Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

TAJUK Bangsa yang Mengampuni 11 Jul 2018 06:34

Article image
Bangsa Indonesia dapat maju salah satunya jika warganya dapat saling mengampuni. (Foto: Ist)
Bangsa yang terus-menerus meratapi masa lalunya akan terus terpenjara dalam momen kelam masa lalu.

SALAH satu yang hangat dalam ruang kehidupan bangsa Indonesia adalah maraknya perdebatan antara para elite politik, yang kemudian menyeret masyarakat akar rumput. Perbedaan pilihan politik dalam kontestasi kemudian ditarik dalam lingkup pergaulan sosial sehari-hari. Maka, muncul ruang kebencian, sentimen identitas ataupun polarisasi sosial di masyarakat.

Banyak solusi dianjurkan untuk menengahi perbedaan politik itu. Tetapi baiklah Paul Ricoeur, seorang pemikir Prancis patut dibahas di sini. Ricoeur berbicara tentang rekonsiliasi, dan dalam rekonsiliasi ia menganjurkan tentang pengampunan. Pengampunan dapat membebaskan masyarakat dari ruang kebencian ataupun polarisasi tersebut.

Gagasan Ricoeur tentang pengampunan ditulisnya pada 1995 dalam majalah Esprit. Judul tulisannya, Le pardon, peut-il guerir? Terjemahannya: Apakah pengampunan dapat menyembuhkan? Menurut Ricoeur, pengampunan berada persis di antara mengingat dan melupakan. Untuk mengampuni, sebuah bangsa harus belajar mengingat sekaligus melupakan.

Mengingat bagi Ricoeur penting karena untuk dapat mengampuni kita harus mengingat kejahatan yang pernah dilakukan dan pelaku yang melakukannya. Ingatan yang lemah membuat orang acuh terhadap kejahatan di masa lalu ataupun kejadian baik bagi dirinya. Ingatan yang lemah akan menutup masuknya narasi potensial untuk memperkaya dirinya; ia tidak belajar jadi sejarahnya. Soekarno berkata: jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Namun, ada bahaya juga terhadap ingatan yang terlampau kuat. Ingatan yang terlampau kuat membuat orang akan cenderung terobsesi pada kejadian kurang enak di masa lampau. Orang akan secara terus-menerus mengingat kejahatan orang lain, mengungkit-ungkitnya, dan memproduksi kebencian terhadap apapun dari masa lalunya. Masa lalu tidak diterima sebagai bagian dari narasi perkembangan tetapi ditolak seluruhnya. Bangsa yang terus-menerus meratapi masa lalunya akan terus terpenjara dalam momen kelam masa lalu.

Pada sisi berikut, pengampunan harus dilakukan dengan melupakan. Karena melupakan berarti bagian dari mengambil jarak terhadap apa yang terjadi. Melupakan bukan berarti menghapus ingatan masa lalu. Pengalaman pahit seperti dibenci tetangga (berbeda pilihan), ataupun diskriminasi sosial yang pernah dialami tetap hadir sebagai sebuah fakta. Kejahatan tidak dilupakan sebagai fakta, tetapi dilupakan sebagai beban moral.

Melupakan kejahatan sebagai beban moral berarti orang mau berdamai dengan fakta itu. Pada konteks ini, pengampunan berarti “melupakan yang membebaskan”, dan bukan “melupakan yang melarikan diri.” Orang dapat secara aktif menghadapi pengalaman traumatis (dihina, dibenci dalam masyarakat) dan berhasil menjemput masa depan yang cerah. Inilah yang disebut momen rekonsiliasi.

Semoga bangsa Indonesia dipenuhi warganya yang saling mengampuni satu sama lain. Bangsa Indonesia yang maju adalah bangsa yang mengampuni.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar