Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

MAKRO APBN 2018 Kuat Hadapi Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS 30 May 2018 16:03

Article image
Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Ketua OJK Wimboh Santoso, Gubernur BI Perry Warjiyo menggelar Konpres Penguatan Koordinasi dan Bauran Kebijakan untuk Menjaga Stabilitas Perekonomian dan Keberlanjutan Reformasi , Senin (2
“Dari sisi APBN, seperti yang sudah saya sampaikan dan saya tekankan berkali-kali, implementasi dari APBN 2018 adalah sangat kuat dan sehat...”

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Menyikapi tekanan pada stabilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang terjadi dalam 1-2 bulan terakhir ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati meyakinkan bahwa dari sisi fiskal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2018 sangat sehat dan kuat. Hal ini disampaikan Menkeu pada Konferensi Pers di Aula Djuanda, kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (28/05).

“Dari sisi APBN, seperti yang sudah saya sampaikan dan saya tekankan berkali-kali, implementasi dari APBN 2018 adalah sangat kuat dan sehat,” tegas Menkeu di depan puluhan wartawan yang hadir pada acara tersebut.

Beberapa indikator seperti misalnya peningkatan penerimaan pajak terutama dari sisi PPh Badan mengindikasikan bahwa telah terjadi peningkatan aktivitas ekonomi di Indonesia.

“Sampai dengan April (2018), penerimaan perpajakan tumbuh 14,9%. Dan kalau kita lihat komponennya, PPn tumbuh 14,1% dan PPh Badan yang tumbuh 23,6%. Kalau lihat dari PPh pertumbuhannya adalah cukup across the board jadi merata hampir di semua sektor. (Hal ini apalagi setelah tax amnesty) Sektor usaha di Indonesia menunjukkan terjadi peningkatan yang ini berarti juga menggambarkan peningkatan dari aktivitas ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Selanjutnya mengingat fundamental ekonomi Indonesia sangat sehat dan kuat, Pemerintah lebih memfokuskan koordinasi intensif dan bauran kebijakan dengan para otoritas sektor keuangan lainnya seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI) dan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS).     

“Nah tugas dari Pemerintah sekarang bersama-sama dengan Otoritas Jasa Keuangan, BI dan LPS adalah menjaga agar kondisi sistem keuangan tetap terjaga stabilitasnya sehingga momentum ini tetap bisa berjalan, tetap bisa dipertahankan,” katanya merujuk pada pentingnya Pemerintah untuk terus melakukan koordinasi bauran kebijakan dengan para stakeholders lainnya tersebut. 

Menkeu juga menjelaskan bahwa kondisi APBN saat ini memiliki fiscal space yang cukup untuk menghadapi ketidakpastian yang berasal dari luar.  Sebagaimana diketahui, pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika disebabkan faktor external yaitu membaiknya ekonomi Amerika Serikat yang berakibat antara lain pada mengalirnya dolar Amerika ke negara tersebut.

“Jadi saya ingin menekankan dari sisi APBN, kita melihat kondisi APBN sebagai instrumen fiskal itu memiliki fiscal space yang cukup. Dan kita akan terus menjaga space fiscal ini agar Pemerintah mampu memiliki instrumen apabila diperlukan didalam menghadapi ketidakpastian yang berasal dari luar yaitu external. Ini penting bagi kita secara policy agar seluruh instrument kebijakan itu memiliki kemampuan karena dia memiliki space yang telah dibuat atau sudah dipupuk,” pungkas Menkeu.

--- Sandy Romualdus

Komentar