Breaking News

NASIONAL AJI Minta Polisi Tindak Tegas Pelaku Kekerasan Jurnalis 02 May 2017 18:53

Article image
Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Suwarjono. (Foto: Ist)
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat kekerasan terhadap jurnalis di tahun 2017 sebanyak 24 kasus kekerasan mulai dari penyerangan, intimidasi, perampasan alat kerja hingga pemukulan.

JAKARTA, IndonesiaSatu.coKasus kekerasan terhadap jurnalis sangat mengkhawatirkan karena tindakan kekerasan tidak hanya dilakukan oleh aparat, tetapi kelompok intoleran. Ia mencontohkan kasus kekerasan yang dilakukan ketika masa Pilkada DKI Jakarta kepada jurnalis di dua televisi swasta.

Hal ini disampaikan Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Suwarjono dalam pertemuan World Press Freedom Day 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa (2/5/2017).

"Sebelumnya kelompok intoleran tidak mengambil bagian kekerasan, sekarang mereka mulai aktif bahkan kasus Pilkada misalnya menjadi salah satu contoh banyaknya kekerasan yang muncul belakangan ini di Jakarta. Dua lembaga televisi yang diusir karena tidak boleh mengambil (meliput), bahkan diintimidasi, kemudian ada yang dilakukan kekerasan dari ini," ujar Suwarjono.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mencatat kekerasan terhadap jurnalis di tahun 2017 sebanyak 24 kasus kekerasan mulai dari penyerangan, intimidasi, perampasan alat kerja hingga pemukulan. Adapun kasus kekerasan yang terjadi pada tahun 2015 mencapai 44 kasus dan pada tahun 2016 sebanyak 78 kasus.

Tahun 2017 ini juga tidak ada penurunan, bahkan masih meningkat sampai bulan April sudah ada 24 kasus kekerasan yang dialami temen-teman jurnalis," ungkap Suwarjono.

Mernurut Suwarjono, maraknya kekerasan terhadap jurnalis, dikarenakan belum adanya penegakkan hukum dari kepolisian untuk menindak tegas pelaku. Pembiaran kekerasan terhadap wartawan dapat menjadi catatan buruk di dunia pers

"Selama dua tahun terakhir dari 78 kasus tambah 24 kasus kekerasan, tidak ada satupun yang diproses hukum. Ini yang kemudian menyebabkan kejadian tersebut terulang dan pelaku semakin merajalela, karena mereka merasa apa yang mereka lakukan tidak akan mempunyai imbas apapun, “pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar