Breaking News

REFLEKSI Agama Bukan Tuhan, dan Allah Tak Perlu Dibela 14 Oct 2018 08:15

Article image
Foto ilustrasi. (Foto: jeffsetter.com)
Mengangkat senjata lalu membunuh sesama dalam rangka "membela" Allah bagi saya tak hanya absurd tetapi juga merupakan cara paling brutal untuk 'menyerang' kemuliaan Sang Pencipta.

Oleh Valens Daki-Soo

 

OLEH karena saya bukan teolog dan ulama, ijinkan saya  berbagi dengan cara sederhana yang lebih berdasarkan 'common sense' dan citarasa kemanusiaan tentang situasi aktual kebangsaan kita. Ini sama sekali bukan refleksi teologis. 'Sharing' ini keluar dari perspektif pribadi saya, dan Anda tentu saja boleh berbeda pendapat.

Pertama, agak sulit saya memahami, mengapa orang bisa bertindak begitu brutal, tanpa hati, tanpa rasa 'welas asih', tanpa perikemanusiaan, dalam setiap tindakan penghancuran atas nama agama. Dengan membawa nama agama, yang harusnya menjadi "jalan kedamaian", manusia justru bisa mempertontonkan daya bunuh dan kemampuan menghancurkan yang sungguh di luar akal sehat.

Kedua, saya memandang agama sebagai jalan untuk "mencari, menemukan, dan mengalami" Tuhan (dimensi vertikal). Setiap agama bisa berbeda 'locus culturalis' alias konteks kultural-primal di mana agama itu lahir, berbeda doktrin dan dogma, berbeda nabi atau "guru kehidupan" yang mengintroduksinya, berbeda "konsep" --dan "tafsiran atas konsep" -- tentang "The Supreme Being". Namun di arus paling bawah dari kepelbagaian dan keberbedaan itu, sejatinya mengalir satu "spiritualitas universal". Kita adalah "satu dalam kemajemukan": kita para peziarah kebenaran, pencari makna hidup, yang sama-sama merindukan di ujung ziarah ini akan bersua dengan Sang Pemberi Kehidupan.

Ketiga, agama adalah jalan yang membantu menemukan pencarian dan pengalaman spiritual yang paling ultim. Mari kita lihat, agama itu "jalan yang membantu". Jadi betapa jatuh dalam kesalahan yang membahayakan, manakala orang menjadikan agama sebagai 'tuhan'. Dia jalan, bukan tujuan. Memahami bahwa agama secara maknawi-dasariah adalah jalan dan bukan tujuan, bisa menolong kita untuk melihat keanekaan dalam religiusitas dan spiritualias sebagai realitas kehidupan yang perlu diterima dengan seluruh keluasan jiwa.

Saya tidak bisa dan tak berhak menghakimi Anda karena memiliki jalan berbeda. Anda pun tak punya basis legitimasi apapun untuk mengatakan saya kafir karena berbeda jalan dengan Anda dalam ziarah hidup ini. Tugas kita adalah menapaki jalan itu sebaik-baiknya, mengikuti rambu-rambu yang membantu kita sepanjang jalan itu, dan kalau sesekali 'keluar jalur' atau tergelincir ke luar garis (aturan) jalan, bisa cepat kembali dalam 'kehidupan yang lebih baik'. 

Jadi, begitu. Anda tak perlu mengangkat senjata untuk menyerang saya, dan saya tak boleh mengarahkan rudal penghancur ke arah Anda, hanya karena kita berbeda jalan.

Ini bukan simplifikasi cara berpikir, bukan penyederhanaan pikiran atau konsep tentang agama, karena memang begitulah. Agama sesungguhnya adalah jalan. Jalan bukanlah tujuan. Saya ulangi lagi, agama membantu kita mencari dan menemukan pengalaman tentang ada-Nya Tuhan (dimensi vertikal), tapi agama bukanlah Tuhan.

