Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

REFLEKSI Beriman Dengan Mata (Hati) Terbuka 14 Nov 2016 11:51

Article image
Iman harus membuka dirinya pada perjuangan kemanusiaan. (Foto: Ist)
Beriman kepada Tuhan berarti memiliki mata hati personal yang terbuka pada perjuangan kemanusiaan, solider dengan sesama yang menderita, merajut harmoni dalam keanekaan dan membangun kesatuan dalam perbedaan.

Oleh Valens Daki-Soo


SEGALA yang kita tahu dan mengerti tentang Tuhan, Sang "Ada Tertinggi" (The Supreme Being) -- atau dengan nama apapun Dia disebut dalam aneka bahasa, budaya dan agama -- tak pernah cukup menjelaskan (si)apa sesungguhnya Dia.

Akal budi manusia memang terbatas untuk memahami segala, setidaknya saat ini. Entahlah suatu saat nanti, ketika evolusi manusia terus bergerak yang mungkin merambah hingga level selular dan neuro-biologis yang barangkali mempengaruhi "naik"nya tingkat kesadaran, termasuk kesadaran spiritual. Saya bukan pakar sains, sehingga tidak kompeten bicara tentang itu.

Tentang Tuhan, yang kita paham sebenarnya adalah konsep tentang Dia, sebagaimana pertanyaan-pertanyaan abadi dalam teologi agama-agama. Konsep (tentang Tuhan) itu pun berkembang dalam sejarah dan dinamika manusia. Semakin manusia memahami dirinya, semakin pula lebih 'maju' konsep atau pengertiannya tentang Tuhan.

Satu hal penting: kita tak pernah bisa memahami Tuhan secara tuntas. Jika dipahami secara tuntas, maka itu bukanlah Tuhan. Namun, tidak tuntas bukan berarti tak mencukupi. Pengetahuan dan pengertian kita tentang Tuhan, sesederhana apapun pemahaman kita, sudah menjadikan kita pantas dan layak hidup dalam rasa syukur kepada Daya Ilahi.

Pada setiap masa dan untuk setiap kaumnya berulang kali hadir para "Guru Kehidupan" yang membawa pencerahan, perubahan dan pembaruan. Melalui mereka kita meyakini Daya Ilahi itu bekerja dan membuka kesadaran manusia tentang siapa dirinya, dari mana dia berasal dan ke mana tujuan 'asali'nya.

Apapun agama atau keyakinan religius kita memang perlu dan penting bagi kita masing-masing. Namun, perlu dipahami, agama bukankah tujuan melainkan jalan, melaluinya setiap manusia (pemeluk agama) berziarah bersama menuju tujuan 'asali', tujuan yang juga asalnya.

Manusia sebagai insan peziarah

Fitrah sebagai manusia peziarah (homo viator), menurut pemikir eksistensialis Gabriel Marcel, menempatkan kita dalam hubungan intersubjektivitas. Setiap orang di hadapan kita adalah subjek; dalam keunikan personalitasnya yang istimewa. Artinya, sebagai sesama peziarah, seyogianya kita saling menghormati, saling menghargai, saling mengasihi. Tak perlu saling menyalip, menikung, menghimpit apalagi menekan dan mencekik alias membunuh-mati. Biarkan setiap peziarah meniti jalan yang dia percayai.

Boleh jadi ada peziarah yang menganggap jalannya paling benar, paling pasti, paling bersih, paling murni. Itu terjadi karena mungkin dia belum paham bahwa yang terpenting bukanlah klaim tentang jalan mana yang paling prima, melainkan bagaimana dia berupaya hidup benar, lurus dan bersih sebagaimana jalan yang dia banggakan. Atau, jangan-jangan dia lebih banyak 'berakrobatik' di luar jalannya.

Agama bukanlah sesuatu yang perlu diperlakukan secara infantil, misalnya sebagai hal yang bikin pemeluknya bangga berlebihan, apalagi pongah terhadap sesamanya. Agama bukan pula alat manipulasi untuk menekan, memeras dan menindas sesama. Agama juga bukan senjata untuk menakut-nakuti sesama.

Agama sejatinya bukan semata tumpukan aturan atau perintah dan larangan, tetapi (terutama) "cara hidup" yang gembira, damai dan membahagiakan. Agama seharusnya menjadi "jalan kebahagiaan", nama lain untuk "jalan keselamatan" dan "jalan kedamaian".

