Breaking News

NASIONAL Bahas Radikalisme di NTT, Sejumlah Tokoh NTT Gelar Dialog Bersama Kepala BNPT 07 Oct 2020 18:37

Article image
Sejumlah tokoh Flobamora NTT Diaspora di Jakarta berpose bersama usai dialog dengan Kepala BNPT. (Foto: Dok Diaspora)
Oleh karena itu, meskipun dalam skala yang kecil, para tokoh dari Diaspora NTT tidak ingin terlambat untuk mencegah.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Sejumlah tokoh Flobamora NTT Diaspora di Jakarta; di antaranya Petrus Selestinus, Willyam Nuwa Wea, Hilarius Bame, Ignatius, Didi Nong Say, Audi Nena Wea dan Friedrick Batari, Selasa (6/10/2020) melakukan dialog kebangsaan dengan Kepala BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar bertempat di Kantor BNPT Jakarta.

Dalam keterangan rilis yang diterima media ini, dijelaskan bahwa dialog tersebut dimaksudkan untuk membangun kerjasama antara Komunitas Diaspora Flobamora NTT di Jakarta dengan BNPT guna meningkatkan daya tangkal dan daya tahan masyarakat NTT dalam menghadapi ancaman Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme dengan mengedepankan kearifan lokal.

Dalam dialog itu, Petrus Selestinus dan Willyam Nuwa Wea, secara bergantian menginformasikan kondisi terkini NTT terkait dengan isu Intoleransi dan Radikalisme yang mulai muncul di NTT (Kupang, Flores dan Sumba) yang ditengarai sedang dikembangkan oleh para mantan anggota atau pengurus HTI NTT.

Menjaga Kohesivitas

Diterangkan bahwa upaya menanamkan ideologi Khilafah di beberapa Kabupaten di NTT oleh para mantan HTI, meski dilakukan atas nama dakwah, tetapi pesan-pesan bernada kebencian antar umat sangat terasa.

Oleh karena itu, meskipun dalam skala yang kecil, para tokoh dari Diaspora NTT tidak ingin terlambat untuk mencegah.

Pasalnya, ancaman tersebut sudah mulai mengganggu kohesivitas antar-umat beragama yaitu (Katholik, Kristen, Muslim, Hindu dll) dalam ikatan kultur yang beragam tetapi tetap solid.

Willyam Nuwa Wea selaku Koordinator Forum Masyarakat Flobamora untuk Kesetaraan dan Toleransi di NTT, meminta kepada Kepala BPNPT agar institusi BNPT bekerja sama dengan ormas-ormas Diaspora NTT guna mengedukasi Kelompok Pemuda NTT, memberikan pembekalan tentang metode membangun kesadaran masyarakat dalam meningkatkan daya tangkal dan daya tahan untuk menangkal radikalisme dan intoleransi melalui pendekatan budaya atau kearifan lokal.

Sementara Petrus Selestinus, menekankan perlunya mewadahi kelompok generasi muda dalam suatu wadah Ormas dengan kemasan budaya (seperti Pecalang di Bali), diberikan pelatihan dan pembekalan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila, merawat kebhinekaan sebagai kekayaan budaya warisan nenek moyang, sehingga ormas-ormas itu menjadi mitra pemerintah atau BNPT dalam kerjasama mencegah dan memberantas Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme, yang mulai muncul di beberapa Kabupaten di NTT.

Mewadahi Kelompok Orang Muda

Menyikapi masukan dan usul para Tokoh Flobamora Diaspora NTT, Kepala BNPT Boy Rafli Amar menyambut baik dan meminta agar para Tokoh Flobamora Diaspora NTT segera mengkoordinir Kelompok Orang Muda NTT di setiap Kabupaten, diwadahi, agar diberi pembekalan, pelatihan hingga terampil dan mendorong kelompok ormas-ormas Pemuda untuk berperan aktif dalam mencegah radikalisme, intoleransi dan terorisme.

Kepala BNPT berkomitmen bahwa pihaknya siap menerjunkan tim ke NTT termasuk ke Flores, Sumba, untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan Kelompok Masyarakat Adat, Ormas-ormas Adat sehingga dapat berperan aktif menjaga dan merawat adat budayanya guna menangkal bahaya intoleransi dan radikalisme, sehingga kepentingan strategis nasional yaitu menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI serta mempercepat terwujudnya kesejahteraan rakyat, tidak terhalang oleh gerakan radikalisme.

"Pemberdayaan Masyarakat NTT dan membangun kerjasama BNPT dengan masyarakat (Masyarakat Flobamora Diaspora NTT Jakarta, red) merupakan hal yang positif, karena BNPT pun memerlukan peran dan partisipasi masyarakat, memberdayakan masyarakat NTT dalam meningkatkan daya tahan dan daya tangkal menghadapi ancaman radikaliame dengan mengedepankan kearifan lokal," tutup Petrus.

--- Guche Montero