Breaking News
  • Kapolda resmikan Bhayangkara Papua Football Academy
  • Kemen-PUPR tingkatkan kapasitas pekerja konstruksi dengan sertifikasi
  • Presiden Jokowi bersarung "blusukan" ke Mal Mataram
  • Pusat Konservasi Elang Kamojang lestarikan populasi elang jawaPusat
  • Wamen ESDM kaji FSRU penuhi pasokan gas

REFLEKSI Bersaing Secara Bermartabat 09 Feb 2017 08:12

Article image
Persaingan itu niscaya dan tak terelakkan. (Foto: employmentrightsireland.com)
Bersaing seraya berpegang pada nilai-nilai itu adalah refleksi keadaban manusia modern.

Oleh Valens Daki-Soo

 

PERSAINGAN itu niscaya dan tak terelakkan. Sejak zaman purba begitulah manusia. Secera genetis-herediter, dari era paling awal makhluk yang kelak disebut 'manusia' itu bersaing memperebutkan segala: hewan buruan atau makanan, pasangan, tempat tinggal atau ruang hidup.

Charles Darwin, ilmuwan pakar biologi dan geologi yang terkenal dengan teori evolusinya, mengatakan manusia saling bersaing untuk mempertahankan keberadaannya (survival of the fittest). Penelitiannya di Kepulauan Galapagos menyimpulkan: persaingan menjadi ciri inheren bukan hanya manusia, tetapi makhluk hidup.

Dalam bukunya The Origin of Species by Means of Natural Selection (1859), Darwin mengungkap, makhluk yang tidak mampu beradaptasi dalam persaingan itu akan tergerus oleh seleksi alam.

Apa yang membedakan 'manusia prasejarah' dengan manusia modern dalam hal persaingan?

Kita masih bersaing memperebutkan hal-hal yang sama, dengan kecenderungan "baku hantam" yang mungkin sudah tercetak dalam DNA warisan nenek moyang super primitif dari era 'tempo doeloe banget'.

Yang muda remaja bisa baku rebut pacar, yang lebih tua berebut kuasa alias jabatan, uang dan harta benda.

Jadi, apa yang membedakan kita dengan makhluk purba?

Harusnya ini: nilai-nilai. Kita bertarung sebagai ksatria sejati yang patuh kepada akal sehat dan tuntutan nurani. Petarung yang sejati selalu berupaya dan mampu menguasai hasrat emosionalnya, karena salah satu musuh terbesar manusia, menurut pakar kecerdasan emosi Daniel Coleman, adalah kecenderungan hasrat (emosi) menguasai peradaban manusia.

Mungkin saja makhluk purba pun punya kesepakatan atau konsensus ala mereka.

Jangankan manusia. Singa di rimba pun punya "aturan main": sang jantan mengencingi batas wilayah tinggal keluarganya sebagai tanda dan peringatan agar keluarga singa lain tidak menerobos masuk.

Jiwa petarung

Hidup memang perjuangan, pertandingan dan kompetisi. Hidup adalah pertarungan. 

Seorang filsuf, Thomas Hobbes, pernah bilang, manusia sering bertindak sebagai "homo homini lupus" (Latin, artinya manusia menjadi serigala bagi sesamanya). Saling mencabik, baku sikut, bahkan saling bunuh demi ambisi, berupaya saling meniadakan dalam persaingan.

Namun, kita bisa mengubahnya menjadi "homo homini socius". Artinya, manusia dapat hidup dan bersikap sebagai teman dan mitra bagi sesamanya. Kita bisa saling mendukung demi kemajuan, sama-sama berjuang guna meraih kemaslahatan bersama.

Pribadi yang berjiwa petarung adalah mereka yang tidak bersibuk ria mencari kelemahan orang lain atau menyalahkan pihak luar atas apa yang dialaminya. Alih-alih membiarkan diri diubah oleh lingkungan sekitar, petarung justru selalu berjuang untuk mengubah keadaan di sekelilingnya.

Maya Angelou, penulis dan penyair kulit hitam di Amerika menulis, "If you don’t like something, change it; if you cannot change it, change your attitude." Berhentilah menyalahkan sesuatu atas dasar suka atau tidak suka, dan alangkah lebih baik nyalakan lilin kecil harapan bagi perjuangan.

Bersaing seraya berpegang pada nilai-nilai itu adalah refleksi keadaban manusia modern.

Petarung dan pemenang sejati adalah mereka yang tak hanya melihat tujuan lalu bergerak penuh ambisi meraihnya, melainkan juga menghargai proses mencapainya dengan memberi makna dan nilai-nilai sebagai nyawa perjuangan.

Izinkan saya menutup refleksi sederhana ini dengan menceritakan sebuah kisah mashyur yang terkenal sejak dahulu kala.

Alkisah seorang prajurit klasik Yunani pada 490 SM bernama Pheidippides ditugaskan untuk memberitahukan satu kemenangan besar dalam perang Yunani atas Persia di Kota Marathon. Ia harus menempuh jarak 42,195 kilometer untuk mengabarkan kemenangan itu kepada warga.

Diceritakan bahwa meskipun fisiknya semakin lemah, Pheidippides terus berlari ke Athena. Dia pantang menyerah pada deraan kelelahan fisik dan kekurangan makan. Dia pun mencapai kota Athena. Sesampainya di gerbang Athena, dia memekik “Nikki!” Artinya, “Kita menang!” Sang petarung pun menghembuskan nafas terakhir.

Inspirasi dari perjuangan Pheidippides ini kemudian dicatat sejarah sebagai peletak dasar lomba jarak jauh atau marathon.

Lihat! Pheidippides tidak hanya mengabarkan kemenangan dari para petarung perkasa Yunani di zaman perang. Pheidippides juga mengukir kemenangannya sebagai petarung karena ia telah mengalahkan dirinya sendiri untuk mencapai tingkat akhir.

Anda adalah pejuang sejati dan pemenang kehidupan jika perjuangan itu dimaknai sebagai cara menghadirkan kebaikan Tuhan, meluhurkan kemanusiaan, memuliakan martabat hidupmu dan sesama.

Penulis adalah penikmat psikologi, pemerhati politik dan militer, pebisnis, Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar