Breaking News

REFLEKSI Agama: "Jalan Kebaikan" 09 Mar 2020 15:34

Article image
Ilustrasi melangkah di jalan kebaikan. (Foto: Mobile Loaves & Fishes)
Agama hanya bermakna jika mampu menghadirkan Tuhan dalam kebaikan-Nya yang paripurna bagi sesama dan alam semesta.

Oleh Valens Daki-Soo

 

AGAMA hanya bermakna jika mampu menghadirkan Tuhan dalam kebaikan-Nya yang paripurna bagi sesama dan alam semesta. Mengklaim Islam sebagai "rahmatan lil alamin" (rahmat bagi sekalian alam) namun pada saat yang sama menyerukan sikap permusuhan terhadap agama lain adalah kontradiksi. Menyebut inti ajaran Kristen adalah cinta kasih namun secara bersamaan tidak peduli dan menutup mata terhadap samasaudara yang menderita (apapun agamanya), itu adalah kemunafikan atau hipokrisi.

Status (postingan) saya dua-tiga hari terakhir di Facebook ini adalah tentang kebohongan beberapa ustadz yang mengaku mantan pastor Katolik (juga pendeta Protestan). Saya merasa wajib mengangkat hal ini karena ustadz semacam itu berpotensi memecah-belah umat beragama, merusak iklim kebangsaan kita. Kotbah-kotbah atau cara berdakwah mereka yang insinuatif atau sarat hasutan dan cercaan (ini "kekhasan" Ustadz Yahya Waloni dkk) bisa mencederai kerukunan antar umat beragama.

Sebagai orang yang aktif bekerja di ranah keamanan dan cukup lama mengabdi demi keutuhan NKRI tercinta (dengan menjadi staf dari beberapa petinggi negara selama 21 tahun ini), saya tergugah untuk terus menyerukan kewaspadaan nasional (Padnas) terhadap hal apapun yang dapat melukai keindonesiaan kita. 

Anda tidak dapat meremehkan fenomena semacam ustadz-ustadz pembohong itu karena kebohongan mereka bisa memperbodoh umat/jamaah yang secara "lurus" mendengarkan mereka tanpa sikap kritis. Lebih jauh, karena pengetahuan mereka tentang Islam masih terbatas, kotbah atau dakwah mereka juga terbatas secara substantif dan lebih banyak diwarnai hasutan yang dapat mempertebal aura radikalisme dan fanatisme sempit.

Sebenarnya mereka tidak akan laku jika tidak diberi tempat, dan mereka tidak akan diberi tempat jika umat (sebagian umat Islam dalam hal ini) bersikap kritis. Itu sebabnya setiap orang, apapun agamanya, hendaknya beriman dan beragama secara kritis, tidak hanya tentang orang/umat beragama lain tetapi juga diri dan agamanya sendiri.

Sejauh mana saya menerapkan pola hidup yang sungguh bersumber pada keyakinan saya kepada Tuhan? Apakah saya memahami ajaran agama saya dengan baik dan benar? Mampukah saya melihat dan mengalami kehadiran Allah dalam diri sesama maupun alam semesta? Dapatkah saya bersikap tulus ikhlas berbagi kebaikan dengan sesama tanpa memandang latar belakang suku, budaya, status sosial dan agamanya? Sungguhkah saya beriman kepada Tuhan dan memancarkan terang iman itu di tengah kehidupan, tidak hanya berhenti di ruang doa atau rumah ibadah?

Masih banyak pertanyaan reflektif-kritis yang dapat Anda tambahkan dalam pigura keimanan yang berorientasi pada perilaku hidup yang baik. Anda boleh berulang kali ke rumah ibadah untuk berdoa atau memenuhi kewajiban agama, namun niscaya sia-sia jika praktik (ber)agama itu tidak bermuara pada kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik itu antara lain ditandai oleh cinta kasih, kerendahan hati, kerelaan berbagi, pengampunan, kepekaan dan kepedulian terhadap sesama yang menderita (solidaritas sosial), keberanian untuk mengoreksi kesalahan atau penyimpangan di tengah masyarakat, kesanggupan membela mereka yang menjadi korban ketidakadilan dan kesewenangan.