Pemikir John D Caputo menyebut inilah jalan seharusnya dari agama (religion way) di tengah dunia kontemporer, yakni agama kasih. Agama harus meneruskan berkat kasih Ilahi kepada setiap orang tanpa memandang suku, kelompok, dan ras.

Kekuasaan Tuhan: kekuasaan relasional

Pemikir Hans Jonas mengatakan bahwa pengertian kita tentang Tuhan tidak sempurna dikarenakan Dia Maha Kuasa, Transenden. Menurut Jonas, dalam transendensi-Nya Tuhan tidak pernah menggunakan kekuasaan-Nya secara absolut. Kekuasaan Tuhan selalu terikat dengan relasi. Apa maksudnya?

Menurut Jonas, justru dalam kemahakuasaan-Nya, Tuhan secara leluasa menggunakan kekuasaan itu dalam relasi kasih, yakni kasih yang membebaskan manusia ciptaan-Nya dari kegetiran hidup menuju perdamaian dan hidup penuh sukacita. Kekuasaan tidak digunakan untuk menguasai dan bertindak sewenang-wenang, tetapi sebagai determinasi untuk melaksanakan kasih yang mengatasi segala sesuatu. Kasih mengalahkan segala sesuatu.

Apa yang disampaikan Jonas menawarkan kita pemahaman bahwa 'mistik' (mistik dalam artian hubungan spiritual, bukan "pengertian dangkal" yang berkaitan dengan ritual magis) dan atau keterikatan dengan Tuhan harus menimba inspirasi dari cara Tuhan menggunakan kekuasaan-Nya. Beriman kepada Tuhan berarti beriman terhadap cara-Nya menguasai diri-Nya untuk perbuatan-perbuatan baik. Beragama adalah memberikan kesempatan kepada kasih untuk berkuasa dalam relasi dengan Tuhan dan sesama.

Jadi, kalau hidup saya belum damai, selalu curiga dan berprasangka buruk terhadap sesama, lalai dan tak peduli pada pelestarian alam, gemar korupsi besar atau kecil(-kecilan), mau menang sendiri, sukar mengampuni, hobi menyakiti, diskriminatif dalam perlakuan kepada sesama, maka saya perlu bertanya diri: sebenarnya, bagaimana cara saya beragama? Bahkan, sejatinya apa tujuan saya beragama?

Pribadi yang sungguh beragama mestinya sungguh berbahagia, dan oleh karenanya mampu membahagiakan sesama. Dia dengan gembira dan penuh hormat memperlakukan sesamanya dengan cara terbaik, tak peduli asal-usul, jenis kelamin, suku bangsa dan agamanya. Pribadi demikian akan selalu “menunda” (meminjam terminologi Jacques Derrida) untuk menghakimi keyakinan orang lain, ataupun cara hidup-berbudaya orang lain di sekitarnya. 

Beriman dengan mata terbuka

Tentang agama, saya teringat ucapan dosen kami di Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero dulu, Dr Hubert Muda, SVD, "Allah tidak dapat 'dipenjarakan' dalam satu agama. Allah melampaui agama."

Ketika seseorang telah sampai pada titik ini, kita menyebut dia seorang yang beriman, lebih daripada beragama. Orang macam ini lebih menjadi 'spiritual(is)' ketimbang religius. Dia hidup pada tataran "metadigmatis", 'beyond religion'.

Gus Dur, seorang pluralis cum negarawan Indonesia dengan tepat menyingkatnya: "Saya dan Romo Mangun berbeda agama, tetapi kami memiliki iman yang sama, yakni iman kepada kemanusiaan."

Beriman tidak bisa hanya diukur dari kecerdasan mengutip kata-kata 'berat' dari diskursus teologis tentang Allah, kehadiran fisik di tempat-tempat ibadah, dan keseringan mengutip ayat-ayat suci. Iman lebih terkait dengan perbuatan kasih, di mana kita meneruskan kasih Tuhan dalam tutur kata dan laku tindak.

Beriman kepada Tuhan berarti memiliki mata hati personal yang terbuka pada perjuangan kemanusiaan, solider dengan sesama yang menderita, merajut harmoni dalam keanekaan dan membangun kesatuan dalam perbedaan, serta menjaga Bumi dan melestarikan alam.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, pemerhati politik dan militer, entrepreneur. Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar