Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

REFLEKSI Aktualisasi Diri: Proses Tiada Henti 17 Oct 2016 02:24

Article image
Tak selalu setenang danau ini, upaya aktualisasi diri ditandai 'ups and downs'. (Foto: Ist)
Mengutip Rogers, motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Pribadi yang sehat dan matang terus berjuang dan bergerak dalam proses aktualisasi diri, melakukan upaya realisasi segenap potensi dirinya.

Oleh Valens Daki-Soo

 

TATKALA masih mahasiswa filsafat di Flores, persisnya di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero-Maumere, saya suka menyantap pemikiran tokoh terkemuka dari mazhab Psikologi Humanistik, Carl Ransom Rogers (1902-1987). Selain Rogers, Abraham Maslow juga menarik. Masih teringat, ketika masih kuliah tahun kedua saya sudah sempat menemui dosen Psikologi dan Filsafat Manusia kelahiran Belanda, Guus Cremers, bahwa kelak jika menulis skripsi saya akan mengambil topik tentang Rogers.

Pendek cerita, dari Rogers saya mengagumi pendekatan “baru dan berbeda”nya dalam menghadapi para klien. Jika sebelumnya mereka yang ‘sakit’ atau terganggu secara psikologis cenderung diperlakukan sebagai obyek terapi, Rogers mengubah mindset, pola pendekatan dan cara merawat para klien problem psikologis dengan metode terapi klinis yang terkenal, yakni terapi yang berpusat pada klien (client-centered therapy).

Jika Abraham Maslow masyhur dengan formula aktualisasi diri sebagai level paling tinggi dalam hirarki kebutuhan manusia, Rogers mengagumkan saya dengan terminologi “pribadi yang berfungsi sepenuhnya” (fully functioning person) sebagai kepribadian yang ideal (the ideal personality). Hemat saya, keduanya memintal benang merah yang sama dalam cara pandang terhadap aktualisasi diri manusia, atau tentang pribadi yang mengaktualisasi diri.

Rogers tidak membangun teorinya dalam sekejap. Dia melewati periode kanak-kanak yang keras, di bawah bimbingan orang tua yang religius-konservatif dari latar belakang kristiani yang amat menekankan kebajikan moral-etis. Teorinya tentang terapi yang berpusat pada klien itu disusun di atas batu-batu pijak pengalaman yang dilewatinya sebagai terapis klinis profesional.

Meski elemen-elemen dasar teori Rogers sekilas mirip dengan tokoh legendaris dari aliran psikoanalisis Sigmund Freud, namun pada hakikatnya Rogers berbeda dengan Freud. ‘Berbelok’ dari Freud, Rogers memandang bahwa manusia pada dasarnya baik atau sehat. Dengan kata lain, Rogers beranggapan bahwa kesehatan mental merupakan proses perkembangan hidup alamiah.

Jadi, jika seseorang mengalami suatu gangguan mental atau penyakit kejiwaan ataupun melakukan kejahatan serta persoalan kemanusiaan lainnya, itu dinilainya sebagai “penyimpangan dari kecenderungan alamiah”.

Namun, tak perlu terlalu jauh kita menyelam secara teoritis ke dalam kolam pemikiran Rogers. Mari kita cukup menghirup pemikiran inspirasionalnya tentang bagaimana kita membangun kepribadian yang baik dan sehat. Ini tidak hanya berlaku untuk anak-anak muda yang sedang dalam proses pembentukan karakter, melainkan untuk siapa saja, pada level usia manapun.

Dari Rogers – yang masyhur sebagai tokoh psikologi humanistik, beraliran fenomenologis-eksistensial, terapis/psikolog klinis – kita memetik buah pemikiran yang positif tentang individu, tentang diri kita sendiri sebagai pribadi. Menurut Rogers, setiap pribadi atau individu memiliki kemampuan dalam dirinya sendiri – kita dapat menyebut itu sebagai “kapasitas personal yang bersifat inheren – untuk memahami dirinya, menentukan arah dan tujuan hidup, serta menangani masalah-masalah kehidupan yang mesti dihadapi.

Dalam konteks terapi psikologis, atau jika seseorang memiliki suatu masalah psikologis, Rogers hadir dengan pandangan konstruktif bahwa setiap klien atau seseorang dapat menghadapi dan mengatasi masalah psikisnya, dengan syarat ini: konselor atau terapis mendukung dengan menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk mengaktualisasi diri.

Nah, inilah kata kunci yang perlu dipegang, “aktualisasi diri”. Karena menurut Rogers, tanda dan motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri.

Orang yang sehat dan matang secara terus-menerus berjuang dan bergerak dalam proses aktualisasi diri, melakukan upaya realisasi segenap potensi dirinya. Pribadi yang sehat memandang dan melakukan upaya optimalisasi diri sebagai “danau yang tak bertepi”.

Kita bisa katakan, menjadi diri sendiri dan aktualisasi diri adalah proses tiada henti (never ending process).

Ini berarti selama kesadarannya aktif dan sepanjang perjalanan hidupnya, seorang pribadi yang sehat selalu mendorong dirinya untuk semakin menjadi diri sendiri, seraya memaksimalisasi segala kemampuan dan bakat yang terberi pada dirinya.

Tentu saja, proses aktualisasi diri kita tak selalu tenang dan teduh. Upaya memperjuangkan kebaikan dan kemajuan tak selamanya lancar dan mulus. Ada "ups and downs" alias gelombang pasang dan surut, naik dan turun. Namun, pribadi yang sehat dan matang terus melangkah maju dengan kekuatan batin, keyakinan, harapan dan keberanian.

Jadi, jika Anda cepat puas dengan pencapaian yang ada, atau merasa sudah cukup dan merasa “saatnya istirahat” karena sudah mencapai yang terbaik, kemungkinan Anda sedang menyabotase proses aktualisasi dan maksimalisasi potensi diri. Apalagi kalau ada orang yang ‘belum apa-apa’ namun sudah menganggap diri hebat dan tak ingin memekarkan diri lebih jauh lagi, sangat mungkin orang itu sedang memadamkan api aktualisasi diri secara dini.

Pribadi yang mengaktualisasi diri menghargai masa lalunya, menerima kenyataan bahwa dirinya dibentuk oleh segala pengalaman masa silam. Serentak dia pun sadar dan paham bahwa masa lalu hanya mempengaruhi cara dia memandang masa sekarang yang juga mempengaruhi kepribadiannya. Namun, pribadi yang mengaktualisasi diri memilih untuk tetap fokus pada apa yang terjadi sekarang ini, dan bukan masa lampaunya.

Selamat berjuang mengaktualisasi diri, sambil tetap sadar bahwa kehidupan yang nyata adalah kehidupan “hic et nunc” (di sini dan kini), dengan membiarkan pengalaman yang telah berlalu mengalir dalam arus kelampauan waktu.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, pengamat militer, entrepreneur. Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

 

Komentar