Breaking News

INTERNASIONAL Aachen, Istana Kaiser Karl Agung, Tempat Belajar BJ Habibie dan JB Mangunwijaya 27 Jul 2021 19:52

Article image
Rheinisch Westfälische Technische Hochschule (RWTH), sekolah yang dilengkapi dengan uniklinik megah dan landasan Helikopter yang canggih. (Foto: Pinterest)
Dari Aachen lahir lembaga-lembaga sosial ekonomi kemanusiaan, sebut saja Misereor dan Missio Aachen.

TANGGAL 12 - 19 2021 Juli saya berlibur di wilayah Austria . Pada 20 - 26 Juli saya melanjutkan liburan ke Aachen-Jerman. Mengapa ke Aachen? Saya ingin menambah wawasan baru. Saya juga ingin menimba kebaikan dan energi baru.

Pertama, saya ingin mengunjungi kota tua. Aachen adalah salah satu kota tua. Kota yang kaya nilai historis. Aachen sangat terkenal sejak jaman Kaiser Karl Agung. Karl Agung adalah Kaiser Romawi yang hidup antara tahun 748-814. Beliau berhasil menyatukan sebagian besar Eropa Barat. Dia membangun istana dan menjadikan Aachen sebagai pusat pemerintahannya.

Karl Agung juga membangun Katedral Aachen tahun 796. Menarik bahwa di katedral ini ada tahta marmar dan makam beliau. Katedral ini juga menjadi tempat penobatan 30 raja dan 12 ratu Jerman.

Katedral ini juga menjadi tempat beatifikasi Suster Clara Fey bulan Mei 2018. Clara Fey adalah pendiri ordo sang Timur(PIJ). Ordo yang juga bekerja di Indonesia. Mgr. Pidyarto dari Malang dan Mgr. Vinsensius Sensi Potokota dari Ende juga menghadiri perayaan beatifikasi ini. Saya bersyukur bisa hadir saat itu.

Selain tahta dan makam Karl Agung, Katedral ini juga berisikan barang berharga. Di sana ada altar yang dihadiahkan dari Roma. Ada mimbar sabda antik dan tahta Bunda Maria. Altar, mimbar dan kuil ini berlapis emas. Dan tidak lupa ada kuburan para Uskup. Karena kekayaan nilai historisnya, UNESCO memasukan katedral Aachen ini juga dalam situs warisan dunia.

Selain Katedral, kota Aachen juga kaya akan warisan sejarah lainnya. Ada balai kota bergaya Gotik dan museum surat kabar internasional. Ada Pasar, Elisenbrunnen dan Burtscheid. Ada tempat konser dan museum boneka yang digerakan air mancur.

Kedua, saya tertarik dengan Aachen karena aksi solidaritas kemanusiaan mereka. Dari Aachen lahir lembaga-lembaga sosial ekonomi kemanusiaan. Sebut saja Misereor dan Missio Aachen. Lembaga lembaga ini terkenal sangat aktif menyalurkan bantuan untuk negara-negara didunia ketiga.

Mereka berkomitmen membantu pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas kehidupan. Mudah- mudahan saya bisa belajar dari semangat bela rasa mereka. Saya bisa belajar menanamkan kepercayaan pada lembaga- lembaga donor. Belajar mempertanggungjawabkan donasi-donasi yg kita terima secara terbuka.

 

Almamater Habibie dan Mangunwijaya

Ketiga, saya ingin mengunjungi sekolah tehnik terkenal di Aachen. Nama sekolah itu Rheinisch Westfälische Technische Hochschule atau disingkat RWTH. Sekolah ini juga dilengkapi dengan Uniklinik megah dan landasan Helikopter yang canggih. Sekolah ini juga menjadi salah satu pusat penelitian tehnologi terkemuka di dunia. Tidak heran mahasiswa/i berasal dari pelbagai belahan dunia.

Saat ini ada banyak generasi milenial Indonesia yang menuntut ilmu disana. Mereka mempelajari pelbagai bidang tehnik. Ada tehnik mesin, arsitektur, seni dan kedokteran. Adakah anak NTT? Adakah anak Flores? Saya tidak tahu persis. Tapi saya optimis. Pada suatu waktu nanti.

Saya mengunjungi almamater dua tokoh hebat Indonesia. Pertama, mantan Menristek dan Presiden RI, Habibie. Habibie meraih Dipl. Ing tahun 1960 dan Doktor tahun 1965. Dari kampus ini Habibie menjadi orang hebat. Dari ruang-ruang ini teori Termodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika Habibie bertumbuh. Habibie sudah meninggal. Tapi Habibie Center terus terus mengutus generasi baru mereka. Apresiasi istimewa untuk komunitas ini.

Orang hebat lainnya adalah rohaniwan katolik, cendikiawan, budayawan dan arsitek JB. Mangunwijaya. Beliau menuntut ilmu di RWTH tahun 1960-1966. Beliau digelari sebagai bapak arsitektur moderen Indonesia. Salah satu karyanya yang terkenal adalah tempat ziarah Sendangsono. Beliau mendapat banyak tanda penghargaan. Salah satu yang terkenal adalah penghargaan Agha Khan. Saya bertanya dalam diam: adakah "generasi baru Mangunwijaya?" Saya masih tetap merenung!

Keempat, Aachen adalah kota yang terletak di wilayah paling barat Jerman. Letaknya berbatasan langsung dengan Belanda dan Belgia. Karena letaknya berbatasan, saya bisa menembus tapal batas ke dua negara itu. Keluarga Telly, Thomas dan Samuel setia menghantar saya.

 

DREILÄNDERECK

Tujuan pertama saya adalah DREILÄNDERECK. Atau titik pertemuan tiga negara: Jerman, Belanda dan Belgia. Letaknya di Vaalsberg. Tempat ini merupakan wilayah tertinggi negara Belanda yaitu 323 meter di atas permukaan laut.

DREILÄNDERECK adalah kawasan sejuk. Tempat warga ketiga negara bahkan warga negara lain berjumpa. Tempat damai dan sukacita. Tempat yang jauh dari konflik dan perang tapal batas seperti sering terjadi di tanah air saya.

Ada banyak pohon di sana. Warga ketiga negara sering berjalan kaki dan bersepeda ke tempat itu. Mereka berjalan tanpa ketakutan musuh tapal batas. Ada beberapa menara. Itu bukan menara pengintai musuh. Tapi menara untuk melihat keindahan panorama ketiga negara. Ada permainan labyrinth dengan desain kupu-kupu raksasa. Ada tugu persatuan dan bendera ketiga negara. Dan tentu saja ada restaurant, tempat parkir dan toilet umum yang bersih.

Saya juga mengunjungi wilayah Belgia. Saya kunjung gereja tua dan tempat ziarah. Dan sangat berkesan saya mengunjungi pekuburan tentara Amerika. Mereka yang menjadi korban perang dunia kedua. Ribuan salib putih berjejeran. Salib-salib putih itu mengingatkan saya akan ribuan salib korban Covid di tanah air.

Saya juga menyusup lebih jauh ke negeri kincir angin Belanda. Saya mengunjungi pemakaman tentara Amerika. 8000 ribuan korban perang dunia kedua. Saya mencuci mata di kota Maastricht sambil menikmati kentang goreng Nederland.

 

Arnoldus Janssen  dan Hendricus Leven

Dan tak lupa saya mengunjungi kota Steyl. Di sana saya menjumpai P. Stanis Kofi. Misionaris SVD yang barusan selamat dari keganasan Covid-19. Stanis bersaksi betapa nyata mujizat kerahiman Tuhan. Saya juga mengunjungi makam Mgr. Hendricus Leven. Beliau adalah Prefek Apostolik Sunda Kecil 1933 - 1953. Beliaulah pendiri Kongregasi Serikat Pengikut Jesus(CIJ).

Saya juga ke Steyl untuk mengunjungi makam Santo Arnoldus Janssen. Saya berbahagia bisa berlutut dan menyentuh peti orang kudus ini. Hati dan jiwa saya terasa tenteram dan kuat. Ada energi rohani baru.

Arnoldus membawa perubahan bagi banyak bangsa. Arnoldus membawa sukacita bagi dunia. Arnoldus mengubah wajah Sunda Kecil dan Nusa Tenggara. Melalui para pengikutnya, Arnoldus telah membangun dan menata gereja lokal di kawasan itu. Sebagai imam gereja lokal saya datang hendak berterima kasih. Terima kasih sambil memohon agar saya setia seperti Arnoldus.

Kelima, saya berlibur ke Aachen untuk mengunjungi ketiga saudari suster CIJ: Leny, Yohana dan Sebastiana Sejak Januari 2018 mereka bekerja di Keuskupan Aachen. Leny bekerja di gereja Katedral. Yohana bekerja di rumah sakit. Sebastiana bekerja di rumah jompo.

Saya menginap di komunitas mereka. Juga mengikuti aturan hidup komunitas mereka. Setiap hari saya rayakan ekaristi bersama mereka. Kami makan dan minum bersama.

Salah satu hari kami mendaki bukit Aachen. Kami berdoa, sharing pengalaman hidup dan pelayanan kami. Kami saling meneguhkan. Kami bersukacita dengan tugas dan pelayanan kami. Semua pekerjaan yang kami jalani mulia dan berharga. Entah sebagai imam, koster, pendamping jompo atau perawat di rumah sakit.

Saya sungguh mendapat banyak pengetahuan dan wawasan baru. Pengetahuan dari apa yang saya lihat dan alami. Liburan adalah kesempatan untuk berjalan-jalan. Berjalan-jalan sambil menimba kebaikan dan merajut kasih. Berjalan-jalan sambil mengisi energi-energi rohani baru.

Kebaikan yang menyelimuti DREILÄNDERECK. Atau titik perjumpaan ketiga negara: Jerman, Belanda dan Belgia di Aachen sana.

Kebaikan yang saya bawa pulang melalui DREILÄNDERBRÜCKE. Jembatan penghubung tiga negara: Jerman, Perancis Swiss di Basel sini.

Keuskupan Aachen tempat para suster CIJ dari Keuskupan Agung Ende Flores berkarya. Keuskupan Basel tempat para misionaris Fidei Donum dari Keuskupan Agung Ende Flores berbakti.

Kita semua adalah perajut persaudaraan. Kita semua adalah Jembatan harapan. Kita semua adalah tangga persahabatan.

 

Stefanus Wolo Itu, imam Projo Keuskupan Agung Ende, misionaris Fidei Donum di Keuskupan Basel, Swiss.

Komentar