Breaking News
  • Indonesia-Australia jajaki tarif 0 persen untuk tiga komoditas
  • Kemendag amankan minuman beralkohol tanpa izin impor
  • Laos tertarik alutsista dan pupuk Indonesia
  • OJK: Masyarakat banyak belum paham fungsi produk jasa keuangan

INSPIRASI Almamater Saya Adalah Buku! 09 Oct 2017 11:54

Article image
Malcolm X, ketika memperjuangkan kebebasan dan kesetaraan kaum kulit hitam dengan kulit putih selepas keluar dari penjara. (Foto: Ist)
Menurut Malcom, (membaca) buku dapat mengobati keputusasaan manusia. Bahkan, buku menyiapkan solusi untuk mengatasinya.

TAHUKAH Anda sosok Malcolm Little atau lebih dikenal sebagai Malcolm X?

Malcolm X, adalah salah satu politikus muslim dunia paling terkenal dan juga aktivis hak asasi manusia. Malcolm tak segan-segan menuntut otonomi khusus bagi warga kulit hitam. 

Sejak lahir di Kota Omaha, Negara Bagian Nebraska, Amerika, 19 Mei 1925, Malcolm mengalami masa kecil suram. Pada masa itu, masih berlaku politik diskriminasi antar ras (disebut segregasi) di Amerika, terutama di kawasan selatan. Misalnya, warga kulit hitam tidak boleh naik bus bersama orang kulit putih, minum dari keran sama, atau makan di restoran sama.

Saat itu Malcolm baru berusia enam tahun. Dia tumbuh menjadi anak nakal dan membenci kulit putih. Beranjak remaja, dia aktif merampok rumah orang kaya. Pada 1946, Malcolm masuk penjara karena tertangkap basah menadah jam curian.

Dalam penjara itulah nasib Malcolm berubah. Dia berkenalan dengan Reginald, pegiat Nation of Islam (NOI), sebuah kelompok radikal kulit hitam muslim. Dia tertarik pada ajaran NOI lantaran mengajarkan perlawanan pada kulit putih dan jalan hidup lurus sesuai ajaran Islam.

Malcolm lantas mengganti namanya menjadi Malcolm X. "Kata X menggambarkan identitas sejati saya tidak lagi diketahui, saya adalah keturunan seluruh warga Afrika tertindas, tanpa nama," ujarnya.

Selepas keluar dari penjara, Malcolm menjadi pembicara yang hebat dan pakar tentang perjuangan nasib orang kulit hitam. Namun, Malcolm X lebih banyak disoroti tentang perjuangannya menegakkan hak asasi manusia. Hanya sedikit orang yang mengambil inspirasi darinya tentang belajar dari buku. Menurut Malcom, buku dapat mengobati keputusasaan manusia. Bahkan, buku menyiapkan solusi untuk mengatasinya.

Terkadang Anda patah semangat karena semua usaha yang dilakukan tidak membuahkan hasil. Perjuangan dan semua usaha seakan sia-sia, depresi terus menyelimuti tubuh. Apa yang Anda pelajari tidak ada hasilnya. Anda merasa cemburu dengan kehebatan orang lain dan bahkan kecewa dengan diri sendiri. Tetapi buku punya kekuatan magis untuk mengubah segalanya!

Berikut disarikan kesaksian langsung Malcolm X tentang bagaimana mula dia belajar, saat dia berada di dalam penjara Charlestown Prison.

“Karena  merasa tidak bisa membaca bahkan sulit mengungkapakan apa yang ingin saya katakan, saya tahu pengetahuan saya tentang kata-kata terbatas. Kadang saya merasa iri dengan Bimbi, sahabat saya yang lebih intelek dan bisa mengutarakan apa yang dimaksudnya.

Karena waktu yang cukup banyak di penjara, akhirnya saya mendapatkan ide dari apa yang bisa saya lakukan, yakni belajar dari kamus. Saya habiskan selama dua hari untuk melihat-lihat kamus bergambar yang bentuknya seperti ensiklopedi tersebut. Lalu, di hari-hari berikutnya saya memutuskan untuk belajar dengan cara menyalin.

Saya ambil pena dan kertas dan mulai menyalin dari halaman pertama hingga titik- komanya. Lantas, setelah menulis saya membaca ulang apa yang telah saya salin tersebut. Ketika keesokan harinya, saya merasa puas dengan betapa banyak kata yang bisa saya pelajari, saya pun mulai terkagum-kagum betapa banyaknya kata yang tidak saya ketahui selama ini. Lalu saya termotivasi untuk menyalin kamus itu lagi. Mula-mula dari abjad A, lalu B dan seterusnya hingga seluruh kamus itu berhasil saya salin.

Makin lama, kemampuan saya menyalin dan membaca makin cepat. Saya mulai sadar betapa bermanfaatnya disiplin menyalin itu, saat pertama kali saya mamapu membaca buku tebal bahasa inggris tanpa banyak kesulitan. Saya senang sekali. Lalu saya mulai banyak membaca,  mulai dari Al Quran, majalah, buku bekas dan lainnya. Termasuk yang menggembirakan adalah saya mulai bisa menggunakan kata-kata itu dalam pembicaraan saya.

Suatu ketika atas pidato saya, pernah seorang wartawan dari London menelepon dan bertanya, ‘dimanakah almamatermu?’ saya langsung menjawab “almamater saya adalah buku!”.

Itulah sepenggal kisah Malcolm X, tentang cara dia belajar di tengah tekanan saat berada di dalam penjara. Buku dapat mengantarnya sebagai pegiat dan pembicara yang mahir tentang perlunya hak asasi manusia.

Mungkin Anda perlu mempertimbangkan dan menerapkan kesaksian Malcolm X dalam hidup sehari-hari.

---Hendrik Penu

Komentar