Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

INTERNASIONAL AS Nilai China Sebagai Negara Terburuk Perangi Perdagangan Manusia 07 Feb 2018 00:48

Article image
Menlu AS, Rex tillerson (kiri) dan Presiden As, Donald Trump (Foto: Reuters)
“Yang paling tragis, perdagangan manusia memangsa korban yang paling rentan. Anak-anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan yang terpisah dari keluarga mereka, seringkali dieksploitasi, dipaksa memasuki dunia pelacuran atau perbudakan seks,” ungkap Men

WASHINGTON DC, IndonesiaSatu.co - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan China merupakan salah satu pelaku perdagangan manusia dan kerja paksa terburuk di dunia, selain Iran, Korea Utara, dan Suriah.

Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson bersama putri Presiden Donald Trump, Ivanka Trump, mengeluarkan laporan tentang perdagangan manusia itu di Deplu AS di Washington DC, Selasa (6/2/18). Menurut laporan tahunan Deplu AS, peringkat China ke kategori tiga atau yang paling rendah dengan alasan negara itu belum memenuhi “standar minimum” penghapusan perdagangan manusia dan tidak melakukan upaya signifikan untuk hal tersebut.

Dalam pidatonya dilansir Reuters, Tillerson menyerukan pada semua negara untuk mengambil langkah guna memberantas praktik perdagangan manusia tersebut.

“Yang paling tragis, perdagangan manusia memangsa korban yang paling rentan. Anak-anak kecil, baik laki-laki maupun perempuan yang terpisah dari keluarga mereka, seringkali dieksploitasi, dipaksa memasuki dunia pelacuran atau perbudakan seks,” kecam Tillerson.

Menurutnya, laporan tahunan Deplu AS tentang Perdagangan Manusia menunjukkan jaringan perdagangan manusia sehingga meminta pertanggungjawaban para pelakunya.

“Fokus laporan adalah tanggungjawab pemerintah berdasarkan Protokol Palermo untuk mengkriminalkan perdagangan manusia dan segala bentuknya; dan untuk mengadili pelanggar hukum. Kami mendesak 17 negara yang bukan merupakan bagian dalam protokol internasional itu untuk mencegah, menekan dan menghukum pelaku perdagangan manusia, untuk mempertimbangkan kembali posisi mereka dan bergabung dengan negara-negara lain yang memiliki komitmen tersebut,” kata Tillerson.

Ia menilai, otoritas berwenang memaksa repatriasi warga Korea Utara (Korut) tanpa memeriksa mereka atas kemungkinan melakukan perdagangan manusia.

“Otoritas mengurangi upaya penegak hukum untuk memberantas perdagangan manusia dan memaksa laki-laki, perempuan dan anak-anak dalam kerja paksa di tempat pembakaran batu bara, tambang batu bara dan pabrik-pabrik dengan sedikit pengawasan pemerintah,” kritiknya.

Sebelum laporan itu dirilis, juru bicara Kemlu China, Lu Kang mengecam keras pernyataan AS yang tidak bertanggungjawab dan mengatakan China siap memperkuat kerjasama dalam memerangi perdagangan manusia dengan semua negara.

--- Guche Montero

Komentar