Breaking News

PERUMAHAN Angelo Wake Kako Hadiri Peletakan Batu Pertama Bantuan BSPS Kementrian PUPR 16 Oct 2020 17:51

Article image
Anggota DPD RI, Angelo Wake Kako (AWK) saat mengikuti ritual peletakan batu pertama BSPS Kementrian PUPR di Ende, Flores, NTT. (Foto: Ian Bala)
Angelo menyebutkan bahwa Provinsi NTT mendapatkan 500 bantuan perumahan dari Kementerian PUPR dari tiga jenis bantuan perumahan berupa; bantuan rumah susun (Rusun), bantuan perumahan khusus dan BSPS.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Angelo Wake Kako (AWK), turut menghadiri acara peletakan batu pertama Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI bagi masyarakat di NTT.

Angelo menyebutkan bahwa Provinsi NTT mendapatkan 500 bantuan perumahan dari Kementerian PUPR dari tiga jenis bantuan perumahan berupa; bantuan rumah susun (Rusun), bantuan perumahan khusus dan BSPS.

Untuk BSPS, dialokasikan 100 unit kepada tiga Kabupaten yakni Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sikka dan Kabupaten Ende.

"Jadi untuk bantuan rumah khusus, bisa dialokasikan apabila memenuhi persyaratan khusus. Syaratnya ialah status tanah harus milik Pemerintah Daerah (Pemda). Selanjutnya, agar bisa dialokasikan, harus pemda berperan. Saya sudah sampaikan ke Pak Bupati mengenai hal ini," kata Angelo di sela-sela peletakan batu pertama bantuan perumahan BSPS di Ende, Rabu (14/10/2020).

Anggota Komite II DPD RI itu menyatakan bahwa Pemda setempat harus berperan untuk mendapatkan alokasi bantuan rumah khusus kepada masyarakat. Dalam hal ini, masyarakatlah yang menerima kunci.

"Jadi, petunjuk teknis (juknis) memang harus begitu. Kita memang tetap mendorong Pemda untuk duduk bersama membahas ini. Karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan rumah layak huni,"ujar Angelo.

Syukur atas Keberpihakan Pemerintah

Saverinus Meta (54), warga Kelurahan Paupire, Kecamatan Ende Tengah, Kabupaten Ende merasa bersyukur setelah menerima BSPS yang diberikan pemerintah kepadanya.

Baginya, Bantuan rumah dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian PUPR tersebut merupakan bentuk keadilan dan keberpihakan pemerintah kepada masyarakat kecil.

"Saya sangat bersyukur karena akhirnya dibantu dengan membangun rumah. Ini bentuk kepedulian terhadap kami. Saya merasa sangat terbantu dan saya dan keluarga menyampaikan berlimpah terima kasih," kata Saverinus, usai peletakan batu pertama rumahnya.

Meski hanya sebatas stimulan, Saverinus dan keluarganya mengaku sangat bersyukur dan berjanji akan menyelesaikan pekerjaan rumah tersebut tepat waktu hingga Desember 2020.

"Selama ini kami tinggal di rumah darurat. Jadi bantuan ini sangat membantu. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih," ujarnya terharu.

Sementara Camat Ende Tengah, Emanuel Taji mengatakan bahwa sasaran bantuan perumahan memang benar-benar terjadi kepada masyarakat akar rumput. Menurutnya, masih banyak masyarakat di wilayahnya yang tinggal di rumah yang dikategori sebagai rumah tak layak huni.

"Masih banyak masyarakat yang sulit atau belum punya rumah layak huni. Untuk itu, kami titip pesan agar tahun berikut bisa realisasi lagi," harap Emanuel.

Senada dengan Camat, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (PRKP) Ende, Fransiskus Tolo, membenarkan bahwa masih banyak masyarakat yang mengantre program-program APBN semacam itu.

Sebab, program bantuan perumahan rakyat sangat menyentuh warga yang kesulitan secara ekonomi untuk tinggal pada rumah yang layak.

"Bantuan ini memang hanya sekedar merangsang, namun masyarakat langsung merasakan. Untuk itu, saya berharap agar masyarakat juga harus siap swadaya untuk mendukung program-program ini," pinta Kadis Fransiskus.

Sementara Fasilitator BSPS, Nikolaus K. Kako menyebutkan bahwa bantuan Tahun Anggaran 2020 tersebut direalisasikan terhadap masyarakat di empat wilayah, yakni Kelurahan Paupire, Desa Loboniki di Kecamatan Kotabaru, Desa Kerirea di Kecamatan Nangapanda dan Desa Wolokaro di Kecamatan Ende.

Masing-masing desa mendapatkan 10 unit rumah stimulan dengan alokasi biaya sebesar Rp 17.500.000. Biaya itu dipergunakan untuk mengadakan material sebesar Rp 17.000.000 dan biaya Hari Orang Jerja (HOK) atau tukang sebesar Rp 2.500.000.

"Jadi dalam juknis itu untuk peningkatan kualitas. Penerima bantuan menerima material sesuai nominal dari pihak suplayer, bukan uang tunai. Sementara untuk tukang nanti dibayar cash," kata Nikolaus.

Mengenai proses pembangunan, jelas dia, sedang dilakukan pendropingan material. Batas pembangunan sesuai dengan tahun anggaran berjalan.

"Target semua memang bulan Desember selesai. Saat ini semua masih proses pengerjaan," terangnya.

--- Guche Montero

Komentar