Breaking News

BERITA Benny Susetyo: Pancasila dan Agama Tidak Bisa Dibenturkan 13 Jun 2020 18:03

Article image
Romo Benny Susetyo. (Foto: Ignatius Dwiana)
"Pancasila tidak bisa dibenturkan dengan Agama, karena dua hal tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan," kata Romo Benny.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Romo Antonius Benny Susetyo turut mengadiri sesi Focus Group Discussion dalam rangka kegiatan  penelitian 'Pengembangan Strategi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Implementasi Nilai-Nilai Pancasila' yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rabu (10/6/20).

Dalam pembahasannya mengenai Keberagaman Agama dan Pancasila, Benny menjelaskan pentingnya memerangi ujaran kebencian di media sosial yang membenturkan Pancasila dan Agama.

"Pancasila tidak bisa dibenturkan dengan Agama, karena dua hal tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan," kata Romo Benny seperti dilansir indonews.com.

Selain itu, Romo Benny menekankan agar semua pihak terkait dan masyarakat harus mengambil alih ruang publik, khususnya di media sosial dengan menampilkan kedamaian dalam keragaman agar ujaran kebencian yang merusak persatuan bisa dikalahkan.

"Contoh-contoh kerukuanan harus ditampilkan. Seperti yang dikatakan oleh Soekarno bahwa ke-Tuhanan yang berkebudayaan. Pihak terkait dan masyarakat harus mampu merebut dan mengisi ruang publik dengan contoh kerukunan dan kedamaian," tegasnya.

Etika Kepatuhan

Terkait maraknya Agama yang digunakan untuk kepentingan politik, khususnya dalam Pilkada dan hajatan politik lain, Ia mengatakan bahwa harus ada kesepakatan antara penyelenggara Pemilu dan pihak terkait lainnya untuk membuat adanya etika kepatuhan agar hal tersebut tidak terulang kembali.

"Harus adanya kesepakatan antara Bawaslu, KPU, BPIP dan pihak terkait lainnya untuk membuat adanya etika kepatuhan agar agama tidak dijadikan alat kepentingan politik. Etika itu seperti tidak adanya unsur SARA. Tidak boleh mempertentangkan ideologi," cetusnya.

Menurutnya, sila Persatuan untuk mencegah politisasi agama. Penanaman nilai Pancasila di era digitalisasi harus disesuaikan dengan generasi milenial, misalnya dikolaborasikan dengan olahraga, wisata, kesenian, hingga industri kreatif.

"Ini yang harus disasar. Industri hoax saat ini akibat kurangnya pemahaman dalam memfilter informasi, sehingga sudah banyak memakan korban. Maka ke depan dibutuhkan pendidikan kritis yang dimulai dari tingkat Sekolah Dasar," imbaunya.

Ia menegaskan bahwa harus ada pendidikan dalam penggunaan teknologi dan media sosial yang harus ditanamkan sejak dini.

"Tujuannya, bisa memilih informasi benar dan salah. Juga untuk media massa harus memperhatikan etika dalam bermedia agar tidak menimbulkan perpecahan dan memberikan infomasi yang tidak berdasarkan fakta," pungkasnya. 

--- Guche Montero

Komentar