Breaking News

PENDIDIKAN 50 Tahun STFK Ledalero, Jerry Gatum: Setia kepada Filsafat dan Teologi 21 Feb 2019 22:51

Article image
Alumni STFK Ledalero, Jerry Gatum. (Foto: Ist)
Mempelajari para filsuf tidak sekadar mengutip para filsuf; pandai melontarkan jargon yang juga tidak dielaborasi secara kritis. Sejatinya, filsafat membantu untuk selalu berfilsafat: mencintai kebenaran dan kebijaksanaan.

SEKOLAH Tinggi Filsafat Katolik Ledalero (STFK) merayakan 50 tahun berdirinya atau 50 tahun pesta emas yang akan berpuncak pada September 2019. Hingga kini, salah satu lembaga pendidikan berprestasi dari wilayah Indonesia Timur ini telah menghasilkan ratusan alumni yang berkarya di seluruh benua di dunia, dan ribuan alumni yang berkontribusi di Indonesia.

STFK Ledalero merupakan peningkatan dari Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, yang didirikan oleh Serikat Sabda Allah (SVD: Societatis Verbi Divini) sebagai tindak lanjut atas ensiklik Maximum Illud Paus Benediktus XV 30 November  1919. Pada bulan Januari 1969, Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Katolik (STF/TK ) Ledalero secara resmi berdiri sebagai salah satu bagian dari “Seminari Tinggi St. Paulus” Ledalero.

STFK Ledalero pada awalnya didirikan untuk mendidik dan membina calon Pastor Katolik. Namun dalam perkembangannya, lebih banyak alumni Ledalero berkarya sebagai anggota masyarakat. Tercatat ribuan alumni Ledalero berkarya di masyarakat, entah profesi di bidang birokrasi, politisi, pebisnis, pengajar, dosen, wartawan,  dan lain-lain.

Maka sebagai wujud kebanggaan dan terima kasih, alumni Ledalero se-Jabodetabek terpanggil untuk merayakannya. Terdapat berbagai kegiatan yang dilakukan. Salah satu yang akan digelar alumni adalah misa syukur dan pertemuan bersama alumni Ledalero se-Jabodetabek yang akan dilangsungkan di Aula Paroki Santo Yosef Matraman, Sabtu (23/2/2019).

Redaksi IndonesiaSatu.co pada Sabtu, (16/2/2019) mewawancarai Alfonso Murtanto Gatum, alumni STFK Ledalero yang kini berkarya sebagai pengajar di sekolah internasional, Jakarta. Jerry Gatum, dikenal juga menulis opini di The Jakarta Post, Pos Kupang, Flores Pos. Tulisannya juga pernah diterbitkan di jurnal filsafat dan humaniora. Pada Sabtu, (16/2/2019), Redaksi IndonesiaSatu.co (selanjutnya di singkat RI), mewawancarai Jerry Gatum (Selanjutnya JG) terkait kegiatan para alumni tersebut.

 

RI: Tahun ini STFK Ledalero merayakan 50 Tahun berdirinya. Alumni STFK Ledalero se-Jabodetabek turut berpartisipasi dengan melakukan sejumlah kegiatan, salah satunya temu alumni yang dilaksanakan di Jakarta, Sabtu (23/2/2019). Apa alasan atau latar belakang pertemuan alumni tersebut?

JG: Pertama, pertemuan ini dilatari kerinduan untuk bersama-sama melakukan konsolidasi terhadap para alumni STFK Ledalero di wilayah Jabodetabek. Para alumni ini datang dari generasi yang berbeda. Fakta beda generasi ini membuat para alumni dari satu generasi tidak (atau, kurang) mengenal para alumni yang berasal dari generasi yang berbeda. Kesenjangan antargenerasi ini tidak terhindarkan. Kompleksitas dan intensitas kehidupan di ibu kota juga membuat soal "tidak saling mengenal" ini semakin serius. Mungkin saja, fakta "tidak saling mengenal" ini dianggap sebagai normalitas. "Ini bukan masalah". "Toh, kita sudah tidak di STFK Ledalero lagi. "Kita sudah memiliki kehidupan masing-masing." Ada banyak argumentasi yang bisa dipakai untuk membenarkan hal ini.

Walaupun fakta ini bisa dianggap 'normal', usaha untuk melakukan konsolidasi lahir dari keinginan untuk 'bersama menguatkan’ satu sama lain, persis seperti yang termaktub dalam etimologi 'konsolidasi'. Saat dunia sekarang ini dicirikan oleh kolaborasi, jejaring (network), interkonektivitas, dan diinspirasi oleh tradisi STFK Ledalero yang menekankan komunitas, konvivialitas, serta solidaritas, pertemuan alumni ini sesungguhnya hanya menggarisbawahi pentingnya hal-hal di atas dalam kehidupan manusia dewasa ini. Saat kompleksitas dan intensitas kehidupan di metropolitan bisa menarik orang ke arah individualisme dan egosentrisme (hal-hal ini tidak niscaya buruk dalam dirinya), pertemuan alumni ini bertujuan untuk menarik masing-masing orang keluar dari 'cangkang', domain pribadi dan melangkahkan kaki masuk dalam satu momen 'ada bersama yang lain'. Di sini, 'yang lain' itu adalah para sama saudara, bukan karena hubungan darah atau genealogi, melainkan karena satu pengalaman kolektif yang, diakui atau tidak, signifikan membentuk identitas kita saat ini: belajar di bukit Ledalero.

Dalam studi selama 79 tahun, yang dilakukan para peneliti Harvard, untuk menjawab satu pertanyaan eksistensial "Apa yang membuat orang bahagia?", ditemukan bahwa ada satu kunci kebahagiaan.Kunci kebahagiaan itu terdengar trivial: relasi. “Yang mengejutkan ialah relasi-relasi yang kita bangun dan seberapa bahagianya kita dalam relasi-relasi tersebut sangat berpengaruh besar terhadap kualitas kesehatan kita. Menjaga atau merawat tubuh itu penting, namun menjaga relasi itu adalah juga satu tindakan merawat tubuh (self-care). Saya berpikir, di situlah revelasi yang mengejutkan,” demikian ungkap Robert Waldinger, direktur studi ini.

Ada beberapa hal yang bisa ditarik dari studi ini. Pertama, pentingnya "Menghidupkan dan memperkuat relasi dengan keluarga dan teman-teman lama". Pertemuan alumni ini berlatarbelakangkan semangat untuk mempertemukan para saudara, teman-teman lama. Benar, para alumni yang datang tidak berasal dari generasi yang sama; tidak semua kita mengenal satu sama lain dan menganggap satu sama lain sebagai 'teman-teman lama'. Namun, kita melihat fondasi yang satu dan sama itu: bukit yang lebih tua dan lebih 'lama' dari kita semua itu menjadikan kita semua saudara dan teman. Sekolah yang berdiri di bukit itu adalah elemen 'lama' yang mengikat dan menyatukan perbedaan-perbedaan aktual yang kita miliki, dan menjadi alasan kita memanggil satu sama lain 'saudara' dan 'teman'.

Kedua, pentingnya “Membangun relasi yang baru dan positif.”. Pertemuan ini menjadi kairos, saat berahmat, untuk membangun relasi-relasi baru. Para saudara yang datang dari generasi yang berbeda, yang belum mengenal satu sama lain, yang selama ini sibuk dengan dinamika kehidupan masing-masing, kini memiliki kesempatan untuk membangun relasi-relasi baru dengan para saudara yang baru dijumpai. Relasi baru ini pun unik: ia dibangun di atas fondasi yang kokoh dan tak terbantahkan, yaitu pengalaman melewatkan satu masa hidup di bukit yang masih berdiri tegak hingga hari ini. Bukit yang satu mengikat kita yang berbeda; bukit yang sama menyatukan kita dalam rantai relasi yang tidak terputuskan.

RI: Apa maksud dari pertemuan ini?

Pertemuan ini bermaksud untuk menggalang aksi bersama yang bisa dibuat para alumni untuk menunjukkan cinta dan apresiasi terhadap STFK Ledalero yang akan merayakan 50 tahun emas pada 2019 ini. Tentu saja, setiap orang bisa menunjukkan cinta dan apresiasi itu secara perorangan, tanpa harus terlibat dalam kegiatan bersama. Namun, menambah pertimbangan yang sudah diberikan sebelumnya, peribahasa Afrika berikut layak dipertimbangkan sebagai ratio fundamentalis dari urgensi kegiatan bersama ini: "Jika kamu hendak berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika kamu hendak berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama" (If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together). Tak dapat disangkal, kegiatan bersama ini bisa menjadi modal bagi kita semua dalam merencanakan perjalanan-perjalanan jauh lainnya di masa depan.

