Breaking News
  • Divestai Tuntas, Freeport Ganti Status Menjadi IUPK
  • IHSG menguat menyusul akumulasi beli investor asing
  • Jawa Barat diantisipasi dalam Pemilu 2019 karena miliki pemilih paling banyak
  • Libur Natal 2018, 71 Outlet BNI Tetap Beroperasi
  • Menperin: industri tak terdampak tsunami Selat Sunda

KOLOM Apakah Yesus Kristus Lahir dalam Hatimu? 24 Dec 2018 11:06

Article image
Yesus lahir di kandang domba dalam peristiwa Natal. (Foto: Ist)
Natal bukan inisiatif manusia mendekati Allah, tetapi gerakan kasih Allah mendekati manusia.

Oleh Redem Kono

 

APAKAH Yesus Kristus telah lahir dalam hatimu? 

Hari ini, pada 24 Desember 2018, Hari Raya Natal akan dirayakan 1,4 miliar umat Katolik seluruh dunia. Pandangan teologi Katolik meriwayatkan: Pada 24 Desember, malam yang hening dan sederhana, telah lahir Juru Selamat, Yesus Kristus yang akan menyelamatkan dunia.

Sepanjang pembacaan sederhana saya, kelahiran Natal “mengembalikan” relasi manusia dengan Allah. Kita tahu bahwa jatuhnya manusia ke dalam dosa asal yang dikisahkan secara simbolik-dramatis dalam “peristiwa makan buah terlarang”, telah menjauhkan relasi antara Allah dan manusia. Dosa pertama manusia adalah bentuk pemberontakan manusia untuk mengambil alih peran Allah, karena terlampau angkuh akan keperkasaannya sendiri.

Namun, harus dijernihkan terlebih dahulu. Bukan Allah yang menjauhi manusia, tetapi justru sebaliknya. Dalam Kitab Kejadian digambarkan: Setelah “makan buah terlarang”, manusia mengambil inisiatif menyembunyikan dirinya sendiri yang telanjang. Ia takut setelah menyadari telah “telanjang”, ditelanjangi dosa-dosanya sendiri! Ia hendak lari dari Tuhan setelah mencoba menolak Tuhan. Ia mulai takut akan Tuhan. Tuhan mulai dinilai sebagai sosok mengerikan penuh hukuman.

Kalau kita kita cermati hubungan antara manusia dan Allah sebelum (pra) “peristiwa terlarang”, Allah tampak sangat dekat dengan manusia. Dialog-dialog yang dibangun menunjukkan relasi intim Allah dengan manusia, seperti hubungan Bapak penuh kasih kepada anak-anaknya.

Keadaan ini berubah pasca dosa asal. Manusia menjauhkan diri dari Allah karena perbuatannya sendiri. Maka setelah itu, Kitab Suci menggambarkan tangan Tuhan yang menghukum manusia, seperti hukuman Tuhan kepada bangsa Israel: dijadikan tawanan perang, dibuang ke bangsa lain, datangnya penyakit, dan lain-lain. Allah digambarkan melalui cara manusia (menggambarkan Allah). Maka sosok Allah yang mengerikan dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) adalah sebentuk imajinasi manusia menghadapi ketakutan-ketakutan manusiawinya sendiri.

Dinilai manusia demikian, Allah tinggal diam. Ia tidak mau membiarkan manusia dikuasai oleh angan-angan imajinatif tentang diri-Nya. Ia bukan Allah yang kejam, tetapi Allah yang Maha Kasih. Bahkan, Allah adalah Kasih, personifikasi dari Kasih. Maka, Allah mulai merancang satu peristiwa Kasih paling monumental, untuk mengembalikan relasi-Nya dengan manusia. Ia mengirimkan Putra-Nya, Yesus Kristus ke dalam situasi manusia, untuk merajut-mengembalikan relasi-Nya dengan manusia.

Penginjil Yohanes tepat meringkas inisiatif kasih Allah tersebut: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Maka muncul peristiwa Natal. Natal bukan inisiatif manusia mendekati Allah, tetapi gerakan kasih Allah mendekati manusia.

Allah penuh ketulusan mendekati manusia, mengajak manusia agar memperbaiki relasi-Nya dengan manusia. Namun, di sinilah Allah membedakan lagi penggambaran manusia terhadap sosok Kristus, sebagaimana pernah dinubuatkan-Nya dalam PL. Kristus tidak lahir dari kemegahan bak seorang raja, tetapi Ia justru memilih dilahirkan dari kesederhanaan paling sederhana: kesederhanaan Perawan Maria, bayi sederhana, kesederhanaan para gembala, kesederhanaan domba, kesederhanaan palungan, kesederhanaan lampin, ataupun kesederhanaan malam.

Natal bukan hanya gerakan kasih Allah mendekati manusia, tetapi gerakan Allah memperbaiki gambaran manusia terhadap diri-Nya. Allah mengharapkan, agar Natal memperbaiki imajinasi atau cara kita menggambarkan diri-Nya. Karena cara manusia menggambarkan Allah dalam hidupnya akan mengantar manusia pada implikasi atau konkretisasi yang salah. Contoh, kalau Allah digambarkan sebagai sosok mengerikan penuh hukuman, maka satu-satunya cara adalah menerapkan sosok Allah demikian adalah memberi hukuman, meniru gambaran Allah penuh kekerasan. Seorang teroris, misalnya, mendasarkan diri pada gambaran Allah penuh hukuman, kepada orang yang yang tidak sependapat dengannya.

