Breaking News

TOKOH Bertho Lalo: In Memoriam 08 Feb 2021 09:40

Article image
Tokoh Diaspora Flobamora Jabodetabek, Alm. Bertho Lalo. (Foto: Ist)
Sudah saatnya penanganan pandemi Covid-19 di NTT dilakukan secara jelas, terukur, dan tegas; tidak lagi menjadi olok-olok senda gurau; jangan lagi ada yang mati sia-sia.

Oleh Didinong Say

 

BILA kelak ada penulis yang hendak mengisahkan sejarah terkait masyarakat Diaspora Flobamora Jabodetabek, maka  Drs.Bertoldus Lalo, MM adalah sebuah nama yang layak ditulis dengan tinta emas.

Dalam kapasitas sebagai Kepala Kantor Penghubung Provinsi NTT di Jakarta  sekitar tahun  2010-2018, pria gagah asal Riung Ngada ini menoreh begitu banyak karya dan prestasi. Tidak banyak nama dan tokoh dari wilayah eks zelfbestuur Riung  Ngada yang terkenal di Jakarta. Hanya beberapa. Di antaranya, Pastor Jan Lali SVD, penulis Aleks Dungkal, birokrat Remi Poling di Kemendagri, dan Bertho Lalo sendiri.

Mungkin sampai sekarang, Riung masih menjadi halaman belakang rumah di Ngada. Namun tidak butuh waktu lama lagi, Riung dengan eksostisme 17 pulau nya diyakini segera akan menjadi destinasi hebat untuk kepariwisataan di Flores. Dan sebagian dari upaya keras untuk mulai mengangkat dan memperkenalkan kawasan Riung di kancah nasional  tersebut adalah kerja kerja sosok Bertho Lalo.

 

Kepala Kantor Penghubung Provinsi NTT di Jakarta

Paradigma posisi Kepala Kantor Penghubung Provinsi NTT sebagai tempat buangan pegawai, sebagai petugas pelayan antar jemput, pikul tas Gubernur dan pejabat penting dari Kupang, berikut private service lainnya, ataupun sekedar menjalankan mediasi administratif kepemerintahan Provinsi NTT di Jakarta, sungguh jauh dari penampilan dan kinerja Bertho Lalo.

Keunggulan Bertho Lalo terletak pada hubungan personal dan kedekatan emosionalnya dengan berbagai kalangan Diaspora Flobamora se-Jabodetabek. Ia dekat dan disayang oleh para senior Flobamora Jakarta seperti: Anton Tifaona, Gorries Mere, Blasius Bapa, Jacky Uli, Alfons Loemau, Vincent Siboe, Ibu Yohana Seda, Ibu Nafsiah Mboi, Yusuf Indradewa, dan masih banyak lagi.

Bertho Lalo bisa membuat acara yang dihadiri oleh hampir semua anggota DPR RI asal NTT. Ia juga berteman akrab dengan hampir semua tokoh jagoan asal NTT di Jakarta seperti: Zakarias Sabon, Leo Api, Yus Tibo, Franky Lewang dan lain sebagainya. Kelompok Mahasiswa dan pemuda NTT Jakarta pun dirangkul dan senantiasa diberi ruang dialog dan ekspresi seluas-luasnya.

Pada masa Bertho Lalo menjadi Kepala Kantor Perwakilan Provinsi NTT di Jakarta, nampak terjadi gerak kebangkitan sosial masyarakat Diaspora Flobamora Jabodetabek.

Semua warga asal NTT di Jabodetabek didorong untuk membentuk atau menguatkan organisasi Ikatan Keluarga Besar (IKB) masing-masing daerah asal di bawah naungan rumah besar Flobamora. Setiap paguyuban mendapatkan perhatian dan dukungan dari dirinya. Kantor Perwakilan NTT di Jakarta dibuka untuk acara rapat dan pertemuan bagi semua IKB. Anjungan NTT di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menjadi tempat pelaksanaan untuk berbagai kegiatan sosial, kultural dan religius setiap komunitas atau bersama-sama seluruh Diaspora Flobamora Jabodetabek.