RI: Apa pandangan alumni terhadap STFK Ledalero? Atau sekurang-kurangnya pandangan Anda terhadap STFK Ledalero yang merayakan 50 tahun?

JG: Saya tidak bisa mewakili para alumni dengan pluralitas pandangan tentang STFK Ledalero. Tentu saja masing-masing orang membangun pendapat berdasarkan memori atas pengalaman yang pernah dialami di sana. Namun, secara pribadi, saya merasa bahwa pandangan saya berikut ini tentang STFK Ledalero juga disepakati alumni lain, walaupun terdapat nuansa di sana-sini.

Bagi saya, STFK Ledalero adalah 'ibu yang baik', 'ibu yang memberi makan' (salah satu arti harfiah 'alma mater') para penghuninya. Makanan yang diberikan itu bisa saja berbeda untuk setiap orang. Namun, secara umum, filsafat dan teologi adalah 'makanan sehat' yang telah menguatkan orang-orang yang pernah menempuh pendidikan di sini. Sepertinya halnya makanan yang dikonsumsi setiap hari penting bagi metabolisme biologis manusia, 'makanan filsafat dan teologi' yang pernah 'disantap' di Ledalero juga turut membentuk dan menunjang 'metabolisme' para alumninya. Kalau makanan fisik menunjang metabolisme biologis yang bersifat kimiawi dalam tubuh, 'makanan filsafat dan teologi' berjasa membangun dan menunjang 'metabolisme' lain dalam diri para alumni: spiritual, moral-etis, sosial, psikologis, intelektual.

Benar, orang 'hanya' belajar filsafat dan teologi. "Itu kan ilmu yang abstrak, tidak praktis." Klaim ini familiar dan masih terdengar, bahkan dari mereka yang pernah belajar filsafat dan teologi. Filsafat dan teologi mungkin terlihat kurang 'marketable' ketika kita bertarung di pasar kerja. Belajar filsafat dan teologi mungkin kemudian membuat orang kurang percaya diri sebab kemudian merasa tidak memiliki kompetensi praktis yang spesifik dalam era yang kian menuntut spesialisasi dan profesionalitas di bidang tertentu. Bagi saya, secara pribadi, filsafat dan teologi tetaplah dua ilmu yang relevan di abad ini. Orang tetap direkomendasikan untuk terus belajar dan menggumuli filsafat dan teologi. Kenapa?

Dunia saat ini ditandai oleh ketersediaan dan aksesibilitas informasi yang luar biasa besar. Informasi yang demikian masif, yang dibarengi dengan aksesibilitas yang mudah terhadap informasi di abad digital ini, secara langsung mempengaruhi kehidupan kita. Informasi yang masif itu mempengaruhi minat, selera, preferensi, pilihan, ideologi, sikap, gaya hidup dan dimensi-dimensi lain kehidupan kita. Filsafat mungkin terlihat sebagai satu elemen kecil dalam kompleksitas hal-hal yang disebutkan di atas, namun dia selalu mampu menjadi wahana yang membuat kita "setia terbuka terhadap dunia". Karena sifatnya ini, filsafat juga menyanggupkan orang untuk mau dan setia mempelajari hal yang baru. Karena esensinya yang berkutat pada investigasi dan pemahaman akan sebab-sebab fundamental dari realitas, filsafat bisa membuat orang mudah mempelajari hal-hal yang bersifat teknis, termasuk yang dituntut dalam dunia kerja.

Pengalaman saya sebagai seorang guru paling kurang menjadi satu testimoni tentang relevansi filsafat. Di Ledalero, saya tidak secara spesifik menggumuli pedagogi. Saya tidak secara khusus mempelajari strategi-strategi pembelajaran yang bersifat teknis-praktis yang harus diterapkan di ruang kelas. Namun, filsafat membantu saya untuk memahami dan menguasai tuntutan-tuntutan profesional yang harus dimiliki seorang guru. Ajaran Plato tentang dialog, pendapat Jean Piaget tentang konstruktivisme, dubium methodicum yang diajarkan Descartes, konsientisasi yang digaungkan Freire, regulasi diri (self-regulation) yang diinspirasi John Dewey, membantu saya untuk memikirkan dan merancang strategi-strategi di ruang kelas. Mempelajari filsafat membantu saya memahami hal-hal fundamental yang berkenaan dengan pendidikan.

