Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

INTERNASIONAL Bahas Krisis Rohingya, Paus Fransiskus Bertolak ke Myanmar dan Bangladesh 27 Nov 2017 10:37

Article image
Paus Fransiskus. (Foto: DPA)
Lawatan tersebut membuktikan konsistensi kemauan dan upaya keras Paus Fransiskus memperjuangkan keadilan bagi semua manusia.

VATIKAN, IndonesiaSatu.co -- Pemimpin tertinggi umat Katolik Paus Fransiskus dikabarkan telah bertolak menuju Myanmar dalam rangkaian lawatan kenegaraan ke Myanmar dan Bangladesh. Seperti dirilis Sueddeutsche Zeitung/sz.de, Senin (27/11/2017),  Paus Fransiskus akan bertemu dengan pemimpin kedua negara tersebut untuk membahas krisis kemanusian Rohingya.

Di Myanmar Paus Fransiskus dijadwalkan bertemu dengan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan Panglima Militer Jenderal Min Aung Hlaing.

Dalam pertemuan resmi itu Paus Fransiskus diminta untuk tidak menggunakan istilah ‘Rohingya’ karena dikuatirkan dapat memicu dampak negatif. Untuk diketahui, para pejabat Myanmar menolak penggunaan istilah tersebut.

Dari Myanmar Paus akan melanjutkan lawatannya ke Bangladesh  dan dijadwalkan akan bertatap muka dengan kelompok pengungsi Rohingya.

Lawatan Paus Fransiskus ke Bangladesh merupakan kunjungan pertama seorang pemimpin tertinggi umat Katolik ke negara itu sejak 1986.

Kunjungan ke Myanmar dan Bangladesh membuktikan konsistensi pandangan dan kemauan Paus Fransiskus memperjuangkan keadilan bagi semua manusia.

Dalam lawatan kali ini Paus berupaya ikut menyelesaikan konflik dan krisis kemanusiaan yang dialami warga Rohingya.Lawatan enam hari yang dilakukan pemimpin tertinggi Katolik itu difokuskan untuk mendorong dialog dan rekonsiliasi di wilayah konflik.

Tekanan militer Myanmar menyebabkan lebih dari 600 ribu warga Rohingya menyelamatkan diri atau mengungsi ke negara tetangganya, Bangladesh.

Pekan lalu, setelah didesak dunia internasional, Myanmar dan Bangladesh akhirnya menandatangani kesepakatan pemulangan ratusan ribu orang yang mengungsi dan tersebar di wilayah perbatasan kedua negara.

Meski demikian lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan mengatakan, pemulangan para pengungsi Rohingya menimbulkan kecemasan karena situasi yang belum kondusif.

--- Rikard Mosa Dhae