Breaking News
  • Divestai Tuntas, Freeport Ganti Status Menjadi IUPK
  • IHSG menguat menyusul akumulasi beli investor asing
  • Jawa Barat diantisipasi dalam Pemilu 2019 karena miliki pemilih paling banyak
  • Libur Natal 2018, 71 Outlet BNI Tetap Beroperasi
  • Menperin: industri tak terdampak tsunami Selat Sunda

REGIONAL 10 Suku Asli Indonesia yang Terancam Punah 07 Jan 2019 11:07

Article image
Satu keluarga Suku Anak Dalam. (Foto: Youtube)
Suku Baduy adalah suku yang menetap di kawasan hutan Kabupaten Lebak, Banten, sama sekali tak mau menggunakan peralatan modern, termasuk tak boleh menaiki sepeda motor dan mobil.

INDONESIA dikenal sebagai negara dengan beragam suku bangsa. Setidaknya ada lebih dari 1.000 suku bangsa dengan 1000-an bahasa yang mendiami sekitar 17.000 pulau yang ada di Nusantara. Namun sayangnya, pembangunan dan perkembangan dunia modern saat ini banyak merusak kelestarian budaya suku asli tersebut, terutama kelompok-kelompok yang tinggal di hutan.

Berikut ini suku asli Indonesia yang terasing dan terancam punah seperti dikutip dari Kamuharustahu

  1. Suku Anak Dalam (Jambi)

Masyarakat suku ini disebut juga dengan panggilan Orang Kubuatau Orang Rimbo. Mereka bermukim di dalam hutan di kawasan Provinsi Jambi berupa kelompok-kelompok yang suka berpindah-pindah. Jika ada salah seorang anggota keluarga mereka yang meninggal, maka Suku Anak Dalam ini akan pindah ke tempat yang baru. Saat ini, mereka terancam punah, karena semakin banyaknya hutan yang diratakan jadi kawasan pemukiman atau industri.

  1. Suku Dani (Papua)

Anggota Suku Dani mendiami wilayah di Lembah Baliem, Pegunungan Tengah, Papua. Suku ini sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu, dan saat ini tradisi perang mereka menjadi salah satu acara kebudayaan yang sangat ditunggu-tunggu para turis asing, dengan nama Festival Lembah Baliem. Meski gaya hidup modern sudah mulai memengaruhi, namun masyarakat suku ini masih mengenakan pakaian tradisional ‘koteka’ dan hidup di gubuk ‘honai-honai’.

  1. Suku Baduy (Banten)

Suku Baduy terbagi atas Suku Baduy Luar dan Suku Baduy Dalam. Di antara keduanya, Suku Baduy Luar dikenal lebih keras dalam menjaga adat istiadat mereka. Anggota suku yang menetap di kawasan hutan Kabupaten Lebak, Banten ini sama sekali tak mau menggunakan peralatan modern, termasuk tak boleh menaiki sepeda motor dan mobil. Hingga kini, populasi suku yang dikenal juga dengan nama Suku Kenekes ini tersisa sekitar 8.000 orang.

  1. Suku Laut (Kepulauan Riau)

Disebut juga dengan Orang Selatatau Orang Laut, mereka terdiri atas berbagai kelompok yang bermukim di pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau, mulai dari Lingga, Batam, hingga Semenanjung Malaya bagian selatan. Menurut sejarah, orang-orang Suku Laut dulunya merupakan perompak, namun berperan penting untuk Kerajaan Sriwijaya, serta Kesultanan Malaka, dan Johor. Mereka menjaga selat-selat dan mengusir bajak laut.

  1. Suku Korowai (Papua)

Ditemukan keberadaannya sekitar 30 tahun yang lalu di pedalaman Papua, Suku Korowai memiliki populasi sekitar 3.000 orang. Masyarakat suku ini hidup di rumah-rumah pohon yang disebut RumahTinggi, dengan ketinggian mencapai 50 meter dari permukaan tanah. Uniknya, dari sekia banyak suku asli di daratan Papua, orang-orang Suku Korowai menjadi salah satu suku yang sama sekali tidak menggunakan ‘koteka’, seperti rakyat SukuDani.

  1. Suku Sakai (Riau)

Orang-orang Suku Sakai disebut-sebut dulunya merupakan penduduk Kerajaan Pagaruyung, Minangkabau, yang melakukan migrasi ke kawasan rimba belantara yang kini masuk wilayah Kabupaten Siak, Riau. Mereka menjadi komunitas asli di pedalaman daratan Riau, namun selalu hidup berpindah-pindah di hutan. Sayangnya, kini Suku Sakai termasuk salah satu suku asli Indonesia yang terasing dan terancam punah, karena hutan-hutan terus dieksploitasi.

  1. Suku Kajang (Sulawesi Selatan)

Sekitar 200 km dari kota Makassar, Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Bulukumba, hiduplah masyarakat Suku Kajang. Mereka sangat mudah dikenali, karena selalu berpakaian serba hitam dan tak pernah menggunakan alas kaki. Orang-orang Suku Kajang memang sangat kuat memegang adat istiadatnya. Bahkan, mereka juga patuh untuk tidak mengambil hasil alam dari Hutan Karanjang yang dikeramatkan oleh nenek moyang mereka sejak dulu.

  1. Suku Togutil (Maluku Utara)

Di Taman Nasional Aketajawe-Lolobata, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, ada pula komunitas etnis yang hidup di hutan-hutan secara nomaden. Mereka adalah Suku Togutil, yang dikenal dengan nama Suku Tobelo Dalam. Masyarakat suku ini pun terancam punah, karena aktivitas pertambangan yang terjadi di sekitar hutan. Saat ini, hanya ada sekitar 42 keluarga SukuTogutil di perairan Sungai Dodaga, hutan Totodogu dan Lolobata.

  1. Suku Polahi (Gorontalo)

Dianggap lebih primitive dari suku asli lainnya di Indonesia, masyarakat Suku Polahi memang lebih jauh tertinggal. Mereka diketahui belum mengenal pakaian, agama, bahkan juga hari. Orang-orang suku yang ditemukan di pedalaman hutan Boliyohato, Gorontalo ini pun masih hidup berpindah-pindahdari satu hutan ke hutan yang lain dengan cara berkelompok. Namun, keberadaan mereka juga terancam punah, karena makin banyak penebangan hutan.

  1. Suku Bauzi (Papua)

Lembaga misi dan bahasa Amerika Serikat, Summer Institute of Linguistics (SIL) memasukkan SukuBauzi di Papua ini dalam daftar 14 suku paling terasing. Badan Pusat Statistik (BPS) Papua juga memasukkan mereka ke dalam daftar 20 suku terasing yang telah teridentifikasi. Saat ini, mereka yang juga disebut orang Baudi itu hidup di hutan belantara, pegunungan, dan lembah di kawasan Mamberamo, yang membuatnya tak tersentuh peradaban modern.

 

            --- Elisabeth Sylvie

Komentar