Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

RESENSI 1.001 Pertanyaan Tentang Kepemimpinan Politik 13 Mar 2016 10:52

Article image
Cover Buku “Wawasan Kepemimpinan Politik, Perbincangan Kepemimpinan di Ranah Kekuasaan” karya M. Alfan Alfian. (Foto: IndonesiaSatu.co).
Membaca buku ini niscaya membuka wawasan kita karena menghadirkan pemikiran para filsuf, negarawan, dan politisi di seluruh belahan dunia. Buku ini layaknya disebut sebuah “ensklopedi kepemimpinan politik”.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Mengapa yang dibahas buku ini pemimpin dan kepemimpinan, bukan elit dan keelitan? Konteksnya lain (berbeda). Sebagaimana kepemimpinan dan kemanajemenan, keelitan dan kepemimpinan meninggalkan sejumlah perbedaan, bahkan secara substansi. Nanti Anda akan sampai pada semacam kesimpulan bahwa elit itu sekadar pimpinan, yang belum tentu pemimpin. Pimpinan dan pemimpin itu berbeda. Perbedaannya apa, dapat dijawab dengan menjelaskan perspektif dan kepemimpinan.

Lantas, apa yang dimaksudkan dengan kepempinan politik? Kepemimpinan (politik) dapat dipahami dalam tiga perspektif: 1) kepemimpinan sebagai pola perilaku; 2) kepemimpinan sebagai kualitas personal; 3) kepemimpinan sebagai nilai politik. Sebagai pola perilaku, kepemimpinan terkait sekali dengan kemampuan untuk mempengaruhi yang lain dalam mengupayakan tujuan yang diharapkan. Kata kuncinya influence atau pengaruh.

Inilah dua contoh pertanyaan sekaligus jawaban dalam buku “Wawasan Kepemimpinan Politik, Perbincangan Kepemimpinan di Ranah Kekuasaan” karya M. Alfan Alfian, terbitan PT Penjuru Ilmu Sejati, yang baru saja keluar dari percetakan.

Buku setebal 679 halaman ini terbilang unik. Pasalnya, penulis menggunakan metode tanya jawab. Penulis sendiri yang bertanya, dan kemudian mengurai jawabannya. Penulis, yang juga dosen ilmu politik di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta ini mengaku metode tanya jawab terinspirasi pada teknik propaganda politik Tan Malaka. Teknik tanya jawab, menurut peraih doktor Ilmu Politik dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini, digunakan sekadar untuk mempermudah pembaca. Karena ditulis secara tanya tanya jawab, maka buku ini bersifat ulang alik: bisa dibaca para pembesar politik maupun siapa saja. Dengan tanya jawab, sejauh mungkin penulis berbicara dengan bahasanya untuk menjelaskan banyak hal secara sederhana dalam kemasan enteng-entengan. Ini dilakukan agar membaca buku ini bisa dilakukan sambil ongkang-ongkang (Hal.74).  

Namun, kemasan tanya jawab agar bisa membacanya secara enteng tidak dimaksudkan bahwa kepemimpinan politik itu sebuah ilmu yang enteng-entengan, apalagi tidak penting. Buku ini justru sangat penting dan relevan. Betapa tidak, di antara belantara buku yang hadir, tema kepemimpinan (politik) masih sangat kurang, bahkan sangat jarang digarap.

Politik dan kekuasaan seperti dua sisi dari satu mata uang yang sama. Seseorang yang menempuh jalan hingar-bingar politik, mustahil tidak mengimpikan kekuasaan. Kekuasaan itu memesona, sehingga orang mengejarnya habis-habisan, termasuk menghalalkan segala cara. Orang sering lupa bahwa kekuasaan itu bukan tujuan, tapi hanya alat untuk mencapai tujuan akhir yaitu kesejahteraan rakyat. Jadi, kekuasaan hanya tujuan antara atau jangka pendek. Ketika kekuasaan menjadi tujuan akhir, maka tidak heran jika seseorang yang empunya kuasa itu jatuh terjerembab. Kekuasaan sering membuat orang lupa diri.

Agar kekuasaan tidak justru menjerumuskan seseorang, maka dibutuhkan pengelola sekaligus pemandu dan pengendali. Pengendali itu disebut dengan kepemimpinan. Kepemimpinan bukan sekadar relasi antara pemimpin (leader) dan yang dipimpin (follower), tetapi upaya membimbing anggota (yang dipimpin) mencapai tujuan bersama (hal. 130). Pada titik ini, peran kepemimpinan sangat sentral dan penting. Pemimpin dan kepemimpinan akan membuat politik itu menjadi sebuah seni, sekaligus menjadikan kekuasaan yang dimiliki bisa berjalan efektif. Sebaliknya, tanpa kepemimpinan, politik hanya akan menjadi intrik dan nafsu berkuasa yang saling membunuh, dan kekuasaan akan berubah menjadi tiran.

Buku ini terbagi dalam empat (IV) bagian. Bagian I (Pendahuluan) berisi tanya jawab tentang Kepemimpinan Politik, Mengapa Menarik?

Bagian II buku ini menjawabi pertanyaan seputar Kepemimpinan. Penulis juga mengulas tentang perbedaan pemimpin dan manajer. Selain itu, ada bahasan tentang gaya kepemimpinan dan jenis-jenis kepemimpinan. Bagian III buku ini berisi tanya jawab tentang kekuasaan, sedangkan bagian IV membahas tentang manajemen kepemimpinan politik. Bagian ini berisi semacam “panduan praktis” meraih kekuasaan politik karena membahas tentang strategi dan pemasaran politik. Bagian ini juga mengulas tentang urgensi mengelola kekuasaan, baik pada saat sebelum (pra), saat, dan pasca-berkuasa. Buku ini ditutup dengan renungan penulis tentang “Jalan Sunyi” seorang pemimpin. Mengapa harus jalan sunyi? Karena memimpin itu menderita. Memimpin itu tanggung jawab, memimpin itu memotivasi. Memimpin itu mengelola kekuasaan yang dimiliki.

Mengapa kekuasaan itu harus dikelola? Mengutip Guru Besar Filsafat STF Driyarkara, Jakarta, Franz Magnis Suseno, “sejak semula, kekuasaan selalu berwajah dua: sekaligus mempesona dan menakutkan”. Di tangan pemimpin, dan melalui kepemimpinan, kekuasaan muncul dalam wajah yang mempesona. Sebaliknya, di tangan pimpinan, kekuasaan bisa muncul dalam wajah yang menakutkan.

Membaca buku “Wawasan Kepemimpinan Politik” ini niscaya membuka wawasan kita karena menghadirkan pemikiran para filsuf, negarawan, dan politisi di seluruh belahan dunia. Buku ini layaknya sebuah “ensklopedi kepemimpinan politik” karena kaya referensi.

Sudah saatnya para politisi, pemegang kuasa, dan mereka yang tertarik terjun ke dunia politik untuk membaca buku ini. Melalui kepemimpinan politik, kekuasaan bisa dikelola secara baik dan politik akan menjadi jalan yang penuh makna karena menghadirkan kebaikan bagi sesama (bonum commune).

--- Very Herdiman

Komentar