Keempat, agama tidak hanya merupakan "jalan menuju Tuhan", melainkan juga "jalan (mencari dan menemukan) kemanusiaan sejati". Anda bisa saja dengan menggebu-gebu  mengklaim diri "sangat mencintai Allah", Anda boleh gencar berkotbah dengan gemuruh betapa dahsyatnya geliat jiwa Anda mengagungkan kebesaran Tuhan. Namun, itu menjadi tanpa makna, jika Anda sehari-hari tidak peduli pada sesama, suka menghina dan melecehkan orang lain, setiap saat "pasang kuda-kuda" untuk "baku hantam" dengan tetangga, ke mana-mana bawa "energi permusuhan" dan bukan "spirit cinta". Apa artinya ajaran agama yang sarat nilai kebenaran dan kebajikan jika tanpa penghayatan dan penerapan konkrit.

Keluhuran agama mesti terpantul dalam cara kita memperlakukan sesama dan alam semesta. Itulah dimensi horisontal dari keberagamaan. Iman tidak cukup diolah dalam "kesalehan personal" (rajin beribadah, misalnya). Perlu dimanifestasikan dan diaktualisasi dalam "kesalehan sosial", yakni keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat, menolong yang sedang susah, dan sebagainya. 

Jadi, kalau Anda rajin berlutut di gereja hingga lutut goyah, atau bermeditasi di kamar doa Anda sampai rasanya seperti nyaris terangkat dari tanah, atau ke mana-mana Anda membawa 'rosario' dan tanpa henti mendaraskan doa, atau gemar berziarah ke tempat-tempat yang (di)suci(kan), semua itu hanyalah 'kesalehan personal' yang perlu diterjemahkan dalam berbagai tindak kesalehan sosial. 

Kelima, Allah tidak perlu dibela. Memang, kita -- entah beragama apapun Anda dan saya -- punya naluri primal dan hak untuk membela apapun yang kita punya. Kita memiliki agama (kecuali Anda memilih tak beragama) dan karena merasa "memiliki", kita cenderung dan merasa berhak untuk membela ketika "milik" kita dinilai atau dirasa terusik, terancam. 

Mengangkat senjata lalu membunuh sesama dalam rangka "membela" Allah bagi saya tak hanya absurd tetapi juga merupakan cara paling brutal untuk 'menyerang' kemuliaan Sang Pencipta. 

Kalau tidak salah, ucapan "Allah tidak perlu dibela" itu diungkapkan mendiang Gus Dur. 

Ya. Siapakah kita di tengah semesta yang terdiri dari susunan tak terhingga 'super galaksi' (super galaksi adalah gugus galaksi-galaksi, dan setiap galaksi terdiri dari miliaran tata surya)? Siapakah kita manusia yang kadang hanya terantuk batu kecil bisa terjengkang tanpa daya? Siapakah kita manusia yang hanya dengan 'batuk kecil' air laut alias tsunami bisa larut sirna dalam satu tarikan gelombang?

Lalu, kita yang tak berdaya ini merasa bisa 'membela' Allah, Sang Pencipta, dengan mengangkat senjata?

Mungkin sebenarnya yang dibela adalah ego kita sendiri tatkala kita membawa nama Tuhan dalam agresi fisik yang dilakukan. Saya tidak bermaksud menyarankan Anda untuk tidur saja jika bangunan rumah ibadah diserang, atau sebuah komunitas religius dihantam. Apapun agama mereka yang diserang, kita perlu bahkan harus membela dengan cara yang benar, termasuk membawanya ke ranah hukum dan membantu terciptanya kondisi pemulihan dan rekonsiliasi.

Pikiran kita terusik oleh tragedi di Singkil setelah beberapa waktu lalu di Tolikara. Hati dan kemanusiaan kita terluka. Kejadian seperti ini sudah sering dan bisa terjadi di mana pun. Kita terpanggil untuk ikut meredam situasi dan memperbaiki kondisi. 

Lebih daripada itu, kita perlu ikut menjadi bagian dari "upaya penyadaran dan pencerahan". Masalahnya, seringkali insiden terjadi karena ketidaktahuan, ketidakmengertian, atau "mengerti dengan cara berpikir yang salah".

Apapun agama dan keyakinan religius kita, mari kita bantu memulihkan keadaan, termasuk dengan berbagi energi positif untuk pemerkuatan spirit perdamaian di antara kita sebagai satu bangsa, satu komunitas manusia peziarah menuju Sang Pencipta.

Semoga damai berhembus ke seluruh penjuru negeri tercinta.

 

Penulis adalah peminat filsafat, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar