Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

TAJUK Agama, Kebencian dan Cinta 22 Jun 2017 14:31

Article image
Nilai cinta dalam agama perlu diujudkan dalam dunia nyata. (Foto: Ist)
Saling mencinta akan mencapai kepenuhannya jika ada pertemuan adiluhung antara ajaran cinta dan perwujudan cinta melalui perbuatan-perbuatan baik.

JIKA kita buka media sosial, kini mudah temukan ujaran kebencian. Salah satunya ujaran kebencian yang semakin getol disuarakan dari pemeluk agama yang satu ke pemeluk yang lainnya.

James A. Haught, dalam bukunya Holy Hatred: Religious Conflicts of the ’90’s menulis: ”Hal yang sangat ironis sejak 1990-an adalah bahwa agama—yang semestinya menjadi sumber kebaikan dan kepedulian bagi manusia— kini berada di barisan terdepan penyebab kebencian, peperangan, dan terorisme.”

Haught menuliskan sebuah ironi: nilai-nilai kesejukan agama seperti perdamaian, persaudaraan, dan kebaikan kini digerusi dari dalam oleh pemeluknya sendiri. Mungkin ada semacam idolatria terhadap agama sendiri, yang menganggap agama sendiri paling benar dari agama yang lainnya.

Lebih parah lagi, (pemeluk) agama mulai dikendalikan oleh kekuasaan (politik). Dalam  politik kekuasaan, agama menjadi salah satu kendaraan kekuatan politik yang berkehendak untuk memegang tali kekuasaan. Maka, sentimen agama dikuatkan untuk membelah para pemeluk agam demi kepentingannya. Nilai-nilai luhur agama dilucuti dan digantikan dengan nilai-nilai kepentingan.

Apakah agama adalah dasar-sumber kebencian? Mungkin kita perlu kembali pada awasan pengarang eksentrik Irlandia Jonathan Swift (1667-1745): Kita memiliki cukup agama untuk membuat kita membenci, tapi tidak cukup untuk membuat kita saling mencintai.

Dalam konteks positif, kita dapat mengartikan perkataan Swift sebagai ajakan untuk memperjuangkan cinta. Cinta yang diajarkan agama masih menunggu aplikasi dan perwujudan dari pemeluk agamanya dengan penuh kesadaran. Saling mencinta akan mencapai kepenuhannya jika ada pertemuan adiluhung antara ajaran cinta dan perwujudan cinta dalam perbuatan-perbuatan baik.

Kita tetap percaya, agama bukanlah akar kebencian. Pemeluk agamal-ah yang menggunakan agama untuk membangun api kebencian. Karena dalam agama terdapat nilai-nilai cinta, maka beragama sudah merupakan langkah maju menuju perwujudan cinta itu. Kita hanya perlu merealisasikan nilai-nilai itu.

Mari kita ubah kebencian dengan cinta. Kata Paus Benediktus XV: Cinta yang autentik jelas merupakan sesuatu yang baik. Tanpanya, hidup hampir tidak layak dijalani. Ia memenuhi kebutuhan terdalam kita, dan ketika kita mencintai, kita menjadi diri kita secara utuh, sepenuhnya manusiawi."

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar