Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

WAWANCARA Ambrosius Loho: Kolintang Menembus Batas-Batas Global 07 Jan 2017 11:20

Article image
Ambrosius Loho dan anak-anak binaan tampil di ajang pentas seni budaya di Jakarta Oktober 2016. (Foto: Redem Kono)
Terdapat nilai-nilai yang sangat kaya dan nilai itu sudah dan sementara dirasakan oleh para pemain kolintang tapi juga para penikmat kolintang.

JAKARTA, IndonesiaSatu.coGlobalisasi ditandai dengan proses memodernkan (modernisasi) di pelbagai tingkat kehidupan. Akibatnya, banyak nilai-nilai kearifan lokal yang tergerus, hilang, bahkan musnah. Wawancara media IndonesiaSatu.co pada rubrik ini mengangkat tema sebaliknya bahwa globalisasi dapat menyebabkan glokalisasi. Artinya nilai-nilai dari tradisi lokal dapat menembus batas-batas global karena memiliki nilai-nilai yang penting bagi masyarakat, Indonesia, bahkan dunia. 

Kolintang yang lahir dari kebudayaan Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan fakta glokalisasi ini. Wawancara pada Sabtu (07/01/2016) dengan Ambrosius Loho  praktisi dan pengamat muda kolintang yang sekarang studi di Pascasarjana STF Driyarkara Jakarta akan membenarkan glokalisasi dalam musik kolintang ini.

Mengapa Anda terjun ke dalam seni musik kolintang?

Betapa banyak  yang  sangat concern dengan kekayaan tradisi di Indonesia, namun tak sedikit pula yang seakan melupakannya karena (mungkin) didominasi oleh pikiran bahwa hal itu sangat jadul, ketinggalan zaman, dan tidak menarik (?) Atas pemikiran yang sederhana itu, saya mencoba melihat dari sisi lain tentang tradisi dan upaya pelestariannya.

Saya meyakini bahwa banyak pegiat seni kolintang, pelatih, praktisi, dan pemikir seni kolintang, yang terus berusaha untuk mendalami seni kolintang ini lewat dunia praktis (dunia pelatihan). Dan di antara sekian banyak orang yang mencoba berprofesi seperti tersebut di atas, penulis merasa ada di dalamnya.

Namun, lambat laun saya mencoba merefleksikan melebihi dunia praktis ini. Bahwa ternyata seni kolintang adalah bidang yang menarik untuk direfleksikan bukan sekedar tentang sejarahnya, pengembangannya dalam dunia praktis, dan bukan pula dalam hal cara bermainnya, melainkan merefleksikan tentang apa yang bisa didapatkan ketika bermain kolintang? Apa ‘akibat’ praktis dari kita berkesenian kolintang? Dan banyak pertanyaan lagi.

Sejak belajar kolintang pertama kali, sekitar tahun 1990, saya sudah tahu persis bahwa di kampung saya (waktu itu) disebut Desa Taratara Kecamatan Tomohon, sudah ada kelompok kolintang yang terdiri dari paman dan keluarga dan membentuk kolintang PONBERS (Pontoan Bersaudara). Adapun Pontoan itu adalah marga dari Ibu saya, dan yang masuk dalam grup kolintang Ponbers ini adalah kakak adik atau sepupu dari ibu saya (yang bermarga Pontoan).

Sejak saat itu, saya mulai belajar secara autodidak (melihat para paman saya bermain dan mencoba mempraktekkannya secara sembunyi-sembunyi, ketika mereka tidak ada di tempat). Ketika itu memang tidak begitu instant saya belajar. Namun karena keinginan yang kuat, akhirnya saya bisa bermain kolintang a la kadarnya. Event yang saya ingat persis adalah ketika saya sekolah dan berasrama di Seminari Menengah Fransiskus Xaverius Kakaskasen, saya masuk dalam anggota Grup Kolintang Seminari Kakaskasen waktu itu. Dan seingat saya, ketika ada satu event/acara, yang menyaksikan antara lain adalah para paman saya yang adalah anggota grup kolintang Ponbers itu. Di situlah saya mulai terus belajar dan belajar. Bahkan sejak masa kuliah saya di Seminari Tinggi Pineleng-Manado Sulawesi Utara.

Dengan modal yang alakadarnya tersebut, tahun 2008-2009 penulis mencoba berguru pada beberapa pelatih antara lain Bpk. Berty Rarun dan Bpk. Boy Makalew (dalam Grup Kolintang Tamporok). Selama kurun waktu itu, penulis mencoba concern terus dan akhirnya saya kembali ke Manado dan Tomohon, kota kelahiranku dan mulai belajar melatih beberapa grup kolintang. Sambil mencoba melatih kolintang di SMA Katolik KaritasTomohon, penulis juga belajar banyak dari Pelatih SMP Katolik Gonzaga Tomohon waktu itu, (Alm). Bpk. Frans Pandeynuwu. Sejak 2010 sampai sekarang saya termasuk pelatih yang tanpa maksud meninggikan diri, cukup konsen dan komit untuk terus berkarya dalam music kolintang.

Dapat dikatakan bahwa fakta perkenalan dengan alat musik kolintang, berawal dari cerita singkat di atas, namun yang semakin membuat saya penasaran adalah adakah nilai-nilai lain yang bisa diangkat dari seni tradisional kolintang itu? Jawaban yang saya dapatkan adalah Ya. Terdapat nilai-nilai yang sangat kaya dan nilai itu sudah dan sementara dirasakan oleh para pemain kolintang tapi juga para penikmat kolintang.

Apa dasar Anda untuk mencoba menggali nilai-nilai filosofis dari salah satu tradisi ini?

Fondasi saya untuk terus menggali nilai-nilai filosofis dari kolintang adalah bahwa fakta bahwa dengan belajar kolintang, kita juga belajar bagaimana kesatupaduan dalam kehidupan bersama. Kita juga belajar bagaimana dunia yang begitu luas dan penuh dengan khasanah musik modern, harus pula diberi nuansa tradisi yang amat sangat kaya dan cukup signifikan.

Lagi pula kolintang tidak cukup hanya dimainkan, Kolintang harus direfleksikan. Ditangkap nilai-nilai positifnya bagi kita. Saya harap ini juga dilakukan pada alat-alat musik tradisional yang lain. 

Bagaimana prospek kolintang di tengah arus globalisasi (genre musik yang modern sekelas jazz atau jenis lainnya)?

Jika melihat prospek yang ada, terutama melihat perkembangan musik modern, kolintang juga akan sangat menjanjikan. Menjanjikan dalam arti, dalam perkembangan musik modern, garapannya bisa diaplikasikan dalam music tradisionalnya. Apapun yang bisa dimainkan dalam musik modern, bisa pula dimainkan dalam musik kolintang. Saat ini, banyak penggarapan kolintang yang mulai berkaca pada musik modern, mengingat persaingan dalam musik sangat cepat.

--- Redem Kono 

Komentar