Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL "Donald Trump" Jadi Nama Stasiun Kereta di Yerusalem 28 Dec 2017 11:48

Article image
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Tembok Ratapan, Yerusalem beberapa waktu lalu. (Foto: Yahoo.com)
Trump dipuji oleh negara Yahudi itu setelah mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Israel.

YERUSALEM, IndonesiaSatu.co – Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyetujui perpindahan ibu kota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem mendapat perlawanan di sebagian besar negara. Tapi tidak demikian dengan Israel.

Sebagai bentuk terima kasih kepada Trump, Israel akan menamai stasiun kereta api baru dekat Western Wall, yang juga dikenal sebagai Tembok Ratapan, di Yerusalem timur yang dicaplok, dengan nama Donald Trump. Demikian menteri transportasi negara itu.

Trump dipuji oleh negara Yahudi itu setelah mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Israel, tindakan mengubah kebijakan puluhan tahun Amerika Serikat yang melanggar hukum internasional dan memicu kecaman internasional.

Kantor Berita AFP sebagaimana dikutip Antara (28/12/2017) melaporkan, Menteri Israel Katz menyetujui sebuah rencana untuk memperpanjang jalur rel kereta api  berkecepatan tinggi yang sedang dibangun antara Tel Aviv dan Yerusalem ke daerah Yahudi, Jewish Quarter, di Kota Tua Yerusalem dan membangun sebuah stasiun di sebelah Western Wall menurut pernyataan kementerian.

Stasiun di dekat dengan situs paling suci tempat orang Yahudi diijinkan  beribadah itu akan dinamai "Donald John Trump" atas perintah menteri tersebut sebagai penghormatan atas  "keputusan bersejarah dan berani" tentang Yerusalem.

Jalur kereta api baru yang mencakup stasiun yang akan dinamai Trump itu akan mulai menghubungkan Tel Aviv dan Jerusalem tahun 2018, memangkas waktu tempuh menjadi kurang dari 30 menit.

Keputusan kontroversial Trump soal Yerusalem telah memicu unjuk rasa warga Palestina dan ditolak dalam resolusi Majelis Umum PBB yang tidak mengikat.

Israel merebut bagian timur Yerusalem -- termasuk Western Wall -- dalam Perang Enam Hari 1967 dan kemudian mencaploknya dalam sebuah tindakan yang tidak diakui oleh masyarakat internasional.

Western Wall, sisa terakhir kuil kedua Yahudi, berada di kaki kompleks Haram al-Sharif yang mencakup Masjid Al-Aqsa dan Masjid Kubah Batu, tempat paling suci ketiga bagi umat Islam.

Israel menganggap seluruh kota Yerusalem sebagai ibu kota mereka yang tak terbagi, dan warga Palestina memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka.

--- Simon Leya

Komentar