Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

PENDIDIKAN Beri Kuliah di Almamater, Presiden Minta UGM Jadi Motor Penggerak Perguruan Tinggi 20 Dec 2017 05:15

Article image
Presiden Jokowi mampir ke salah satu stand co working space hasil kerja sama UGM dengan Bank Mandiri, di kampus UGM Yogyakarta. (Foto: Humas Setpres)
Di akhir kuliah umumnya, Presiden Jokowi kembali berharap UGM bisa menjadi contoh untuk tidak terjebak pada rutinitas, tapi bisa menjadi contoh perubahan radikal dalam pendidikan tinggi yang menjawab tantangan iptek dan perubahan zaman.

Yogyakarta, IndonesiaSatu.co -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) meyakini, hilangnya sejumlah lapangan pekerjaan karena perkembangan teknologi yang sangat cepat akan ada jenis pekerjaan baru yang muncul. Demikian pula halnya, tatkala ada jenis bisnis lama yang hilang maka ada jenis bisnis baru muncul. Untuk itu, Presiden meminta perguruan tinggi merespons hal ini.

“Tatkala lanskap politik, lanskap ekonomi berubah, lanskap sosial budaya berubah, pasti agenda penelitian dan pengabdian masyarakat universitas juga perlu mengalami perubahan,” kata Presiden Jokowi saat memberikan kuliah umum dalam rangka Dies Natalis ke-68 perguruan tinggi tersebut, di Grha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta, Selasa (19/12/2017) pagi.

Presiden mengemukakan, karakter sumber daya manusia (SDM) dan jenis profesi yang dibutuhkan oleh Indonesia ke depan, politisi dan birokrat akan selalu penting namun jumlahnya tidak akan bertambah banyak. Namun, para pekerja profesional, insinyur, dokter, farmasi, dan lainnya perlu semakin banyak dengan kompetensi yang berstandar internasional.

Yang justru sangat penting ditingkatkan jumlahnya, menurut Presiden, adalah para entrepreneur, kewirausahawan yang akan menghasilkan peluang kerja baru yang akan membangun nilai tambah. Namun Presiden menyayangkan semangat kewirausahaan kita masih sangat rendah.

Ia menyebutkan, dalam Global Entrepreneurship Index tahun 2017, peringkat kewirausahaan Indonesia masih di urutan ke-90 dari 137 negara. Ditingkat Asia Pasifik peringkat Indonesia nomor 16 dari 24 negara, juga masih rendah. Jumlah inovasi dan paten, lanjut Presiden juga masih rendah, yaitu peringkat 87 dari 137 negara.

“Inilah fakta-fakta yang memang harus kita ketahui dan ini merupakan tantangan kita ke depan,” tegas Presiden Jokowi.

Tingkatkan peran

Pemerintah sendiri, menurut Presiden Jokowi,  saat ini sedang terus bekerja keras untuk membangun ekosistem bagi pengembangan kewirausahaan, untuk mendorong tumbuhnya start up bisnis-bisnis pemula, dan berusaha membangun ekosistem untuk bisnis pemula, bisnis kecil untuk bisa menjadi besar.

Pemerintah juga membangun infrastruktur untuk memperkuat perdagangan yang efisien, melakukan deregulasi, debirokratisasi  untuk mendorong efisiensi dan inovasi, dan mengembangkan skema-skema pembiayaan baru untuk memperkuat pembiayaan bagi bisnis pemula.

Namun Kepala Negara mengingatkan, ekosistem pengembangan kewirausahaan buka hanya dibangun oleh pemerintah saja, pendidikan tinggi juga punya peran yang sangat strategis baik dalam mencetak SDM enterpreneur yang unggul maupun dalam menghasilkan karya riset inovatif yang mendorong kewirausahaan.

“Sungguh saya berharap pendidikan tinggi mampu meningkatkan perannya sebagai bagian penting dari ekosistem untuk mengembangkan kewirausahawan, mencetak sociopreneur,” tegas Presiden Jokowi.

Presiden berharap Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi motor penggerak dalam pendidikan tinggi, berperan aktif sebagai ekosistem kewirausahaan.

“Jangan terjebak pada rutinitas, cara-cara baru harus terus kita kembangkan. Keinginan mahasiswa untuk berinovasi harus ditumbuhkan, kreasi-kreasi baru harus difasilitasi dan dikembangkan,” tutur Presiden seraya menambahkan, para sociopreneur yang memecahkan masalah dimasyarakat harus diberikan dukungan.

Kepala Negara mengaku senang sekali, telah mulai muncul  para sociopreneur di kalangan generasi muda Indonesia, yang menciptakan tas plastik daur ulang yang terbuat dari bahan natural, atau membuat aplikasi untuk pemberi makan ikan secara efisien.

“Ini saya lihat sangat bagus sekali, membuat aplikasi untuk perdagangan online dan lainnya, membuat film-film sejarah republik Indonesia kemudian dijual melalui YouTube atau Netflix. Membuat games viral dan kartun tentang kepahlawanan Indonesia yang diwirausahakan melalui dunia digital,” terang Kepala Negara.

Di akhir kuliah umumnya, Presiden Jokowi kembali berharap UGM bisa menjadi contoh untuk tidak terjebak pada rutinitas, tapi bisa menjadi contoh untuk perubahan besar, perubahan radikal dalam pendidikan tinggi yang menjawab tantangan iptek dan perubahan zaman.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Menteri Perhubungan Budi K. Sumadi, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Ristek dan Dikti M. Nasir, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan para civitas akademika UGM. 

--- Redem Kono

Komentar