Breaking News
  • Divestai Tuntas, Freeport Ganti Status Menjadi IUPK
  • IHSG menguat menyusul akumulasi beli investor asing
  • Jawa Barat diantisipasi dalam Pemilu 2019 karena miliki pemilih paling banyak
  • Libur Natal 2018, 71 Outlet BNI Tetap Beroperasi
  • Menperin: industri tak terdampak tsunami Selat Sunda

REFLEKSI Berserah Kepada Tuhan -- Sebuah Kesaksian Pribadi 16 Dec 2018 17:53

Article image
Berserah lebih mengandung sikap dan tindakan aktif. (Foto: 1freewallpapers.com)
Pribadi yang menghayati sikap berserah kepada Tuhan meyakini bahwa Tuhan berkarya dalam dan melalui dirinya sehingga dia mengambil posisi aktif dan proaktif menyikapi aneka problema kehidupan.

Oleh Valens Daki-Soo

 

OLEH karena bukan ahli bahasa, saya mungkin keliru dalam membuat pembedaan makna "pasrah" dan "berserah". Namun, saya membuat pembedaan sendiri: pasrah berarti menyerahkan diri dalam kondisi batin pasif, sementara berserah mengandaikan adanya keputusan dan sikap aktif.

Secara negatif makna kata pasrah dapat ditemukan dalam dua contoh ini. Pertama, "Gadis itu pasrah saja ketika pacarnya mencoba merenggut mahkota kegadisan atau kehormatannya." Kedua, "Ya, saya pasrah saja kepada Tuhan, terserah Dia mau buat apa."

Berserah lebih mengandung tindakan aktif. Misalnya, "Saya berserah kepada Tuhan sambil tetap berupaya semaksimal mungkin." Atau, "Sikap berserah diri kepada Tuhan membuat gadis itu tampak tegar dan kuat."

Yang hendak saya tekankan adalah salah satu sikap spiritual yang sepatutnya dihayati dan dipraktikkan setiap umat beriman adalah berserah kepada Tuhan.

Berbeda dengan sikap pasrah yang lebih dekat dengan sikap menyerah, tidak ingin dan tak mau berbuat apa-apa, beraroma pikiran negatif atau pesimis, dan mungkin putus harapan, sikap berserah kepada Tuhan lebih bermakna percaya dan mengikuti kehendak Tuhan dalam hidupnya, tetap beraura pikiran positif/optimis, serta mampu menjaga api semangat dan harapan.

Pribadi yang menghayati sikap berserah kepada Tuhan meyakini bahwa  Tuhan berkarya dalam dan melalui dirinya sehingga dia mengambil posisi aktif dan proaktif menyikapi aneka problema kehidupan.

Sebenarnya secara implisit atau agak eksplisit saya pernah berbagi pengalaman pribadi ketika mengalami gejolak gelombang bahkan badai kehidupan sekian tahun silam. Tidak banyak pilihan yang ada di tangan saya waku itu: atau menyerah alias pasrah belaka dan "selesailah sudah", atau berserah alias percaya sepenuhnya kepada Tuhan bahwa biduk hidup saya tak akan tenggelam total, meski sudah separuh tenggelam.

Agar perahu saya tidak tenggelam total, saya berupaya aktif maksimal: berdoa sesering mungkin, mengikuti meditasi Kitab Suci, belajar olah pernapasan, perbanyak olah raga, membendung dan mengolah rasa duka lara agar tidak sampai terjerat dalam kubangan kehancuran.

Saat itu saya kehilangan hampir semua bagian penting dari hidup saya: kehilangan keluarga, kehancuran karir yang sedang bagus-bagusnya dirintis, diberhentikan dari salah satu kantor/perusahaan penopang utama hidup saya karena kinerja saya merosot (akibat tekanan berat), kehilangan kendaraan dan saya harus naik angkot lagi, ditinggalkan banyak kerabat dan relasi, mengalami pengkhianatan alias ketidaksetiaan yang mendasar dan sungguh menikam jiwa.

Menyikapi semuanya itu, saya dengan sekuat tenaga memilih sikap iman: berserah kepada Tuhan sambil berpegang pada janji-Nya bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Dalam beberapa tahun pergumulan itu, saya sungguh bersyukur kepada Tuhan karena kekuatan, penghiburan dan Daya Ilahi-Nya sangat terasa dan mampu meneguhkan rasa keimanan (sensus fidei) saya. Kalau saja saya hanya pasrah dengan keadaan, saya mungkin tidak ada hari ini...

Juga saya amat berterima kasih kepada beberapa orang baik budi dan berhati penuh kasih yang tetap menyertai, menemani dan berjalan bersama saya.

Kini saatnya saya bersyukur kepada Tuhan atas kelimpahan berkat-Nya yang sungguh nyata, dahsyat dan ajaib. Saya dibanjiri dengan rahmat kekuatan dan segala yang diperlukan untuk hidup dengan lebih baik, lebih kuat, lebih beriman, lebih berserah.

Jika saya mengalami tantangan apapun, saya selalu ambil sikap ini: berserah kepada Tuhan.

Kalaupun saya merasa tantangan itu agak berat, saya bilang kepada Tuhan, "Wahai, Tuhanku, saya sudah berjuang maksimal sebisa kemampuanku. Sekarang giliran-Mu, Tuhan, untuk menolong anak-Mu ini."

Hiduplah dengan sikap berserah penuh keyakinan iman, maka Anda akan selalu "menemukan dan mengalami" Tuhan.

 

Penulis adalah peminat filsafat, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar