Breaking News

RESENSI “Militer Yang Tidak Militan Dalam Berpikir” 11 Sep 2021 10:51

Article image
Cover buku karya Jenderal Agus Widjojo. (Foto: ist)
Jenderal Agus dan Jenderal Kiki adalah dua dari sedikit jenderal yang masih aktif menulis di media dan hadir dalam diskusi-diskusi publik.

Oleh Agustinus Tetiro

 

Judul                : Tentara Kok Mikir? Inspirasi Out of The Box Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo

Penulis             : Bernada Rurit

Penerbit           : KOMPAS (ISBN: 978-623-346-189-4) (ISBN PDF: 978-623-346-190-0)

Tahun              : 2021

Tebal               : xx + 420 (440 hlm.); 15cm x 23 cm

 

Buku dengan judul utama “Tentara kok Mikir?” mungkin oleh kebanyakan orang adalah sebuah judul yang biasa dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Manusia adalah makhluk berakal budi, yang tentu saja bisa berpikir. Tentara adalah manusia, yang mempunyai akal budi dan tentu saja juga bisa berpikir. Lalu, kenapa tentara kok mikir?

Berpikir sebagai sebuah aktivitas otak dalam arti mengintensikan sesuatu untuk dipikirkan adalah kegiatan yang mudah. Gampang saja. Sebelum mengenakan pakaian, kita berpikir mana bagian depan dan belakang dari pakaian. Mana kaos kaki dan mana masker. Untuk tentara misalnya, mana senjata dan mana ransel. Dan lain-lain. Akan tetapi, berpikir sebagai  disiplin dan seni lain perkaranya. Berpikir sebagai disiplin dan seni yang dimaksud bisa kita peroleh dari buku ini.

Berpikir untuk seorang tentara seperti Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo adalah suatu pilihan dan ziarah hidup yang menantang: kadang melelahkan, kadang menyemangati, seringkali menyibak ketersingkapan fakta tertentu, melahirkan kekaguman dan mengoptimalkan modal dasar manusia, akal budi. Hidup sang jenderal adalah rangkaian dari proses berpikir dalam artinya yang paling luas: kontemplatif, argumentatif, kreatif, transformatif, yang mungkin yang paling khas: aplikatif. Dalam testimoni Gita Wirjawan di dalam buku ini: “Setelah mendengar, diskusi bahkan berdebat, beliau langsung follow up

Buku ini dibuka dengan suatu kisah hidup yang menampilkan kekejaman. Tragedi 1965. Agus kecil, anak tentara yang serentak anak Menteng, mendengar derap sepatu lars di pagi buta, 1 Oktober. Ayahnya diambil paksa. Itulah kisah yang membekas, yang jika salah dikelola mungkin akan menciptakan trauma yang fatal. Tetapi, tidak bagi Agus, yang mengelolanya sendiri dalam berdiam, dalam berpikir, dalam berdoa, untuk tetap menjadi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia. Dengan pengalaman ini, kita mungkin bisa menerima bahwa tentara pengagum Jenderal Sudirman ini memilih untuk berpuasa pada setiap hari ulang tahunnya.(hlm.164)

Setelah bab pembuka yang menggoda rasa ingin tahu kita itu, buku ini kemudian menyajikan sebelas bab dengan gaya yang sangat naratif. Mengisahkan hidup sang jenderal dan menyajikan kesaksian banyak orang tentang tentara kita ini. Kebanyakan kesaksian bisa dirangkum dalam dua hal. Pertama, Jenderal Agus dalam pemikir yang disiplin dan berintegritas. Kedua, sang jenderal mempunyai selera humor yang tinggi. Kita ingat psikolog terkenal Abraham Maslow pernah mengatakan, orang cerdas cenderung memiliki rasa humor yang baik. 

Sejak kecil, Agus Widjojo sudah mengenal dunia dalam arti yang luas, ruang geografis. Agus menghabiskan masa kecil di salah satu kota termodern di dunia, London. Karena itu, saat masa kecil, bahasa Indonesianya terbata-bata. Masa remajanya sebagai anak Menteng, Jakarta, dikisahkan dengan penuh semangat. Juga, tentang masa-masa taruna di Lembah Tidar, Magelang.

Masa sekolah dan penugasan-penugasan berikutnya banyak ditempuh di luar negeri, terutama di Amerika Serikat. Mungkin karena itu, Agus dituduh “Amerika Banget”. Wakil KSAD 2000-2002, Letjen TNI (Purn.) Kiki Syahnakri malah mengatakan, “Jangan-jangan Dia Proxy-nya Amerika” (hlm.363). Di masa sekolah dan penugasannya ini, ada banyak prestasi yang diperoleh. Satu yang menarik, Agus bercerita tentang dirinya yang juara menulis, menjadi penulis pidato, hingga menulis buku (hlm. 116-120). Bagi Agus, pendidikan di luar negeri telah mengajarkannya satu hal paling penting: pembelajaran dua arah. Inilah bibit awal proses demokratisasi.

Berturut-turut buku ini kemudian membahas tentang keluarga sang jenderal yang penuh iklim intelektual, kisah cinta masa mudanya yang tidak mainstream, kegiatannya di luar hidup ketentaraan yang kebanyakan mengisi komunitas-komunitas pemikir, kisah rekonsiliasi tragedi 1965, pemikiran-pemikiran sang jenderal, Lemhannas di bawah kepemimpinannya, hubungannya dengan generasi milenial dalam revolusi 4.0, dan ditutup dengan kesaksian-kesaksian sejati dari berbagai kalangan dari mantan atasan, teman hingga wartawan.

Kisah hidup sang jenderal pengagum klub sepak bola Manchester United (MU) ini adalah cerita tentang seorang anak manusia yang, by nature, dipersiapkan dan mempersiapkan dirinya untuk menjadi anggota kaum intelektual atau seorang akademisi. Agus kecil mendengarkan musik klasik dari Mozart, membaca Chairil Anwar dan sastra secara luas (hlm.27-28). Agus mencintai buku dan ilmu pengetahuan. Mungkin karena itu, Agus menjadi tidak suka ikut arus. Tamat dari SMA, ketika teman-temannya memilih Universitas Indonesia (UI), Agus memilih kuliah ekonomi di Universitas Bung Karno, dan belum berpikir tentang menjadi tentara.

Pun pula, ketika menjadi tentara, kecintaannya pada buku dan critical thinking tidak ditinggalkan begitu saja. Bahkan, jenderal kita ini menyabet beberapa gelar master dari Amerika Serikat. Master of Military Arts and Science (MMAS) di US Army Command and General Staff College Forth Leavenworth, AS (1988). Master of Science in National Security (MScNS) di National Defense University, Forth Myers, Washington DC, AS (1994), dan pada waktu yang sama menyelesaikan Master of Public Administration (MPA) di George Washington University, Washington DC, AS (1994). (hlm.125).

Kecintaannya pada dunia akademik dan ilmu pengetahuan memang tidak pernah lekang. Sang jenderal menjadi dosen di beberapa tempat belajar terhormat di dalam dan di luar negeri. Beberapa mahasiswa menjadi pemimpin di berbagai lembaga. Agus juga menjuarai lomba menulis dan riset. Selain menjadi pembaca yang tekun, pelanggan Tempo, Kompas dan Femina ini juga adalah pemimpin yang inspiratif. Dua mantan bawahannya kemudian berturut-turut menjadi Menteri Pertahanan dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo. (Lihat hlm.84)

Seperti mengamini kata-kata para bijak bestari today a reader tomorrow a leader, Agus Widjojo kemudian menerima banyak kepercayaan dalam level kemepimpinan mulai dari lingkungan tentara hingga publik umum seperti MPR, Lemhannas hingga berbagai badan dan yayasan yang penting.

Gita Wirjawan menggambarkan dengan tepat figur sang jendral yang menjalankan tugas “demokratisasi ide” (hlm.360). Orang yang suka membaca berbagai hal dari sejumlah matra pengetahuan dan mempunyai pikiran terbuka pada kritik, diskusi dan debat tentu saja mempunyai cara berpikir yang demokratis. Sang tentara kita ini ternyata menghidupi demokrasi dalam pikirannya dan mulai dari rumahnya, dalam kebersamaan dengan istri dan anak-anaknya. Ayah dua anak perempuan ini tidak pernah memaksakan ide.

Puteri sulungnya menulis: “Peran papa menjadikan saya perempuan moderat…. Sikap tertutup mengenai pangkat dan jabatan kepada anak-anak, ‘agar tidak menambah kebanggaan yang tidak perlu yang dikhawatirkan berpengaruh terhadap perilaku mereka. Toh jabatan berada dalam domain profesional pekerjaan” (hlm.139). Kita melihat suatu contoh kebijaksaan yang hidup, dibandingkan dengan berbagai lagak anak jenderal yang kadang kurang terpuji.

Begitu juga dengan kesaksian simpatik puteri bungsunya, “Bapak Sosok yang Egaliter… kami jarang bergaul dengan keluarga militer lain. Saya pun jarang tinggal di kompleks militer. Di Bandung, saya tinggal di perumahan biasa, jadi we are civilians…” (hlm.141).

Membaca buku ini sebenarnya mempertemukan kita kepada suatu paradoks. Militer berasal dari kata bahasa Latin militia yang berarti: perjuangan. Kita menemukan kata ‘militan’ yang kurang lebih berarti: tidak mudah menyerah. Dalam konteks berpikir, menjadi militan kadang mengandung arti agak negatif. Seseorang yang berpikir militan biasanya tidak kritis. Dia akan mematok suatu tujuan, kemudian melakukan rasionalisasi sebisa-bisanya agar apa yang diimpikannya bisa terwujud. Ada kekerasan serebral dan pemaksaan dalam berpikir secara militan.

Hal itu tentu saja tidak ditemukan dalam diri seorang militer pemikir seperti Jenderal Agus. Dalam debatnya dengan Jenderal Kiki Syahnakri tentang pembubaran Komando Teritorial, Jenderal Agus menerima perbedaan pendapat serentak tetap bersahabat dengan sesama tentara. Di sini kita temukan demokratisasi ide. Itulah yang khas dari para jenderal kebanggaan bangsa ini, yang tentu saja harus menjadi inspirasi bagi banyak tentara lain. Jenderal Agus dan Jenderal Kiki adalah dua dari sedikit jenderal yang masih aktif menulis di media dan hadir dalam diskusi-diskusi publik.

Buku ini layak dibaca secara luas. Gayanya yang naratif dan isinya yang inspiratif bisa menjadi teman pengisi waktu yang baik bagi kita: untuk menjelajah kisah hidup salah satu jenderal yang paling suka berpikir secara disiplin, seni dan serentak humanis ini. Semoga!

 

 

Penulis adalah Admin Grup Wartawan NTT Dunia.

Komentar