Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

POLITIK AHY Akan Rugi Besar Kalau Prabowo - Sandi Menang 11 Sep 2018 11:43

Article image
Agus Harimurti Yudhoyono. (Foto: Tribun News)
Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari berpendapat, Partai Demokrat akan lebih diuntungkan jika pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin menang ketimbang pasangan Prabowo - Sandiaga Uno.

SATU per satu kader Partai Demokrat merapat ke kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden Jokowi-Ma’ruf Amin. Berawal dari calon gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar yang bersedia menjadi juru bicara tim sukses, beberapa kepala daerah secara terang-terangan menyatakan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf Amin.

Beberapa politikus dan kepala daerah dari Partai Demokrat yang menyatakan dukungan kepada pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin antara lain Ketua Pengurus Demokrat Provinsi Jawa Timur, Soekarwo; Ketua Majelis Partai Demokrat Provinsi Jawa Barat; Ketua Pengurus Demokrat Provinsi Papua, Lukas Enembe; dan Ketua Pengurus Demokrat provinsi Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang Zainul Madji

Tidak seperti biasanya di mana pimpinan partai akan memberikan sanksi atau memecat kadernya yang berbeda haluan dari sikap partai, Partai Demokrat malah memberikan kebebasan kepada kadernya untuk menentukan pilihan politiknya.

Ambigu politik Partai Demokrat dipertegas oleh pernyataan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasmas) Partai Demokrat untuk Pilpres 2019 Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY ). Menurut AHY, kader Demokrat bebas menentukan pilihan saat pilpres 2019 nanti. AHY mengatakan ini ketika berkunjung ke Pangkal Pinang, kepulauan Bangka Belitung, pada Senin ( 10/9 /2018). Padahal Partai Demokrat telah mentukan sikap akan berkoalisi untuk mendukung pasangan Prabowo – Sandiaga Uno pada Pilpres 2019.

“Partai Demokrat itu partai yang sangat demokratis. Kita ingin memberikan peluang kepada para kader untuk menentukan sikapnya. Tapi secara kepartaian sesuai yang telah diputuskan oleh majelis Tinggi Partai Demokrat, bahwa dalam kontestasi Pilpres 2019, Partai Demokrat mendukung pasangan Prabowo – Sandiaga," kata AHY.

Tidak sekadar kader Partai Demokrat, AHY juga dipilih sebagai anggota Dewan pembina Timses Prabowo – Sandi. Namun AHY tidak mempermasalahkan jika ada kader yang menentukan sikap berbeda.

“Dalam sebuah konstituen yang besar, jika ada perbedaan pendapat satu atau dua orang ingin menyampaikan atau menyuarakan hal yang berbeda saya pikir wajar – wajar saja”, tambah AHY.

 

Untung Rugi Bagi AHY

Menanggapi kegaduhan ini, Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari berpendapat, Partai Demokrat akan lebih diuntungkan jika pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin menang ketimbang pasangan Prabowo - Sandiaga Uno.

"Tidak strategis bagi Demokrat, bagi AHY, kalau Prabowo-Sandi menang," ujar Qodari seperti dikutip Tempo, Senin, (10/9/2018).

Menurut Qodari, jika Prabowo dan Sandi menang, maka Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY akan sulit mendapatkan panggung politik ke depan.

Jika  Prabowo menang pada 2019, diperkirakan akan maju lagi pada 2024. Berikutnya, pada 2029 ganti Sandiaga yang maju. Kalau Sandiaga terpilih 2029, ia bisa maju lagi pada 2034. “Jadi empat kali pemilu, 20 tahun ke depan, AHY gigit jari," ujar dia.

Dengan adanya kader yang mendukung Jokowi, Demokrat, khususnya AHY akan dilirik. AHY, kata dia, bisa dilirik untuk jadi menteri dalam kabinet Jokowi. Demokrat masih menyimpan harapan.

“Kalau Jokowi menang, Demokrat akan diakomodasi di kabinet, minimal AHY tetap digandeng."

Menurut Qodari, akan lebih menguntungkan bagi Demokrat dan AHY bila  Jokowi dan Ma'ruf Amin yang menang. Sebab, Jokowi sudah tak punya kesempatan maju kembali, sedangkan Ma'ruf sudah terlalu senior dan bukan kader partai. AHY akan rugi besar kalau Prabowo dan Sandi yang menang.

“Sama dengan menutup atau membunuh karier politiknya sendiri."

Qodari berpendapat, ada ketidaknyamanan Partai Demokrat dalam proses koalisi yang terjadi dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Menurut dia, Demokrat kecewa dengan proses koalisi namun tak memiliki pilihan lain.

"Mau balik ke Jokowi sudah susah, waktunya juga sudah mepet, tetapi dengan Prabowo juga tak happy," ucapnya.

Belakangan, Demokrat sedang menimbang kebijakan khusus berupa pemberian dispensasi bagi kadernya di empat provinsi untuk tetap mendukung Jokowi pada Pileg dan Pilpres 2019. Mereka tak diwajibkan menyuarakan dukungan pada Prabowo - Sandiaga Uno, meski secara resmi Demokrat berkoalisi dengan pasangan ini.

--- Simon Leya

Komentar