Beragama tidak cukup hanya dengan berkuat pada aspek simbolis-ritualistis. Rajin ke gereja namun enggan berbagi kebaikan dengan sesama adalah pendangkalan makna agama. Bertubi-tubi ke masjid, pura dan vihara namun abai terhadap ketidakadilan adalah pengkhianatan terhadap nilai agama. 

Agama adalah "jalan kebaikan", itu definisi sederhana tentang agama versi saya dalam refleksi ini. Jika tidak mengajarkan kebaikan dan tidak mendorong orang untuk berbuat baik, segala kotbah hemat saya sia-sia belaka. Apalah artinya kotbah yang berapi-api jika dipadati ujaran kebencian, menghasut umat untuk membenci kelompok atau aliran lain, memprovokasi para pendengar untuk "memusuhi mereka yang berbeda dengan kita".

 

"Kehendak-untuk-bermakna"

Tentang agama dan Tuhan, saya teringat cerita Gleb Tsipursky Ph.D, anggota redaksi jurnal Behavior and Social Issues. Dalam artikelnya berjudul “Do You Need Religion for Life Meaning and Purpose?” yang diterbitkan Psychology Today, Tsipursky berilustrasi,  “Anda dibesarkan dalam keluarga Evangelis yang taat. Sejak usia dini, orang tua Anda mengajar Anda untuk berdoa setiap hari dan memberi tahu Anda bahwa tujuan dan makna hidup ditemukan dalam Allah. Menghadiri sekolah minggu memperkuat pesan ini. Begitu juga televisi yang ditonton keluarga Anda, buku-buku yang mereka berikan untuk Anda baca, dan musik yang Anda dengarkan. Anda tumbuh dalam lingkungan ini sepanjang masa remajanya, menghadiri sekolah dasar dan sekolah menengah pertama keagamaan. Kemudian, Anda pergi ke sekolah menengah atas setempat, karena orang tua Anda tidak mampu menyekolahkan Anda di sekolah menengah yang religius. Di sana, Anda bertemu dengan lingkungan yang menantang keyakinan Anda. Anda mulai bertanya dan ragu, bahkan mungkin menghadiri pertemuan afiliasi lokal Aliansi Mahasiswa Sekuler untuk mencari tahu apa itu semua. Anda ingin menjelajah lebih luas, tetapi takut kehilangan tujuan dan makna hidup Anda.”

Menurut Tsipursky, agama bisa menjadi satu di antara banyak saluran untuk membantu seseorang mendapatkan hidup yang bermakna. Pelopor dalam bidang ini, Victor Frankl, adalah seorang psikiater Wina yang pernah mendekam di kamp konsentrasi. Dalam penelitian dan pekerjaannya, baik di kamp-kamp maupun sesudahnya dalam praktik pribadi, ia menemukan bahwa hal penting bagi individu yang bertahan dan berkembang dalam hidup adalah mengembangkan tujuan dan makna pribadi, apa yang ia sebut sebagai "kehendak-untuk-bermakna" .

Karyanya berkorelasi dengan posisi filosofis eksistensialisme, gagasan bahwa sumber makna dan tujuan hidup ada di dalam diri kita sebagai individu. Ada banyak jalan untuk melakukannya. Sebagai contoh, Frankl membantu orang menemukan tujuan dan makna dalam hidup melalui membantu orang lain untuk mengingat kegembiraan, kesedihan, pengorbanan, dan berkat-berkat mereka, dan dengan demikian mengingatkan akan kebermaknaan hidup mereka seperti yang sudah dijalani.

Agama hanya bermakna jika mampu menghadirkan Tuhan dalam kebaikan-Nya yang paripurna bagi sesama dan alam semesta. Mengklaim Islam sebagai "rahmatan lil alamin" (rahmat bagi sekalian alam) namun pada saat yang sama menyerukan sikap permusuhan terhadap agama lain adalah kontradiksi. Menyebut inti ajaran Kristen adalah cinta kasih namun secara bersamaan tidak peduli dan menutup mata terhadap samasaudara yang menderita (apapun agamanya), itu adalah kemunafikan atau hipokrisi.

Mari kita melangkah di jalan kebaikan, karena setiap dan semua agama sebenarnya secara imperatif mensyaratkan kebaikan sebagai habitus dalam hidup.

Saya tekankan kebaikan, karena kebenaran, keadilan dan sebagainya adalah saudara kandung kebaikan.

 

Penulis adalah peminat filsafat-teologi, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar