Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

INTERNASIONAL Bahas Krisis Migran, 16 Pemimpin Negara UE Siap Hadiri KTT Belgia 23 Jun 2018 15:12

Article image
Seorang pendukung Uni Eropa mengibarkan bendera Uni Eropa di depan gedung parlemen di London (Foto: AFP)
Ketua Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker menyebut pertemuan tersebut untuk menentukan pihak-pihak yang harus bertanggung jawab dalam memproses para migran.

BRUSSELS, IndonesiaSatu.co-- Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang akan digelar di markas Uni Eropa (UE) di Brussels, Belgia,  Minggu (24/6/18) diegandakan membahas krisis migran. Sebanyak 16 pemimpin negara anggota UE telah mengisyaratkan kesiapan untuk hadir dan bergabung dalam KTT tersebut.

Diberitakan AFP, KTT tersebut diagendakan bertujuan untuk mencari solusi atas masalah pencari suaka yang kini dihadapi sejumlah negara anggota UE.

Ketua Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker menyebut pertemuan tersebut untuk menentukan pihak-pihak yang harus bertanggung jawab dalam memproses para migran. Menurutnya, dengan Italia dan Yunani yang telah menerima sebagian besar kedatangan migran, maka Negara-negara anggota Uni Eropa lainnya harus turut bersedia menampung beban.

"Kami awalnya memulai dengan hanya delapan anggota dan kini telah ada 16 negara yang mengisyaratkan kesediaan untuk bergabung dalam pertemuan informal ini," kata juru bicara Komisi Eropa, Alexander Winterstein.

Winterstein menyebut delapan negara yang siap hadir dalam pertemuan ini di antaranya Belgia, Belanda, Kroasia, Slovenia, Denmark, Finlandia, Swedia dan Luksemburg. Sebelumnya, pemimpin pemerintahan Jerman, Perancis, Spanyol dan Maltese juga telah mengkonfirmasi bakal hadir pada pertemuan ini.

Meski demikian, masih ada sejumlah negara yang menolak bergabung, di antaranya Hungaria, Polandia, Republik Ceko dan Slovakia.

“Karena bersifat informal, pertemuan tersebut terbuka bagi setiap negara anggota, namun juga tidak mewajibkan kehadiran mereka. Pertemuan juga tidak untuk menghasilkan sebuah keputusan melainkan memberikan masukan untuk solusi atas masalah yang dihadapi,” ungkap Winterstein.

--- Guche Montero

Komentar