korban adalah satu dari 235 orang yang ditipu dengan total kerugian mencapai 108 juga dolar Hong Kong dengan modus serupa selama tahun 2017. Ini berarti jumlah korban penipuan dengan modus yang sama naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya sebanyak 114 kasus dengan total kerugian sebesar 95 juta dolar Hong Kong.

Menurut polisi, sebagian besar kasus adalah dengan modus percintaan online. Kebanyakan korban adalah perempuan, lebih dari 40 persen berusia antara 40  50 tahun.

Sumber lain menyebutkan, profesi para korban antara lain karyawan bank, pengacara, guru, perawat, dan salesmen atau saleswomen.

Penipu dengan modus percintaan online selalu menyasar korban lewat Facebook dan media online lainnya, demikian sumber.

Pada Oktober tahun lalu, polisi Hong Kong dan Malaysia membongkar sindikat yang berbasis di Kuala Lumpur. Dalam aksinya, sindikat berhasil memperdaya 48 perempuan Hong Kong dan satu orang pria di luar Hong Kong dengan total kerugian 29.5 juta dolar Hong Kong sejak Januari tahun lalu dengan modus percintaan online.

Pelaku kejahatan ini ini diduga adalah dua orang pria dan seorang wanita Nigeria yang beroperasi di Ibu Kota Malaysia. Di Hong Kong, polisi menangkap lima wanita lokal.

--- Simon Leya

Komentar