Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

TAJUK Bersikap Ilmiah dalam Hidup Berbangsa 08 Aug 2018 06:03

Article image
Sikap ilmiah mendatangkan kedewasaan berpikir. (Foto: ist)
Sikap ilmiah membebaskan kita dari kepasrahan pada takdir, di mana kita ditantang oleh situasi-situasi yang baru.

SALAH SATU ujian bagi bangsa Indonesia adalah bertambahnya ruang irasionalitas. Ketika semakin membekap ruang rasionalitas, maka segala sesuatu ditarik pada penjelasan yang irasional. Contoh yang terjadi adalah menghubungkan gempa bumi dengan kutukan Tuhan dan dosa manusia. Karena itu manusia hanya bisa pasrah pada takdir.

Seorang pemikir terbesar yang pernah dilahirkan Indonesia, Tan Malaka jauh-jauh hari menanggapi irasionalitas tersebut dalam naskah bukunya, Madilog. Dalam buku yang ditulis selama delapan bulan (15 Juli 1942 - 30 Maret 1943) itu, Tan Malaka mengajukan kritik tegasnya kepada bangsa Indonesia. Menurutnya, bangsa Indonesia dikurung dalam “logika mistika” yang membuatnya tidak kreatif dan tidak cepat menerima perubahan.

Apa itu logika mistika? Menurutnya, kita sering menganggap bahwa dunia ini dipengaruhi oleh kekuatan keramat di alam gaib. Logika ini melumpuhkan karena ketimbang menangani sendiri permasalahan yang dihadapi, lebih baik mengharapkan kekuatan-kekuatan gaib itu sendiri.  Ada keyakinan bahwa semua telah ditentukan bagi manusia, sehingga kita hanya bisa berpasrah atau menerima takdir. Kalau ada wabah penyakit, misalnya, orang tidak melakukan deteksi penyebab sakit dan berobat, tetapi berdoa karena penyakit itu adalah cobaan Tuhan.

Maka Tan Malaka meminjam konsep materialisme-dialektik Friedrich Engels mengajukan dua peralihan baru dalam tatanan kebudayaan nasional Indonesia. Pertama, peralihan ke filsafat, agar manusia Indonesia bersikap kritis terhadap apa yang terjadi, dapat memilah-milah persoalan, dan mencari jalan menuju penemuan baru. Cara berpikir kritis membantu masyarakat Indonesia untuk tidak menerima hidup sebagai takdir yang digariskan.

Lalu, peralihan ketiga adalah ilmu pengetahuan. Tidak cukup berpikir kritis, masyarakat Indonesia harus mulai membiasakan diri terlibat dalam aplikasi, eksplorasi, ataupun menemukan ilmu pengetahuan yang baru. Di sini kita dituntut bersikap ilmiah, untuk tidak serta merta menyetujui logika mistika dalam hidup sehari-hari. Sikap ilmiah membebaskan kita dari kepasrahan pada takdir, di mana kita ditantang oleh situasi-situasi yang baru. Bersikap ilmiah membuka diri pada kekayaan cakrawala ilmu pengetahuan. 

Dalam sikap ilmiah, misalnya, akan dijelaskan penyebab gempa bumi di Lombok baru-baru ini. Bahwa secara tektonik Lombok memang merupakan kawasan seismik aktif. Lombok berpotensi diguncang gempa karena terletak di antara 2 pembangkit gempa dari selatan dan utara. Dari selatan terdapat zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Pulau Lombok, sedangkan dari utara terdapat struktur geologi Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust).

Kecenderungan logika mistika membuat bangsa kita lamban bergerak ke depan. Sudah saatnya logika ilmiah diterjemahkan dalam konteks masyarakat, agar dapat lebih dewasa menyikapi setiap masalah yang ada.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar