Breaking News

OPINI “Keindahan” Flores 28 Jan 2020 10:55

Article image
Danau Kelimutu yang terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. (Foto: The Jakarta Post)
Secara alamiah, Flores potensial. Flores dianugerahi keindahan alam, yang konon bersifat lokal dan unik.

Oleh Pater Sil Ule, SVD

 

PEMERINTAH tampaknya serius membangun industri pariwisata di Flores. Apa yang terpenting dari pariwisata? Semua tahu, pariwisata sebagian besar berkaitan dengan keindahan. Namun, keindahan macam mana?

Keindahan punya beberapa aspek. Pertama, keindahan alam; keindahan di alam. Kedua, keindahan artistik atau seni; “les beaux arts” kata orang Prancis.

Keindahan alam bersifat natural; hadiah Pencipta, menggambarkan kemurahan Tuhan. Keindahan artistik atau seni bersifat artifisial; karya tangan manusia; menggambarkan kejeniusan sang artis.

Cara mencerap keduanya juga berbeda. Keindahan alam bersifat sensitif, dicerap melalui alat indra. Keindahan artistik bersifat inteligibel; butuh penafsiran dan dicerap berdasarkan proses belajar. Karena itu, secara alamiah orang dapat menikmati indahnya matahari terbenam. Namun, untuk menikmati musik klasik, atau karya sastra, atau mengapresiasi lukisan Michaelangelo, orang butuh proses belajar.

Secara alamiah, Flores potensial. Flores dianugerahi keindahan alam, yang konon bersifat lokal dan unik. Komodo dan Danau Kelimutu, misalnya, bersifat lokal, artinya hanya ada di Flores, dan sekaligus satu-satunya di dunia. Banyak hal lain yang walaupun tidak unik, namun indah dan termasuk yang terbaik di dunia (seperti taman bawah laut di Labuan Bajo, Riung, Alor, atau Ena Bhara).

Namun, secara artistik, Flores lemah. Jika anda ke Bali dan saksikan bagimana kreatif dan berkelasnya seni yang dihasilkan masyarakat Bali, anda akan mengerti secara mendalam kata “tertinggal”. Kita perlu berpacu dalam soal ini, dan hal terbaik mengejar ketertinggalan pada hemat saya ialah melalui sekolah seni. Flores punya sekolah pariwisata, bahasa, sekolah filsafat, teologi, pertanian, dan sebagainya, namun mengabaikan hal yang esensial dari pariwisata yaitu keindahan artistik; jadi sekolah seni.

Selain keindahan alam dan seni, ketiga, keindahan budaya. Budaya menggambarkan jiwa masyarakat Flores, sekaligus kearifan lokal selama berabad-abad. Bagi kita orang Flores, budaya kita sendiri pasti terasa biasa-biasa, karena kita terbiasa dengannya. Namun, masyarakat luar melihatnya secara berbeda, karena baru bagi mereka. Di samping itu, para ilmuwan tentu memandangnya secara sangat bergairah, karena merupakan salah satu warisan kemanusiaan yang unik dan berharga. Hanya mungkin potensi kebudayaan ini dikemas secara lebih menarik tanpa mengubah esensi budaya. Siapa yang mesti mengemasnya? Ada para ahlinya. Soalnya sekarang, apakah ada kemauan politik, dan kreativitas pemerintah?

Namun, di antara semua keindahan tersebut, yang paling penting bagi kacamata amatir saya ialah keempat, keindahan mental spiritual. Pariwisata berkembang, jika terdapat sebentuk keindahan jiwa para penduduknya. Sebagai contoh, saat mengunjungi pedalaman Afrika, saya menemukan kampung yang hampir sama, dengan bentuk rumah yang hampir sama, dengan bentuk wajah yang hampir sama, dengan makanan (atau kekurangan makanan yang sama), dengan minuman yang sama. Namun, yang membuat perbedaan ialah kehangatan dan sambutan masyarakatnya. Ada kampung yang dengan senang hati saya kunjungi berkali-kali, walau medan yang sulit, karena masyarakatnya sangat bersahabat dan ramah. Namun, ada juga yang saya kunjungi karena kewajiban, karena masyarakat yang dingin dan acuh tak acuh. Jadi, keindahan spiritual, keramahan dan keterbukaan warga, ketulusan dan sikap apa adanya warga, justru menjadi daya tarik yang paling penting dalam pariwisata.

Kita memang bangga dengan keindahan alam Flores. Namun, di dunia ini banyak tempat yang jauh lebih indah. Karenanya, alam saja tidak cukup. Alam ditata, sebagai sebuah karya seni, dengan infrastruktur yang bukan asal jadi, tapi dibangun secara artistik. Kita juga perlu kembangkan keindahan artistik, karena Flores sangat tertinggal dalam soal ini, padahal jiwa seni bukan warisan genetik sebuah ras, tapi hasil dari pembelajaran dan pembiasaan budaya. Selanjutnya, kita punya budaya yang kaya, yang butuh penyesuaian dan sentuhan artistik.

Namun, bahkan jika alam, seni dan budaya sedemikian sempurna, Flores tidak akan maju tanpa keindahan jiwa para penduduknya; berupa keramahan, ketulusan, atau kebersihan yang terjaga. Mungkin juga keindahan spiritual diekspresikan dalam hal yang sangat remeh dan banal, dalam tata karma yang sering tidak diperhatikan; seperti tidak berebut koper penumpang, tidak buang sampah sembarangan, tidak merokok dalam bus (apalagi bus yang berisi para wisatawan), tidak membunyikan musik terlalu keras dalam kendaraan (beberapa kali saat di Flores, saya melihat wisatawan menjadi sangat tidak nyaman dan tampak sedikit marah karena musik yang terlalu keras), dan pelbagai hal sederhana, yang justru menunjukkan tingkat peradaban jiwa. Kita tampaknya jauh tertinggal dalam hal ini.

Kita kiranya baru mulai. Sebagai rakyat, kita hanya punya visi amatir. Kerja sesungguhnya di tangan para profesional dan ahli. Tentu diatur pemerintah yang baik, cerdas dan kreatif. Tanpa pemerintah yang baik, juga niat baik bersama untuk jadi lebih baik, kesejahteraan dan kemajuan mungkin baru tiba bersama kedatangan Kristus yang kedua.

 

Penulis adalah rohaniwan, misionaris, dosen STFK Ledalero, Flores, NTT

 

Komentar