Breaking News

REGIONAL Awal Tahun 2020, Dua Jenazah TKI asal Ende Dikirim dari Malaysia 17 Feb 2020 11:11

Article image
Penjemputan dua jenazah TKI asal Ende di Bandara El Tari Kupang, NTT. (Foto: ekorantt.com)
"Jika berbagai titik strategis sebagai pintu keluar TKI, mampu diredam dan dibendung, maka angka pekerja migran dapat diminimalisir. Ini butuh kerjasama, komitmen dan tindakan konkrit," tandas Gebby.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Kedutaan Besar Rapublik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Malaysia kembali mengirim dua jenazah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal tahun 2020.

Rilis KBRI mencatat keduanya bernama Markus Seda (40 tahun) asal Wolofeo, Desa Tomberabu II, Kecamatan Ende dan Urbanus Noe (39 tahun) asal Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole.

Berdasarkan surat keterangan kematian yang diterbitkan Kedubes, Markus meninggal dunia pada 29 Januari 2020, sedangkan Urbanus meninggal pada 10 Februari 2020.

Dari rilis KBRI itu, juga tertera status kedua tenaga kerja tersebut. Urbanus adalah TKI yang memiliki dokumen resmi (legal), sedangkan Markus adalah TKI ilegal atau non-prosedural.

Kedua jenazah diterbangkan secara bersama dari Kuala Lumpur ke Jakarta pada tanggal 12 Februari 2020, dan selanjutnya pada 13 Februari 2020 diterbangkan dari Jakarta menuju Bandara El Tari Kupang.

Di Kupang, kedua jenazah diterima oleh BP3TKI, Kelompok Aktivis Kemanusiaan, Serikat Buruh Migran Indonesia serta sejumlah mahasiswa.

Melansir Voxntt.com, Kepala Bidang BP2TKI Dinas Nakertrans Kabupaten Ende, Yosefa Dewi menyebutkan bahwa kedua jenazah akan diterima oleh pemerintah daerah Kabupaten Ende pada Jumat 14 Februari 2020. Direncanakan, kedua jenazah menggunakan kapal laut dari Kupang ke Ende.

Butuh Atensi Serius Pemprov NTT dan Pemda se-NTT

Dikonfirmasi media ini, koordinator bidang Advokasi, Hukum dan HAM Jaringan Nasional Anti Tindak Pidana Perdagangan Orang (JarNas Anti-TPPO), Gabriel Sola meminta perhatian serius dari pemerintah daerah Kabupaten Ende dan Pemprov NTT terhadap nasib TKI di Negeri Jiran yang berpotensi akan terus meningkat seperti tahun 2019 yang mencapai angka 124 jenazah.

"Tahun 2019 dengan angka kematian TKI mencapai 124 jenazah, mestinya menjadi catatan serius Pemprov NTT dan Pemda se-NTT. Ini bencana kemanusiaan yang sudah termasuk kategori kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Butuh langkah konkrit, bukan slogan, baik pencegahan maupun penanganan," kata Gebby.

Direktur Lembaga PADMA Indonesia ini juga mengharapkan kerjasama lintas elemen gerakan solidaritas kemanusiaan dan stakeholders terkait guna menyikapi bencana laten yang masif terjadi di bumi NTT.

"Jika tidak ditindaklanjuti secara serius, maka angka TKI asal NTT akan terus meningkat dari hari ke hari. Butuh pengawasan dan pencegahan bersama secara intens untuk menekan angka pengiriman TKI ke luar negeri baik melalui jalur laut maupun udara yang terjadi secara non-prosedural (ilegal) oleh perusahaan pengirim yang juga ilegal melalui jasa perekrut (calo). Hentikan 'bisnis manusia' ini di bumi NTT," seru Gebby.

Tak lupa Gebby memberikan apresiasi atas kinerja pihak aparat dan para petugas di dinas terkait di beberapa daerah yang secara berani menggagalkan pengiriman calon TKI ke luar negeri.

"Jika berbagai titik strategis sebagai pintu keluar TKI, mampu diredam dan dibendung, maka angka pekerja migran dapat diminimalisir. Ini butuh kerjasama, komitmen dan tindakan konkrit," tandasnya.

--- Guche Montero

Komentar