Yang saya pantau selama ini (saya terbuka untuk dikritik), Natal cenderung dirayakan penuh kemegahan lahiriah: gaun-gaun atau pakaian-pakaian berharga mahal, pesta perayaan Natal yang berulang-ulang (bahkan saya pernah mengalami sendiri perayaan Natal yang menghabiskan dana ratusan juta rupiah), dan lain-lain.

Natal bahkan menjadi peristiwa komoditas ekonomi dan politik. Para pengusaha ataupun para politisi tampaknya berlomba-lomba menunjukkan sosok diri sebagai “sosok paling Natal”, berlomba-lomba menyetor sumbangan atau memasang baliho ucapan, ataupun memasang dirinya sebagai panitia kunci dari perayaan. Natal tidak lagi menjadi perayaan kesederhanaan, tetapi menjadi perayaan keunggulan diri atau kelompok.

Tetapi apakah Kristus yang dikirim Allah sungguh lahir dalam hatimu? Apakah Kristus sungguh memperbaiki relasimu dengan Allah (yang berinisitiaf)? Sebesar apakah gerakan kasih Allah menjadi gerakanmu pada sesama? Apakah kamu menggambarkan Allah sebagaimana Allah menggambarkan diri-Nya?

Saya diketuk-dikritik pertanyaan-pertanyaan ini melalui peristiwa sederhana. Pada malam Natal, saya bersama Istri Veronika Lake merayakannya di Tigaraksa, sebuah stasi kecil di Paroki Santa Odilia. Kami merayakannya di sebuah rumah sederhana di Bukit Cikasungka. Di sana, hiduplah satu keluarga Katolik dengan cara merayakan Natal yang berbeda dan unik: Keluarga Bruno Tefa (49), dan istri Christiana Prima Kurniasari (45). Keduanya dianugerahi dua anak: Amandus (18), dan Arnold (13). Putra sulung, Amandus kini menjadi siswa seminari tingkat akhir di Seminari Stella Maris, Keuskupan Bogor.

Yang saya alami, jelang perayaan Natal, rumah keluarga Bruno didatangi banyak orang. Banyak keluarga memilih datang menginap (meskipun memiliki rumah di Jakarta atau sekitarnya), agar bisa merayakan Natal bersama keluarga. Tidak ada yang megah dan istimewa: hanya kue-kue sederhana, masakan sederhana, dan minuman ala kadarnya.

Pada hari ini (24 Desember 2018), Bapak Bruno dan istri lebih sibuk membelikan kue-kue Natal bagi para tetamu yang akan datang esok harinya (25 Desember). Kue-kue sederhana. Lazimnya, para tetangga yang akan datang beragama Islam, memberikan ucapan selamat Natal. Bapak Bruno dikenal para tetangga (mayoritas beragama Islam), karena ia termasuk Panitia pembangunan masjid di dekatnya.

Mengapa mereka datang? Entah yang Katolik dan Non-Katolik? Dari cerita Eman T, Apri F, Pius T, Arnold Yansen ataupun orang-orang yang datang ke rumah (untuk merayakan Natal), saya menyimpulkan: karena keluarga ini menggambarkan Natal sebagai gerakan kasih Allah yang sederhana. Natal bukan hanya perayaan lahiriah, tetapi perayaan batin karena kedatangan Allah dalam kemuliaan-Nya yang sederhana. Gerakan kasih mendatangi dan melayani sesama atas cara yang sederhana adalah jawaban luhur Keluarga atas insiatif Allah Maha Kasih.

Natal adalah momen jawaban manusia atas gerakan kasih Allah. Bahwa Allah tidak pernah lelah memperjuangkan relasi kasih-Nya dengan manusia. Dalam konteks keluarga Bapak Bruno, saya yakin, bahwa gerakan tetangga beragama muslim menyampaikan selamat Natal tidak dilahirkan dari ruang kosong, tetapi karena mereka merasakan kehadiran kasih Allah yang konsisten dalam hidup sehari-hari.

Sebuah catatan sederhana: Keluarga Bapak Bruno memberikan contoh menarik. Kita tidak perlu berkoar-koar menghiba-hiba agar sesama berkeyakinan lain mengucapkan selamat Natal. Mungkin otokritik diri diberikan: Bagaimana diri saya hidup dalam pluralitas keagamaan tempat saya hidup? Hanya melalui teladan hidup yang menerapkan nlai-nilai Katolik akan menggerakkan orang lain mendekati kita.

Kita merayakan Natal bukan untuk diri sendiri, bukan perayaan diri. Kita merayakan Natal, karena kita merayaan Allah yang hadir. Allah yang hadir sebaiknya menjauhkan kita dari perayaan Natal sebagai slogan kosong, atau ekspresi lahiriah. Allah tidak lahir di ruang pesta, tetapi di palungan hina. Allah tidak lahir dalam kemegahan lahiriah, tetapi kesederhaannya adalah kemegahan sejati. 

Selamat merayakan Natal: Apakah Yesus Kristus telah lahir dalam hatimu? 

 

*Ditulis di Cikasungka, 24 Desember 2018. Penulis adalah Redaktur Pelaksana IndonesiaSatu.co

Komentar