Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

REFLEKSI Adakah Ketulusan dalam Politik? 24 Oct 2018 13:32

Article image
Ilustrasi makna ketulusan. (Foto: Satu Harapan)
Ketulusan dalam berpolitik itulah yang diperlihatkan Bung Karno, Bung Hatta dan para pejuang bangsa pada masa awal kemerdekaan bangsa tercinta. Mereka berpolitik "demi rakyat, bangsa dan negara" dengan begitu tulus, luhur dan agung.

Oleh Valens Daki-Soo

 

KERAP saya berpikir bercampur tanya, adakah ketulusan dalam (ber)politik? Ketulusan memberi sumbangan tanpa mesti menghebohkan itu di medsos. Ketulusan merangkul tanpa perlu dijepret kamera muka belakang. Ketulusan berkorban tanpa hasrat untuk diperhitungkan publik.

Cukup lama saya membantu Satgas Bom Polri, sebelum mendukung juga Densus 88/Antiteror Polri. Di situ saya tahu dan menyaksikan para perwira sangat sering bekerja hingga dinihari tanpa diketahui publik. Ada yang berbulan-bulan meninggalkan istri-anak dalam operasi 'surveillance', mengikuti jejak pergerakan para terduga teroris. Mereka bisa begitu demi kepentingan nasional: menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) sambil melakukan penegakan hukum (Gakkum). Mereka tidak butuh popularitas dalam bekerja, bahkan sedapat mungkin menghindari endusan media massa.

Tentu saja para politisi tidak bisa disamakan dengan polisi yang bergerak di Densus 88/AT. Popularitas guna menunjang elektabilitas politisi memang diperlukan. Publik memang harus mengetahui sebanyak mungkin tentang siapa pemimpin atau jatidiri wakil rakyat yang akan dipilihnya. Dengan begitu, rakyat tidak memilih "kucing dalam karung". Itu sebabnya politisi mesti membeberkan siapa dia sebagai bentuk tanggung jawab dan penjelasan tentang kredibilitasnya di mata rakyat.

Meski peran politisi dan polisi (dalam hal ini saya tekankan anggota Satgas Bom dan Densus 88/AT) berbeda dalam wujud kiprah dan domain tugasnya, saya mengangkat contoh di atas sebagai bukti bahwa kita tetap bisa berharap, masih banyak orang yang bekerja dalam diam dengan ketulusan mengabdi NKRI.

Masa kampanye adalah ruang dan waktu bagi kami (para politisi) untuk, katakanlah, "unjuk diri". Sedapat mungkin diperjelas siapa citra diri, latar belakang akademis, pigura pengetahuan, bingkai pengalaman, anyaman karya sang politisi.

Apakah tetap perlu diharapkan adanya ketulusan dalam berpolitik? Ya. Bahkan bukan cuma "perlu diharapkan", tetapi justru "mesti dituntut". Ketulusan dalam berpolitik dapat mengeliminasi keserakahan dan ketamakan yang bersarang di kalangan (sebagian) politisi. Mereka inilah yang terjun demi kepentingan ego pribadi, keluarga atau kelompoknya semata. Ketulusan dalam berpolitik mencerminkan harga diri dan martabat pribadi yang tetap ditegakkan.

Ketulusan dalam berpolitik mencerminkan hidupnya nilai-nilai. Tanpa ketulusan, "homo homini lupus" (manusia menjadi serigala/pemangsa sesamanya) bisa terjadi dalam aneka jenis dan gradasi.

Dr Sorin Baiasu (University of Keele, Inggris) & Dr Sylvie Loriaux (University Nijmegen, Belanda) dalam makalah mereka berjudul “Sincerity in Ethics, Politics and International Relations” (2011) mengatakan ketulusan (sincerity) tidak sekadar menjadi sebuah norma yang dituntut dari seseorang pribadi, sebagai sebuah indikator integritas dan kepercayaan. Lebih dari itu, ketulusan juga tampil sebagai sebuah norma atau nilai yang diharapkan hadir dalam relasi politik antara para pelakunya yang memiliki kekuasaan untuk memutuskan hal-hal yang krusial bagi sebuah negara atau bangsa.

Ketulusan dalam berpolitik itulah yang diperlihatkan Bung Karno, Bung Hatta dan para pejuang bangsa pada masa awal kemerdekaan bangsa tercinta. Mereka berpolitik "demi rakyat, bangsa dan negara" dengan begitu tulus, luhur dan agung.

Semoga saya tidak hanya menulis tentang ketulusan. Semoga saya dan teman-teman bisa menghayati dan membawanya ke palagan perjuangan dan pengabdian.

 

Penulis adalah peminat filsafat, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar