Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

TAJUK Berbela Rasa dalam Solidaritas 09 Apr 2018 05:38

Article image
Membantu orang lain yang menderita sebagai ungkapan solidaritas. (Foto: Ist)
Solidaritas meluas kepada kepada orang lain. Keyakinan bahwa semua orang bisa menderita atau mendapat penghinaan membentuk sebuah kelompok imajinatif yang solider.

PERKEMBANGAN dunia saat ini semakin ditandai dengan menyebarnya sikap saling membenci di tengah realitas multikultural. Media sosial seperti facebook, instagram, dan twitter sebagai imbas perkembangan teknologi komunikasi justru tidak menjadi wahana perjumpaan dan persaudaraan, tetapi ajang menebar hoax, memantik kemarahan, ataupun menyampaikan konten-konten yang justru tidak menyokong munculnya solidaritas.

Dalam konteks ini, kita diajak menegakkan hidup bersolider. Solidaritas meluas kepada kepada orang lain. Keyakinan bahwa semua orang bisa menderita atau mendapat penghinaan membentuk sebuah kelompok imajinatif yang solider. Menciptakan solidaritas membutuhkan kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Penderitaan tampil sebagai otoritas etis tertinggi yang memanggil orang untuk bersolider. Dalam masyarakat multikultural, negasi atas pengalaman penderitaan adalah elemen motivatif yang mempertemukan setiap keanekaragaman. Orang selalu berusaha terhubung dengan orang lain dan menemukan adanya kemungkinan untuk mencegahnya keluar dari penderitaan itu.

Maka dalam solidaritas, perasaan senasib-sepenanggungan melibatkan orang untuk terlibat dalam praksis pembebasan sesamanya dari penderitaan. Ia tidak hanya terlibat dalam penderitaan tersebut, tetapi memberikan suatu kebaruan hidup dari pertemuan tersebut yakni suatu kehidupan yang lepas dari penderitaan. Menciptakan solidaritas adalah ungkapan aktif untuk bergerak memulihkan orang lain dari penderitaanya, sekaligus mengajaknya untuk terlibat proses pembebasan penderitaan orang lain.

Dalam konteks ini, kita dianjurkan untuk berbela rasa dalam solidaritas. Kristin Neff (2003) mendefinisikan bela rasa sebagai rasa tersentuh sekaligus terpanggil terhadap penderitaan orang lain, membuka diri kepada penderitaan orang lain dan tidak mengindar untuk terhubung dengan penderitaannya. Sentuhan kepekaan terhadap penderitaan orang lain menciptakan sikap solider untuk terlibat dalam praksis pembebasan manusia dari penderitaan itu. Solidaritas terwujud jika orang bergerak mencegah penderitaan ataupun mengeluarkan orang lain dari penderitaannya.

Pada tahap ini, solidaritas tidak lagi sebatas toleransi, ataupun empati, tetapi semangat bela rasa (compassio). Bela rasa akan menjadikan nasib, penderitaan, kehidupan orang dan kelompok lain juga sebagai nasib, penderitaan, kehidupan dan kelompoknya sendiri. Ini akan mendorong orang selalu berada dalam semangat solidaritas. Namun, ketika berbela rasa dalam solidaritas diciptakan, orang perlu melangkah lebih jauh untuk menjamin distribusi solidaritas yang adil itu.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar