Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

AGAMA Bahas 50 Tahun Almamater, Alumni Ledalero-Jakarta Bertemu Ketua STFK Ledalero 06 Aug 2018 16:43

Article image
Alumni Ledalero berfoto bersama Ketua STFK Pastor Bernard Raho, SVD. (Foto: Redem)
Ketua STFK Ledalero, Pastor Bernard Raho, SVD mengaku sangat senang dan berterima kasih atas antusiasme para alumni. Ia berjanji akan membawa usulan para alumni ke Ledalero.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero (STFK) akan merayakan 50 tahun berdirinya atau 50 tahun pesta emas pada 2019. Salah satu sekolah berprestasi dari wilayah Indonesia Timur ini telah menghasilkan ratusan alumni yang berkarya di seluruh benua di dunia, dan ribuan alumni yang berkontribusi di Indonesia.

Untuk merayakan 50 tahun pesta emas ini, maka alumni Ledalero Jakarta melakukan pertemuan dengan Ketua STFK Ledalero Pastor Bernard Raho, SVD di Jakarta, Sabtu, di Graha VDS, Jl. Tebet Raya No. 25, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (3/8/2018) malam. Sejumlah alumni senior Ledalero turut hadir seperti Valens Daki-Soo, Don Bosco Doho, Agustinus Sarifin, Jerry Gatum, dan lain-lain.

Dalam pertemuan penuh kekeluargaan tersebut, Pastor Bernard menjelaskan perkembangan-perkembangan terkini tentang STFK Ledalero. Terutama disampaikan rancangan sementara tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan STFK Ledalero menyongsong 50 tahun STFK Ledalero pada 2019.

Dijelaskan Pastor Bernard bahwa sebagai pembuka, pada 8 September STFK Ledalero akan menggelar sebuah seminar bertajuk “Kontribusi Ilmu-Ilmu Sosial bagi Teologi Kontekstual,” yang menghadirkan pembicara dengan reputasi nasional seperti Ignas Kleden, juga pembicara internasional.

“Antara September 2018 hingga puncak acara pada 8 September 2018, STFK Ledalero akan mengadakan sejumlah kegiatan seperti pembuatan buku tulisan kenangan dan naskah ilmiah, gelar sejumlah kegiatan olahraga, kegiatan-kegiatan seni dan budaya,” ujar Pastor Bernard.

Sebelum puncak acara, STFK Ledalero akan menggelar simposium selama 4 hari, dan reuni yang meghadirkan sejumlah pembicara dan juga alumni.

Pada kesempatan tersebut, Pastor Bernard yang juga mengajar Sosiologi di STFK Ledalero tersebut meminta masukkan dari alumni.

“Saya meminta alumni memberikan masukkan kepada kami untuk pengembangan STFK setelah 50 tahun, seperti pengembangan program studi, pengembangan kurikulum, ataupun terkait pelaksanaan 50 tahun ini. Masukkan ini sangat penting bagi pengembangan almamater kita” pinta Pastor Bernard.

Pada kesempatan tersebut, para alumni sangat antusias memberikan pendapat terkait pengembangan program studi, revisi kurikulum, dan pelaksanaan 50 tahun STFK Ledalero.

“STFK Ledalero tidak hanya mendidik calon imam, tetapi juga (calon) awam. Berdasarkan pengalaman saya di Jakarta, hal-hal praktis dan seni harus diajarkan kepada para mahasiswa. Juga diharapkan supaya para mahasiswa dapat menggunakan waktu sebaik-baiknya. Karena keterampilan atau pengembangan diri seperti bermusik, dan lain-lain sangat berperan di dunia kerja,” usul Gazpar Araja, alumni Ledalero yang kini berkarya di bidang musik.

Agustinus Sarifin menganjurkan agar kurikulum pendidikan di Ledalero dapat mengajarkan pendidikan kewirausahaan dan manajemen. Karena menurut manajer HRD internasional itu, meskipun menjadi awam ataupun pastor, kewirausahaan dan manajemen sangat diperlukan.

Terkait pelaksanaan 50 tahun STFK Ledalero, Valens Daki-Soo mengatakan alumni Ledalero Jakarta sangat terbuka dan sangat antusias.

“Kami sangat senang dilibatkan dalam perayaan ini, karena STFK Ledalero telah memberikan banyak pelajaran, pengalaman, dan surplus nilai yang membuat kami bisa berada di sini dan sekarang,” ujar Tenaga Ahli Staf Khusus Presiden RI tersebut.

Karena itu, Valens Daki-Soo mewakili alumni mengatakan siap berkontribusi dalam perayaan ini. Pada pertemuan sebelumnya, alumni Ledalero Jakarta telah merencanakan akan menggelar Seminar Nasional di Jakarta dan menyokong kegiatan-kegiatan lainnya.

Kepada IndonesiaSatu.co, Pastor Bernard mengaku sangat senang dan berterima kasih atas antusiasme para alumni. Ia berjanji akan membawa usulan para alumni ke Ledalero.

Profil STFK Ledalero

Dikutip dari laman resminya, STFK Ledalero merupakan peningkatan dari Seminari Tinggi    St. Paulus Ledalero, yang didirikan oleh Serikat Sabda Allah  (SVD: Societatis Verbi Divini) sebagai tindak lanjut atas ensiklik Maximum Illud Paus Benediktus XV 30 November  1919.

Tahun 1935 kegiatan perkuliahan sudah dimulai dengan diberinya kuliah Filsafat?Teologi kepada 13 orang mahasiswa. Namun baru pada tanggal 20 Mei 1937 Tahta Suci memberikan penge­sahan untuk Sekolah Tinggi ini. Tanggal itulah yang kini dijadikan sebagai tanggal resmi berdirinya STFK Ledalero. Tanggal 28 Januari 1941 hasil perdana sudah dapat dirasakan dengan ditahbiskannya dua orang imam pertama. Sejak berdirinya sampai tahun 1969, Lembaga Pendidikan ini menggunakan nama “Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero”. Pada bulan Januari 1969,  Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Katolik (STF/TK ) Ledalero secara resmi berdiri sebagai salah satu bagian dari “Seminari Tinggi St. Paulus” Ledalero.

Sejak tanggal 9 April 1990, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bernomor 0272/0/1990, STFK Ledalero mendapat status “Disamakan” untuk jenjang S1. Setelah diberlakukan sistem Akreditasi atau pengakuan terhadap mutu progam studi untuk program sarjana di perguruan tinggi, STFK Ledalero berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 78/D/O/1997, Tanggal: 17 November 1997 atas Hasil Penilaian Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Jenjang Program Studi Sarjana (S1) menurut Perguruan Tinggi  Tahun 1996/1997,  mendapat Sertifikat Akreditasi Mutu B”, yang pada 11 Agustus 1998 oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi mendapat status ”Terakreditasi dengan peringkat Akreditasi B”.

Dan setelah 5 tahun kemudian berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor SK 019/2003, tanggal 20 Agustus 2003, dengan Jurusan Ilmu Filsafat dan Program Studi Ilmu Teologi-Filsafat Agama Katolik tetapi mendapat status ”Terakreditasi Peringkat Akreditasi B.”  Selanjutnya, Berdasarkan Surat Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Nomor 028/BAN-PT/Ak.-XV/S1/X/2012, tanggal 18 Oktober 2012 Program studi yang sama mendapat status terakreditasi dengan peringkat B.

--- Redem Kono

Komentar