Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

KEUANGAN BI Kembali Naikan Suku Bunga Acuan 50 Basis Poin 29 Jun 2018 18:00

Article image
Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto:Ist)
Kenaikan suku bunga acuan adalah salah satu instrumen untuk memperkuat nilai rupiah.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" hingga 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur 28-29 Juni 2018, untuk membendung tekanan ekonomi eksternal terhadap perekonomian domestik, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Ini kebijakan moneter lanjutan yang pre-emptive (antisipatif), ahead of the curve (selangkah lebih maju) dan front loading," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers RDG di Jakarta, Jumat (29/6).

Kenaikan suku bunga acuan adalah salah satu instrumen untuk memperkuat nilai rupiah. Kenaikan suku bunga acuan bisa menaikan suku bunga simpanan bank sehingga masyarakat diharapkan lebih suka memegang rupiah. Namun kebijakan ini biasanya juga diikuti dengan kenaikan suku bunga kredit perbankan.

Dalam beberapa hari terakhir ini ini nilai rupiah terus melemah bahkan mendekati Rp14.400 per dolar AS. Saat ini nilai tukar rupiah dolar Amerika Serikat jauh dari asumi APBN 2018 yakni Rp13.400 per dolar Amerika Serikat.

BI yakin dosis kenaikan bunga acuan yang di luar ekspetasi, hingga 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Juni 2018 ini, akan menarik investor asing kembali ke pasar keuangan sehingga dapat memulihkan nilai tukar Rupiah.

"Ini akan membawa imbal hasil pasar keuangan Indonesia khususnya fix income (instrumen pendapatan tetap) yang menarik, dengan mempertimbangkan risiko yang kompetitif dan menarik bagi investor, termasuk investor aisng," kata Perry.

Semakin derasnya investasi asing akan memperbiki suplai valuta asing di pasar keuangan domestik sehingga permintaan yang tinggi terhadap dolar Amerika Serikat tidak akan menekan nilai tukar rupiah.

Per Jumat, 29 Juni 2018 ini, rupiah di pasar spot sudah diperdagangkan melebihi Rp14.400 per dolar AS atau rekor terlemah rupiah di tahun ini. Secara tahun berjalan, rupiah sudah melemah 5,72 persen (year to date/ytd).

Perry menekankan kenaikan bunga acuan hingga 50 basis poin ini murni karena langkah antisipasi untuk membendung tekanan eksternal. Ia menekankan tidak ada faktor tekanan dari domestik, karena laju inflasi hingga Mei 2018 yang semakin terkendali di 3,23 persen (yoy).

Tekanan eskternal, antara lain, bersumber dari rencana empat kali kenaikan suku bunga Federal Reserve, Bank Sentral AS, dan rencana normalisasi Bank Sentral Eropa pada September 2018, serta tekanan dari memanasnya perang dagang China dan Amerika Serikat.

"Keputusan kenaikan bunga ini merupakan kebijakan moneter lanjutan yang pre-emptive (antisipatif), ahead of the curve (selangkah lebih maju) dan front loading," katanya.

Perry menegaskan arah kebijakan moneter Bank indonesia ke depan adalah hawkish atau cenderung ke arah kebijakan moneter yang berani.

Sejalan dengan kenaikan suku bunga acuan 50 basis poin, suku bunga penyediaaan dana dari Bank Indonesia (Lending Facility) juga naik 50 basis poin menjadi 6 persen, dan penyimpanan dana di Bank Indonesia (Deposit Facility) naik 50 basis poin menjadi 4,5 persen.

 

--- Sandy Romualdus

Komentar