Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

TAJUK (Mempertahankan) Sejarah Keindonesiaan 10 Aug 2017 12:58

Article image
Sejarah Keindonesiaan yang dahulu diperjuangkan para pejuang-pahlawan harus dipertahankan secara militan. (Foto: Ist)
Sejarah kita adalah sejarah nusantara yang tidak boleh disusupi oleh kepentingan ideologis religius-sekular, karena bertentangan dengan jati diri ke-nusantaraan Indonesia.

INDONESIA sebagai bangsa disatukan oleh pengalaman bersama. Soekarno, proklamator kemerdekaan Indonesia sekaligus pencetus Pancasila mengatakan dengan jujur: pengalaman yang mempersatukan Indonesia sebagai bangsa itu adalah pengalaman penderitaan.

Sejarah penderitaan mempersatukan kita sebagai bangsa. Penyiksaan, eksploitasi alam, monopoli dagang serta kerja rodi selama ratusan tahun mendorong leluhur kita berada dalam satu rasa bersama: rasa senasib dan sepenanggungan. Penderitaan itu tidak membangkitkan rasa putus asa, tetapi semangat untuk melakukan proses diskontinuitas (pemutusan) atas sejarah penindasan penjajah!

Dengan melakukan pemutusan, perjuangan membebaskan diri dari penjajahan saat itu termasuk bagian dari upaya melanjutkan rasa senasib itu dalam tekad kemerdekaan. Ada proses kontinuitas, pelanjutan dari imaji penderitaan yang dibangun untuk menggapai kemerdekaan.

Kita tahu setelahnya: diskontinuitas dan kontinuitas yang kemudian mendatangkan kemerdekaan Indonesia adalah bagian dari perjuangan dari rasa bersama. Keragaman Indonesia dipersatukan oleh tekad para pemuda dalam Sumpah Pemuda 1928 untuk bersatu dalam keanekaragaman menuju kemerdekaan Indonesia kekal dan abadi.

Perjuangan menggapai kemerdekaan Indonesia bukan adalah perjuangan golongan tertentu, agama tertentu, suku tertentu. Adalah imajinasi tentang kemerdekaan membuat orang meninggalkan komunitas kolektif dan ego kulturalnya lalu bersatu mengangkat bambur runcing dan menempuh jalur diplomasi politis untuk melawan penjajah.

Karena kemerdekaan kita menguras air mata dan darah, maka perjuangan kita setelah kemerdekaan harus disatukan oleh komitmen yang sama. Kita hadapi pihak-pihak yang hendak merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia kini dengan semangat kuat yang sama, dalam ingatan historis-aktual terhadap para pahlawan yang gugur di medan laga.

Perjuangan kita mempertahankan NKRI ini harus teguh dan tegap, termasuk di dalamnya militansi berhadapan dengan pihak-pihak yang hendak mengubah sejarah keindonesiaan. Sejarah kita adalah sejarah nusantara yang tidak mungkin dapat disusupi oleh kepentingan ideologis religius-sekular, karena bertentangan dengan jati diri ke-nusantaraan Indonesia.

Mungkin anjuran Bertrand Russel, pemikir ternama Inggris dapat menjadi awasan agar kita selalu waspada terhadap mereka yang dapat mengganggu sejarah ke-Indonesiaan kita: Kita memang harus mempelajari sejarah, tetapi lebih sering terjadi bahwa yang kita pelajari dari sejarah hanyalah kenyataan pahit bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar