Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

TAJUK Berbincang Dengan Indonesia 15 Aug 2017 07:21

Article image
Kita harus membawa Indonesia dalam perbincangan kita. (Foto: Ist)
Perbincangan tanpa antitesis akan membuat sebuah dialog tidak memiliki kesuburan yakni tidak memunculkan ide, gagasan baru yang kreatif-inovatif-solutif untuk Indonesia.

INDONESIA lahir dari sebuah perbincangan. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan “perbincangan”: pembicaraan tentang sesuatu, perundingan, musyawarah.

Sebagai (1) pembicaraan tentang sesuatu, perbincangan yang melahirkan Indonesia oleh para pahlawan bangsa bukanlah sembarang perbincangan. Para pejuang kemerdekaan bangsa selalu mempunyai arah, tujuan yakni mendirikan Negara Indonesia yang berdaulat, jaya, adil dan makmur.

Kita ingat peristiwa Sumpah Pemuda 1928, ketika para pemuda datang dari berbagai wilayah berbicara tentang Indonesia yang berbahasa satu, bertanah air satu, dan berbangsa satu. Tentu pula sidang BPUPKI yang kemudian melahirkan Pancasila, di mana para perumus dasar Negara seperti Soekarno, Muhammad Yamin, Soepomo berbicara dalam konteks demi Indonesia.

Sebagai (2) perundingan, perbincangan yang melahirkan Indonesia tidak hanya melibatkan sesama anak bangsa. Ada perundingan (negotiation) dari para pejuang kemerdekaan dalam kerangka diplomasi politik dengan penjajah. Di dalam perundingan tersebut ada persetujuan-negasi dan pro-kontra yang membutuhkan pengetahuan dan strategi politik.

Kita mengenal dalam sejarah (perjuangan) kemerdekaan Indonesia terdapat sejumlah perundingan seperti perundingan Linggarjati dan perundingan Renville. Perundingan Linggarjati (dimulai 11 November 1946), misalnya, antara kubu Indonesia dan kubu Belanda melahirkan persetujuan terbaru mengenai status kemerdekaan Indonesia. Dalam perundingan tersebut ada tarikan kepentingan yang bagaimanapun arahnya akan menuju Indonesia saat ini.

Sebagai (3) musyawarah, perbincangan yang melahirkan Indonesia menunjukkan salah satu kebajikan demokratis Indonesia (virtue of Indonesian democratics) yakni musyawarah untuk mufakat. Terkait didalamnya sila keempat Pancasila yang disarikan dari jantung kebudayaan bangsa Indonesia. Dalam musyawarah ada dialog, kesepakatan demokratis yang di dalamnya tidak ada tekanan dan paksaan. Dalam dialog, para pejuang kemerdekaan Indonesia memutuskan lahirnya Indonesia.

Dari tiga arti perbincangan itu, tampak bahwa Indonesia lahir dari proses dialektis. Artinya selalu ada perdebatan wacana dalam ruang dialog keindonesiaan (pro-kontra), tetapi perdebatan itu selalu mengarah pada Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Seorang filsuf Jerman, Georg Frederich Hegel berujar tentang proses dialektis itu: selalu ada skema tesis (pernyataan)-antitesis (penolakan terhadap tesis)-tesis (persetujuan baru yang dilahirkan dari penolakan). Perbincangan tanpa antitesis akan membuat sebuah dialog tidak memiliki kesuburan yakni tidak memunculkan ide, gagasan baru yang kreatif-inovatif-solutif untuk Indonesia.

Berbincang dengan Indonesia memuat didalamnya proses dialektis anak-anak bangsa yang berbicara serius tentang bangsa, berunding serius dengan (para) kontra bangsa, dan bermusyawarah tentang bangsa.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar