Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

OPINI Adakah Sesuatu yang Baik Datang dari Sepak Bola NTT? 10 Aug 2017 12:43

Article image
Adrianus Dedy, pemerhati sepak bola. (Foto:ist)
Semoga di waktu yang akan datang kita hanya membaca dan menonton pemberitaan media tentang citra sepak bola NTT yang makin bermutu.

Oleh Adrianus Dedy

KETIKA menyaksikan acara Sapa Pagi Kompas TV pagi ini yang memberitakan kekisruhan laga final Liga 3 El Tari Memorial  Cup (ETMC) 2017 di Ende, muncul sebuah pertanyaan yang menggelitik: “Adakah sesuatu yang baik datang  dari Sepak Bola NTT?

Pertanyaan ini muncul karena sebagai orang Flores/NTT yang berada di perantauan kita sangat merindukan peningkatan mutu/kualitas sepak bola NTT sebagai produk dari sebuah turnamen yang bernama Eltari Cup. Berbeda dengan Eltari Cup sebelumnya, ETMC 2017 masuk dalam tataran Liga 3 Indonesia.

Masuknya ETMC dalam Liga 3 sebagai bagian dari reformasi sepak bola di era pemerintahan Presiden Jokowi, di mana PSSI diberi mandat untuk membenahi sepak bola Indonesia secara lebih profesional baik dari level tarkam, Liga 3, Liga 2, Liga 1 mulai dari penataan manajemen klub, penataan finansial yang transparan, regulasi pertandingan, pembatasan jumlah pemain asing, prioritas pemain muda produk klub sendiri, penataan stadion dan atribut-atribut lainnya. Goalnya adalah menghasilkan produk berkualitas bagi Timnas dan pemain yang tidak masuk Timnas menjadi pemain profesional yang hidup dari bola.

Esensi sepak bola yang berusaha dibangun ini butuh pemahaman yang luas dan mendalam bagi seluruh insan sepak bola tanah air, termasuk kita di belahan Indonesia Timur. Persipura, PSM Makasar, Bali United sudah mulai menata dirinya, sehingga kelihatan mulai bermutu/berkelas. Apakah kita harus ketinggalan terus dari tim-tim seperti itu? Saya rasa tidak. Kita masih punya harapan untuk membenahi sepak bola yang lebih profesional, supaya anak-anak/adik-adik kita bisa berbicara di level nasional dan secara profesional bisa hidup dari bola.  

Kita punya Yabes Roni yang semakin berkelas dan menjadi pilihan utama baik di Bali United maupun di Timnas U-22. Kita punya Bilbo di Persib Bandung, walaupun jadi pilihan kedua. Bilbo sudah bersanding dan bermain sejajar dengan Michael Essien.

Saya tidak pernah lagi menganggap mereka berdua sebagai orang Alor atau Flores Timur. Mereka berduapun sudah melepaskan atribut/label primordialnya, berusaha untuk menata dirinya bertarung: ‘meju’ (banting) dan ‘rore’ (bunuh) di level yang lebih tinggi (nasional). Mereka sudah diperhitungkan publik dan sudah mulai hidup dari bola.

Mereka sudah menanggalkan atribut/label primordial dan mulai menyandingkan dirinya dengan para pemain nasional. Inilah mentalitas yang brmutu. Yonis dan Bilbo bukan produk turnamen Eltari Cup.  Mereka produk tarkam hasil lirikan pelatih berlevel nasional Indra Syafri dan Jajang Nurdjaman. Sebenarnya ketika Indra Syafri mencari bibit pemain untuk Timnas U-19 dengan mengelilingi Flores, Sumba, Kupang dan Alor, kita berharap ada yang terpilih, ternyata secara teknis oke, tetapi mentalitas yang belum teruji dalam arti para pemain yang diseleksi belum mampu mngalahkan pikiran dan perasaannya sendiri.

Berdasarkan cara berpikir seperti ini tentunya kita berharap turnamen formal ETMC 2017 yang berakhir semalam menjadi lirikan publik akan sebuah majemen pertandingan yang lebih bermutu.  Juga lirikan pasar bagi produk pemain-pemain muda yang bermutu ternyata masih jauh panggang dari api.

Saya tidak punya kapasitas untuk mengomentari hasil pertandingan semalam karena saya tidak secara langsung menonton di Stadion Marilonga, Ende. Kalaupun komentar, saya tidak mau masuk pada kekerdilan atribut primordial dan pada wilayah yang masih jadi investigasi Komdis PSSI yang lebh objektif.

Kita menanti dengan sabar hasil investigasi PSSI dalam semangat persaudaraan. Apapun sanksi yang harus dijatuhkan kita harus menerimanya dengan fair, sportif dan jujur, agar kita kembali menata manajemen pertandingn, klub, mentalitas suporter dan pemain yang lebih bermutu.

Semoga di waktu yang akan datang kita hanya membaca dan menonton pemberitaan media tentang citra sepak bola NTT yang makin bermutu. Semoga ada sesuatu yang baik datang dari sepak bola Flores/NTT pada perhelatan ETMC tahun-tahun mendatang. Semoga ada produk pemain yang dilirk di level nasional dan ada anak-anak/adik-adik kita yang hidup dari bola di Liga 2 dan Liga 1.

Lebih baik kita ‘meju’ dan ‘rore’ untuk sepak bola yang lebih bermutu pada level yang lebih bergensi.

 

Penulis adalah pemerhati sepak bola, alumnus STFK Ledalero, Magister Manajemen Pendidikan Unversitas Negeri Jakarta, dosen Universitas PGRI Palembang

Komentar