Breaking News

INTERNASIONAL Arab Teluk dan Iran Tolak Pengakuan AS Atas Golan Sebagai Milik Israel 26 Mar 2019 23:34

Article image
Dataran Tinggi Golan. (Foto: pri.org)
Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar dan Kuwait. Riyadh dan Abu Dhabi mengatakan pengakuan tersebut adalah rintangan menuju perdamaian.

DUBAI, IndonesiaSatu.co – Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui penguasaan Israel atas Dataran Tinggi Golan dikutuk Aliansi Arab Teluk dan Iran pada Selasa (26/3/2019).

Reuters melaporkan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar dan Kuwait mengatakan pengakuan tersebut adalah rintangan menuju perdamaian.

Iran ikut berkomentar bahwa keputusan Trump belum pernah terjadi di abad ini.

“Tidak seorang pun dapat membayangkan bahwa satu orang di Amerika datang dan memberikan tanah kepada satu negara untuk mengokupasi negara lain, ini melawan hukum internasional dan konvensi,” kata Presiden Hassan Rouhani sebagaimana dikutip Kantor Berita Iran IRNA.

Trump, dalam kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington, secara resmi mendandatangani proklamasi pengakuan Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israeli.

Israel merebut Dataran Tinggi Golan dari Suria pada perang 1967 dan menganeksasi wilayah tersebut pada 1981.

“Ini akan punya dampak negatif yang signifikan terhadap proses perdamaian di Timur Tengah dan keamanan dan stabilitas wilayah,” demikian ditulis Kantor Berita Saudi SPA.

Hal ini menggambarkan deklarasi sebagai pelanggaran yang nyata atas Piagam PBB (United Nations Charter) dan hukum internasional.

Penasihat khusus Trump Jared Kushner mengunjungi Arab Teluk bulan lalu untuk meminta dukungan terhadap  porsi ekonomi dari proposal perdamaian yang sudah lama ditunggu-tunggu untuk Timur Tengah. Negara-negara Arab Teluk menjadi tuan rumah pasukan AS dan penting bagi kebijakan pertahanan regional Washington.

Qatar, yang sudah lama berseteru dengan negara-negara Teluk kali ini bergabung dalam menentang gerakan Trump.

Lebanon mengatakan keputusan tersebut bertentangan dengan hukum internasional.

“Dunia sedang menyaksikan suatu hari yang gelap,”kata Presiden Libanon Michel Aoun di akun Twitter selama kunjungan ke Russia.

--- Simon Leya

Komentar