Hal lain yang membuat filsafat relevan adalah kemampuannya untuk melawan tendensi melihat dunia dari satu dimensi (one-dimensional standpoint). Kompleksitas kehidupan modern mendorong kemunculan nafsu memberikan jawaban instan terhadap kompleksitas tersebut, Melawan itu, filsafat membantu orang untuk masuk dalam konstelasi pemikiran-pemikiran dan menelisik hal-hal yang terjadi dari berbagai kemungkinan pemikiran. Di sini, filsafat mungkin saja tidak membantu orang untuk memberikan jawaban paling tepat terhadap satu masalah atau persoalan tertentu, namun filsafat dapat membantu orang untuk tetap terbuka dalam mengelola perbedaan yang tentu saja timbul dalam proses mencari jawaban itu, sekaligus membantu orang menghindari fundamentalisme yang bisa berujung pada pemaksaan pikiran, yang tidak jauh bertalian dengan tendensi melakukan kekerasan dan teror.

Tidak hanya membantu orang bersikap terbuka terhadap berbagai kemungkinan dan pemikiran, filsafat juga membantu orang untuk mengambil dan mempertahankan sikap tertentu. Penentuan sikap ini terjadi melalui proses rasional yang komunikatif, yang didasarkan pada semangat untuk selalu mencintai dan mengabdi kebenaran.

 Lalu, teologi? Saya berpikir, pembicaraan tentang Allah (arti harfiah teologi) adalah hal yang akan selalu mempengaruhi kehidupan manusia di setiap zaman. Cara orang menjalankan kehidupan selalu dipengaruhi oleh caranya membicarakan Yang Transenden, Allah. Cara orang berelasi dengan dunia, orang lain dan alam, sangat ditentukan oleh pemahamannya akan Allah.

Teologi mungkin tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan sosial dan politik yang muncul sebagai konsekuensi dari pembicaraan atau wacana tentang Allah, namun teologi membantu orang untuk terus bergumul dengan Yang Transenden dan di situ mengevaluasi apakah pemahamannya tentang Tuhan membantunya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Berdasarkan pengalaman pribadi, STFK Ledalero telah membantu saya dalam menggumuli filsafat dan teologi secara serius. Apa yang pernah dipelajari di sana tidak terutama menambah perbendaharaan informasi tentang filsafat dan teologi, tetapi pertama dan terutama membantu saya untuk berfilsafat dan berteologi dalam kehidupan saya setiap hari. Karena itu, saya tidak putus-putusnya bersyukur dan berterima kasih kepada almamater STFK Ledalero, tempat formasi intelektual dan spiritual yang sangat berjasa dalam kehidupan saya.

RI: Apa yang diharapkan dari STFK Ledalero yang merayakan 50 tahun?

JG: Ada banyak hal yang diharapkan. Namun, dari sekian banyak harapan yang ada, menurut saya, hal yang paling diharapkan dari STFK Ledalero ialah kesetiaan terus menerus kepada filsafat dan teologi.

Tahun lalu, dalam salah satu pertemuan alumni STFK Ledalero se-Jabodetabek, P. Bernard Raho, SVD, pernah tampil membawakan sharing tentang perkembangan STFK Ledalero. Dia bertutur tentang banyak perubahan yang dialami di sana. Pada akhir sharing-nya, beliau meminta para alumni yang hadir untuk memberikan anjuran tentang hal-hal yang bisa dibuat STFK Ledalero agar semakin ‘sederap dengan jaman’ dan mampu menjawab kebutuhan mahasiswa pada zaman ini. Tidak sedikit alumni yang menganjurkan agar STFK mulai memasukkan ilmu-ilmu praktis ke dalam silabusnya, seperti manajemen. Ada juga yang menganjurkan agar perhatian terhadap keterampilan-keterampilan IT mesti diperhatikan.

Saya berpikir, semua anjuran itu baik. Toh, pada masa ini kita membutuhkan manajemen dan keterampilan yang berhubungan dengan teknologi informasi. Namun, saya berpikir, dalam abad yang ditandai oleh spesialisasi ini, STFK Ledalero seharusnya terus setia pada apa yang menjadi kekhasannya: filsafat dan teologi. Semua pembelajaran yang terjadi di sana mesti berkonsentrasi pada dua bidang ilmu ini.

 Saat dulu berkuliah di sana, saya merasakan bahwa filsafat dan teologi itu adalah dua ilmu dengan kekayaan yang tidak tepermanai. Waktu empat tahun yang habiskan rasa-rasanya tidak cukup dan terlalu terbatas untuk mengeksplorasi keluasan dan kedalaman filsafat serta teologi. Sampai di sini, masih tepatkah menambah bidang ilmu lain lagi, yang tentu saja memiliki keluasan dan kedalaman tersendiri? Menambah program studi baru, ya. Namun, menambah bidang ilmu lain pada program studi filsafat dan teologi hanya akan menambah beban studi dan membuat pembelajaran, baik filsafat, teologi serta ilmu-ilmu baru tersebut, menjadi superfisial, dangkal. Yang terjadi ialah “kita hanya menyentuh kulit” dan tidak “menukik ke dalam” atau “bertolak lebih ke dalam”.

Kalaupun kita memasukkan ilmu-ilmu lain, mereka hanya boleh menjadi mata kuliah pilihan atau ditawarkan dalam bentuk pelatihan dan kursus. Namun, yang mesti digarisbawahi, ilmu-ilmu ini mesti diajarkan dalam napas filsafat dan teologi; filsafat dan teologi tetap menjadi “payung” mereka. Mengapa? Berdasarkan pentingnya spesialisasi dalam dunia kontemporer, kekhasan pengajaran di STFK Ledalero mesti selalu berlandaskan filsafat dan teologi yang menjadi ciri khas lembaga ini. Filsafat dan teologi mesti menjadi “ragi” yang mempengaruhi seluruh adonan yang dibuat di sekolah ini.

Hal lain yang saya harapkan dari STFK Ledalero ialah pengembangan model pembelajaran yang lebih menekankan otonomi mahasiswa. Saya adalah seorang guru dan karena itu berbicara dari perspektif seorang guru. Sejauh pengalaman, proses pembelajaran yang baik dan berhasil mesti berfokus pada usaha untuk membuat para pelajar memiliki sense of agency; pelajar mesti ‘bertindak’ (agere) atau ‘melakukan sesuatu’ bagi pengembangan keilmuannya sehingga ia akhirnya menanamkan rasa kepemilikan (sense of ownership) terhadap seluruh proses pendidikan yang dijalaninya.

Mendengarkan dosen memberikan kuliah itu baik. Namun, ada baiknya bila metode lecturing dan direct instruction mesti diimbangi dengan tanggung jawab mahasiswa untuk menyiapkan topik-topik yang dipelajari dalam mata kuliah. Pola pembelajaran mesti merangsang para mahasiswa untuk lebih aktif menginvestigasi topik-topik tertentu. Dia tidak boleh lebih banyak “disuap”, sebab dia adalah seorang dewasa yang mesti memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk proses edukasi dan erudisi yang ia tempuh.

Sampai di sini, saya teringat akan sebuah pernyataan menarik dari Sokrates yang kemudian dielaborasi banyak filsuf, termasuk Ludwig Wittgenstein: “Filsafat bermula dari kekaguman” (philosophy begins with wonder). Pernyataan ini pertama kali saya dengar dalam kuliah Pengantar Filsafat yang diampu salah satu dosen yang saya kagumi, Pater Frans Ceunfin, SVD. Memang, “kekaguman mesti memantik filsafat,” dan juga “belajar filsafat mesti selalu memantik kekaguman”.

Tentang yang pertama, belajar filsafat tidak sekadar actus menimbun informasi atau pemikiran para filsuf. Dari filsafat, kita bergerak ke arah “berfilsafat”: hal-hal yang terjadi di sekitar mestinya menimbulkan “kekaguman” yang mengarahkan kita dalam proses berfilsafat. Supaya bisa ‘kagum’, orang mesti dilatih untuk selalu mempertanyakan apa yang sering dijumpai dan diterima begitu saja. Pertanyaan-pertanyaan mendesak orang untuk menemukan narasi-narasi lain dari hal yang dianggap normal dan wajar. Dari situ, orang mulai berfilsafat: menilik esensi dari satu hal yang diamati.

Yang kedua, mempelajari pemikiran para filsuf seharusnya senantiasa memancing kekaguman. Mereka dipelajari bukan hanya untuk kepentingan ujian, tetapi terutama untuk membantu proses berfilsafat: pemikiran yang beraneka ragam membantu kita memikirkan sikap tertentu ketika berhadapan dengan isu tertentu. Mempelajari para filsuf tidak membuat kita hanya sekadar mengutip para filsuf, hanya pandai melontarkan jargon atau platitudes yang juga tidak dielaborasi secara kritis dan dalam. Sejatinya, filsafat membantu orang untuk selalu berfilsafat: mencintai kebenaran dan kebijaksanaan.

Komentar