Dalam hal ini, Komunitas Ngada sungguh memanfaatkan dan mendapatkan advantage besar dari kehadiran Bertho Lalo tersebut. Rumah adat Ngada, Sao Ine Sina dan acara ritual tahunan Rebha, hadir dan rutin sebagai agenda tetap di Anjungan NTT TMII.

Upaya membangun Persaudaraan Flobamora di Jakarta adalah basic spirit sekaligus achievement Bertho Lalo. Dalam sepak terjangnya, ia tak henti menggaungkan semangat ini pada berbagai event sosial-kultural-religius masyarakat Diaspora Flobamora Jakarta. Ia proaktif, ikut menari dan menyanyi dalam setiap pesta komunitas  diaspora yang dihadirinya. Dirinya juga terlibat penuh dalam kegiatan ibadah. Ia aktif mempromosikan suasana toleransi dalam acara Natal atau Lebaran seperti pada kegiatan yang dilakukan komunitas Riung dan Wuamesu Ende. Ia akan turun langsung ke lapangan melerai kisruh dan perkelahian antar pemain saat turnamen sepakbola Diaspora Flobamora tahunan di Jakarta.

"Kitorang basodara, bae sonde bae Flobamora lebe bae" adalah kalimat yang sering diungkapkannya. Sembari membangun semangat persaudaraan Flobamora, semua aktivitas dan kegiatan tersebut sekaligus didorongnya menjadi media promosi budaya NTT di Ibukota.

Spirit 'Jaga nama' ('Waka' dalam budaya Ngada) atau menjaga harkat dan martabat NTT adalah nilai yang juga selalu dikedepankan oleh Bertho Lalo dalam berbagai urusan masyarakat Diaspora Flobamora. Sekelompok pemuda NTT pernah bermasalah dengan Kopassus di Jogja beberapa tahun silam yang berdampak kepada sweeping warga asal NTT di Kota tersebut. Ketika itu, Bertho Lalo dengan kepiawaiannya turun mengatasi persoalan sampai dengan suasana kembali kondusif. Ia mendekati semua pihak terkait sampai dengan audiensi ke tingkat Sultan Jogja dan Komandan Kopassus. Dengan demikian selanjutnya keamanan warga dan mahasiswa asal NTT di Jogja tidak lagi terusik.

Begitu juga dengan peristiwa sejenis yang pernah terjadi di seputar Jatinangor Bandung atau di Batam. Ia bekerja dalam senyap mengurus tidak sedikit masalah terkait TKI seperti pemulangan jenasah, penggerebekan kantor PJTKI penampung TKI asal NTT di Jakarta dan sebagainya.

NTT, pada masa Gubernur Frans Lebu Raya, bukan sedikit masalah dan persoalan yang timbul. Namun Bertho Lalo dengan kemampuan komunikasinya, mampu menjelaskan setiap persoalan dengan teduh dan tenang sehingga hanya sedikit riak yang timbul.

Pada hari Sabtu 6 Februari 2021, warga Diaspora Flobamora Jabodetabek sungguh berduka atas kabar dukacita meninggalnya Bertho Lalo akibat terpapar Covid-19 di Kupang. Ini menambahkan daftar panjang pejabat dan orang penting di NTT yang terpapar Covid.

Segera muncul berbagai spekulasi seperti:  Pejabat setingkat pak Berto ini terpapar di mana, transmisi dari siapa, kontak dengan siapa? Apakah di lingkungan Pemprov NTT di Kupang? Ini sungguh menggelisahkan.

Sudah saatnya penanganan pandemi Covid-19 di NTT dilakukan secara jelas, terukur, dan tegas. Tidak lagi menjadi olok-olok senda gurau. Jangan lagi ada yang mati sia-sia.

Rest in Peace, teman seumur.

 

Penulis merupakan Tokoh Diaspora Flobamora Jabodetabek.

Komentar