Breaking News

LINGKUNGAN HIDUP Ansy Lema: Pembabatan Hutan Bowosie Merusak Ekosistem dan Kelangsungan Hidup Masyarakat 29 Aug 2021 13:19

Article image
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Ansy Lema. (Foto: Ist)
Menurut Ansy, pembabatan hutan Bowosie adalah kabar buruk bagi masyarakat Labuan Bajo.

JAKARTA, IndonesiaSatu-- Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Yohanis Fransiskus Lema, secara tegas mengkritik pembabatan 10 hektar Hutan teregister RTK 108 Bowosie, di Desa Nggorang-Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Politisi yang akrab disapa Ansy itu menilai, pembabatan yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf) merusak keutuhan ekosistem (hutan)dan mengganggu kelangsungan sumber mata air bagi masyarakat Labuan Bajo.

Kritik tegas politisi muda PDI Perjuangan tersebut disampaikan langsung dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, Kamis (26/8/2021).

“Kami mendapat kiriman foto, video dan berita pembabatan Hutan Bowosie. Pembabatan 10 hektar hutan dilakukan KLHK-Kemenparekraf untuk lokasi proyek pembibitan kayu dan buah-buahan. Pohon-pohon ditebang dan vegetasi lokal dibabat tanpa peremajaan (penanaman),” ujar Ansy Lema dalam rilis yang diterima hallobisnis.com, Sabtu (28/8/2021).

Ancaman Krisis Air

Menurut Ansy, pembabatan hutan Bowosie adalah kabar buruk bagi masyarakat Labuan Bajo.

Pasalnya, lokasi penebangan hutan sangat dekat dengan lokasi mata air di Hutan Bowosie dan merupakan harapan satu-satunya wilayah tangkapan air di Labuan Bajo untuk keperluan air bersih dan pertanian.

Diterangkan bahwa dari 14 titik mata air yang banyak dipakai langsung oleh masyarakat Labuan Bajo, banyak yang sudah kering total dan bahkan sudah mati aliran airnya. Penghancuran pohon semakin melemahkan kemampuan hutan untuk menangkap air.

“Hutan Bowosie adalah sumber mata air minum satu-satunya bagi masyarakat Kota Labuan Bajo. Harapan masyarakat kini bertumpu dari hutan Bowosie saja, karena masih ada 3 aliran kali yang berhulu dari Bowosie yang masih dapat menunjang aliran sungai Wae Mese; yakni aliran Wae Nuwa, Wae Sipi dan Wae Baling. Jika hutan dibabat, maka rakyat terancam mengalami kesulitan air bersih. Demikian pula, sungai terancam kering, sehingga pasokan air untuk lahan-lahan pertanian berkurang,” papar Ansy.

Apalagi saat ini, lanjut dia, pemerintah telah mengalih fungsi lahan seluas 400 hektar di hutan Bowosie untuk kepentingan bisnis pariwisata yang dikelola Badan Pelaksana Otorita-Labuan Bajo Flores (BPO-LBF).

Dijelaskan, dalam desain perencanaan, lahan alih fungsi akan dibangun hotel, perumahan komersial, restoran, dan teater.

"Pembabatan hutan semakin berakibat buruk bagi masyarakat Labuan Bajo karena mereka kehilangan hutan sekaligus air. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Masyarakat kehilangan hutan, serentak pula kehilangan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, juga untuk pertanian dan peternakan,” singgung Ansy.

Ansy mengingatkan, status hutan Bowosie adalah hutan produksi dan bersebelahan dengan hutan lindung.

Maka, apabila akan digunakan untuk tujuan non-kehutanan, terlebih dahulu harus mengurus analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan mendapatkan persetujuan lingkungan untuk mengurus persetujuan penggunaan kawasan hutan.

Namun, kenyataannya saat ini pembabatan hutan belum ada izinnya, tidak transparan, dan cenderung disembunyikan dari masyarakat.

“Yang saya ketahui, pembabatan ini belum ada izin. Tanpa izin, tindakan pembabatan hutan adalah ilegal dan bisa dipidana. Jadi tolong ini harus dilakukan AMDAL. Bilamana belum ada, proyek tersebut harus dihentikan. Bagaimana mungkin pembabatan hutan dilakukan tanpa AMDAL?” sorot Ansy.

Lestarikan Hutan Bowosie

Ansy mempertanyakan kebijakan KLHK dan Kemenparekraf menebang pohon-pohon usia dewasa dan membabat vegetasi lokal di Hutan Bowosie.

Menurut Ansy, tidak tepat membangun 'pariwisata impor' dengan cara membabat pohon khas vegetasi lokal untuk menanam pohon atau bunga yang didatangkan dari luar negeri dengan tujuan mempercantik bukit-bukit sekitar Labuan Bajo.

"Jelas hal itu akan sangat berbahaya dalam perspektif ekologis karena merusak keseimbangan alam. Aneh dan tidak masuk akal; menebang pohon dan membabat vegetasi lokal untuk membudidayakan benih pohon dan buah-buahan impor. KLHK-Kemenparekraf seharusnya menghargai dan mengembangkan varietas-varietas lokal yang sudah adaptif dengan konteks alam-wilayah di Labuan Bajo, bukan pohon dan buah impor,” tegas Ansy.

Ansy mendesak KLHK untuk mempertahankan kelestarian ekosistem alami hutan Bowosie.

Ansy beralasan, hutan Bowosie adalah sumber air bagi kota Labuan Bajo serta kampung-kampung sekitar, pelindung pemukiman dari potensi bencana banjir, penjaga keseimbangan oksigen dan karbondioksida, habitat alami dari sejumlah burung endemik Flores, dan menjadi tempat rekreasi yang sejuk bagi masyarakat.

“Hutan Bowosie sebagai peyangga ekologi Kota Labuan Bajo dan sekitar. Karena itu, biarkan Hutan Bowosie tetap asri dan asli dengan vegetasi alamnya. Bila perlu, berikan edukasi dan pelibatan partisipatif masyarakat dalam konservasi dan pengelolaan hutan produksi, bukan memberi peluang emas/karpet merah pada perusakan atas nama bisnis pariwisata,” tutupnya.

--- Guche Montero

Komentar