Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

GAYA HIDUP Ahli Gizi: Kekurangan Karbohidrat Beresiko pada Tubuh 01 Nov 2018 15:21

Article image
Ilustrasi karbohidrat kompleks (Foto: robynmac)
Nyatanya, tubuh manusia membutuhkan karbohidrat untuk energi yang digunakan guna mengisi otot, otak dan sistem saraf pusat.

USA, IndonesiaSatu.co-- Kelebihan karbohidrat seringkali dikaitkan sebagai penyebab naiknya berat badan. Tidak heran jika banyak pola diet yang menyarankan pengurangan bahkan penghentian konsumsi karbohidrat demi mendapatkan berat badan yang ideal.

Nyatanya, tubuh manusia membutuhkan karbohidrat untuk energi yang digunakan guna mengisi otot, otak dan sistem saraf pusat. Penurunan berat badan memang terjadi ketika asupan karbohidrat dikurangi. Namun, ada efek negatif yang akan muncul seiring menurunnya bobot tubuh.

Ahli gizi, Libby Parker mengatakan bahwa mengurangi konsumsi karbohidrat sangat berbahaya bagi tubuh.

"Tubuh manusia dirancang untuk bekerja dengan sumber energi terutama pada sumber karbohidrat, yang idealnya membentuk 45-65 persen dari asupan kalori," kata Parker.

Laman Independent seperti dilansir Kompas.com, merangkum empat risiko kesehatan karena mengurangi konsumsi karbohidrat.

Pertama, efek negatif pada bagian tubuh tertentu. Menurut Parker, saat kita menerapkan diet yang membatasi asupan karbohidrat (ketogenik), bagian tubuh tertentu akan terpengaruh lebih besar daripada yang lain.

"Ada sel-sel tertentu di tubuh, termasuk sel-sel di mata dan ginjal kita yang bekerja secara eksklusif dengan karbohidrat. Saat tubuh menghasilkan keton yang terjadi dalam diet karbohidrat ekstrim seperti dalam diet keton, tak ada kecukupan penggantian peran karbohidrat. Keton merupakan energi asam yang dibuat ketika tubuh mulai menggunakan lemak untuk energi. Ini terjadi saat kita mengurangi asupan karbohidrat.

Menurut Parker, diet rendah karbohidrat seringkali menyebabkan tubuh kekurangan vitamin, mineral, dan senyawa lain. Sebab, kandungan-kandungan itu hanya dapat kita temukan dalam makanan yang kaya karbohidrat, seperti buah dan sayuran. Karbohidrat sederhana dapat ditemukan dalam roti, kue kering dan pasta, atau dikenal sebagai karbohidrat olahan. Namun, karbohidrat sederhana juga ditemukan di sebagian besar makanan, termasuk buah-buahan, sayuran, dan kacang-kacangan.

“Mengurangi konsumsi karbohidrat juga akan menyebabkan risiko jangka panjang, seperti kanker usus besar. Kurangnya karbohidrat dapat menyebabkan sembelit karena kekurangan serat, yang ditemukan pada karbohidrat dan batu ginjal,” terangnya.

Kedua, energi yang rendah. Menurut Parker, diet rendah karbohidrat juga menyebabkan rendahnya proses glikolisis, yaitu pemecahan glukosa untuk energi. Meskipun energi pengganti dapat ditemukan pada keton, namun tetap dapat membuat seseorang merasa lesu dan lambat dalam bergerak atau dikenal sebagai "carb flu".

“Diet rendah karbohidrat sering menyebabkan kelesuan dan kurangnya daya tahan. Selain itu, kurangnya karbohidrat juga menyebabkan brain frog yang membuat kita sulit berkonsentrasi. Bahkan, kurangnya karbohidrat juga menyebabkan gejala sepert flu,” katanya.

Ketiga, nafas tak sedap. Parker menjelaskan bahwa bau mulut juga merupakan efek samping yang kurang disadari dari diet rendah karbohidrat.

“Efek bau mulut adalah hasil dari energi aseton, salah satu dari tiga badan keton, yang terjadi ketika tubuh memasuki ketosis. Bau nafas tak sedap ini tak bisa diatasi hanya dengan menggosok gigi dan menggunakan obat kumur. Satu-satunya cara adalah kembali memasukan karbohidrat dalam menu diet kita,” lanjutnya.

Keempat, makan tidak teratur. Parker berpendapat bahwa semua jenis pola diet pada prinsipnya mengatur jadwal makan dan apa yang kita konsumsi secara teratur. Namun, Parker mengatakan diet rendah karbohidrat dapat membuat kita sulit mematuhi pola makan yang disarankan. Hal itu terutama biasa terjadi saat kita berkumpul bersama keluarga atau kawan yang identik dengan suguhan.

“Saat diet karbohidrat diikuti dengan disiplin tinggi, kemungkinan besar akan menyebabkan isolasi sosial. Untuk mengikuti diet rendah karbohidrat dengan cara yang "sehat", disarankan agar kita berkonsultasi dengan profesional medis dan memeriksa kadar keton melalui pemeriksaan glukosa darah dan keton harian,” sarannya.

Parker tidak merekomendasikan mengikuti diet rendah karbohidrat, atau diet apapun yang dilakukan dengan ketat karena risikonya terlalu besar. Sebab menurutnya, setiap diet ketat dapat berisiko untuk kesehatan, gangguan makan yang potensial, dan meningkatkan berat badan segera setelah kita mengalami penurunan berat badan, karena diet tidak berfungsi.

--- Guche Montero

Komentar