Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

OPINI "Didier dan Zlatko Jadi Inspirasi" (Ole-Ole dari Rusia) 16 Jul 2018 11:00

Article image
Didier Deschamps, pelatih yang barusan membawa Prancis menjuarai World Cup 2018. (Foto: Egypt Today)
Didier adalah pemimpin kami sejak remaja. Didier kapten kami sampai sekarang. Didier bekerja tidak setengah-setengah. Didier selalu bekerja 100%. Didier bekerja detail dan terperinci dalam semua lini.

Oleh Adrianus Dedy

 

INILAH judul tulisan yang saya angkat pagi ini sebagai refleksi sederhana atas Final World Cup 2018 semalam. Dalam satu harian di Prancis, Marcel Desaily (mantan bintang AC Milan dan Prancis) menulis dengan indah tentang rekan satu timnya di Piala Dunia 1998 (Didier Deschamps) yang barusan membawa Prancis menjuarai World Cup 2018 semalam. Tulisan itu dibuatnya setelah Prancis menembus Final World Cup 2018.

"Didier adalah pemimpin kami sejak remaja. Didier kapten kami sampai sekarang. Didier bekerja tidak setengah-setengah. Didier selalu bekerja 100%. Didier bekerja detail dan terperinci dalam semua lini. Saya tahu dia amat sedih ketika gagal mengangkat piala Euro 2016 di rumah kami sendiri. Semoga Didier mengangkat piala lagi bersama adik-adik kami," ungkapan Desaily mengamini kinerja rekannya semalam.

Dalam kaca mata pengamat sepak bola sejagat, Tim Prancis 2018 bukanlah tim yang bermain indah dan menarik seperti yang dilakukan seniornya di World Cup 1998 dan Euro 2000. Namun tim ini punya etos kerja yang efektif dan tanpa celah serta hampir sempurna di semua lini. Ini berkat kinerja pelatihnya yang bekerja total, detail dan terperinci.

Zlatko Dalic pelatih muda seumur dengan Didier Deschamps. Kinerja keduanya setara. Namun dalam perspektif yang berbeda, Zlatko membangun kepribadian tim. Konstruksi tim Kroasia adalah ekspresi kepribadian Zlatko sendiri yang sederhana, tenang, kerja keras, rendah hati, dan religius. Kualitas kepribadian tersebut menjadi passion Modric dan Rakitic dan kawan-kawan. Tak pelak, Kroasia tim yang lolos lewat play off dan dipandang sebagai tim unggulan kedua melaju jauh menembus final.

Kepribadian Zlatko yang selalu hadir di tengah anak didiknya menjadi sorotan kamera sepanjang perhelatan akbar World Cup 2018. Dialah satu-satunya pelatih yang tidak pernah duduk di bench. Dia berdiri sepanjang pertandingan mengikuti alur permainan timnya. Busana kemeja putih yang disisip rapi dalam celana hitam yang sederhana, dengan tangan melipat ke dada, sorotan wajah yang sangat tenang, postur yang cakep, anggun dan rendah hati membuat Modric dan Rakitic mendayung bola dengan sangat tenang dan penuh determinasi.

Setelah pertandingan Final semalam, ia memeluk pemainnya satu persatu, menenangkan mereka dengan berkata, "Jangan sedih, kalian harus tetap tenang, kalian harus bangga, kalian lebih hebat dari apa yang yang kami lakukan di World Cup 2002.Kalian telah menciptakan sejarah buat negaramu."

Perhelatan Akbar World Cup 2018 telah usai. Proficiat buat Perancis, Sang kampiun. Proficiat buat Kroasia yang telah menunjukkan dedikasinya yang luar biasa. Walaupun telah usai, namun yang tersisa adalah kinerja Didier dan kepribadian Zlatko yang menjadi ole-ole dari Rusia. Kualitas kinerja dan kepribadian dua pelatih muda ini menjadi inspirasi bagi kerja dan karya kita dalam nuansa profesi yang beraneka ragam. Selamat beraktivitas, selamat ber-sekolah adik-adik. Sampai jumpa Worl Cup 2022...

 

Penulis adalah pengamat sepak bola, alumus STFK Ledalero, Magister Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, sekarang dosen Universitas PGRI Palembang.

Komentar