Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

FILM Biarkan Anak Menjalani Kehidupannya: Ulasan Film Taare Zamen Par (2008) dan Wonderful Life (2016) 20 Oct 2016 16:14

Article image
Film India, Taare Zamen Par berbicara tentang pendampingan anak yang benar. (Foto: Ist)
Kita hanya dapat mengarahkan anak tetapi tidak mendikte. Kita hanya bisa menasihati bukan memaksakannya.

Oleh Hendro Meze Doa

ANAK adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan bagi orang tua. Kehadiran anak mengubah panggilan seorang pria menjadi seorang ayah, seorang perempauan menjadi ibu. Bukankah sebuah hal yang membahagiakan bila anak untuk pertama kali memanggil kita dengan panggilan ayah atau ibu? Namun baiklah pula bila kita tidak hanya melihat dari sisi bahagianya saja. Mengapa demikian? Karena menjadi seorang ayah atau ibu bukanlah sebuah tugas yang mudah.

Menjadi orang tua tidak sebatas menghadirkan anak di dunia. Tetapi lebih dari itu, orang tua mempunyai tanggung jawab untuk menjadikan mereka pribadi yang berkualitas dalam segala hal. Untuk dapat menjadikan anak berkualitas, orang tua tentunya perlu memahami anak-anaknya dengan baik.

Di tengah upaya ini, para orang tua harus menyadari bahwa upaya menjadikan anak anaknya berkualitas, kurangilah tendensi dan pretensi untuk menjadikan anak-anaknya berkualitas dalam sudut pandang orang tua. Kebebasan anak menjadi unsur penting dalam proses mengkualitaskan diri mereka sendiri. Libatkan anak anak dalam mengkualitaskan diri mereka. Karena yang menjalani pilihan tersebut adalah anak-anak bukan orang tua.

Orang tua hendaknya berbesar hati untuk hanya menjadi mercusuar bagi anak-anaknya. Bukan seperti dalang yang sedang memainkan boneka-boneka. Memang, anak-anak tercipta karena perpaduan sel telur dan sel sperma kedua orang tuanya. Namun hal itu bukan berarti mereka harus menjadi miniatur orang tuanya. Bukan berarti mereka adalah milik orang tua seutuhnya.

Berkaitan dengan pendampingan anak yang benar, baiklah kita bercermin dari dua film produksi negara tetanngga India "Taare Zamen Par" dan produksi dalam Negeri "Wonderful Life." 

Taare Zamen Par (2008)

Film India ini mencoba mengajak kita untuk menyelami kehidupan Awasthi Ihsaan (Darshel safary) yang mengalami disleksia. Di awal film ini, kisa dapat menyaksikan Ihsan yang hidup dalam dunianya sendiri. Ia suka berimajinasi. Di tengah keriangan masa kecilnya, ia ternyata tidak dapat melihat huruf dan angka dengan benar. Dalam penglihatannya, huruf dan angka seperti sedang menari-nari dan selalu menari-nari di pelupuk matanya. Akibatnya, Ihsaan tidak dapat membaca dan tidak dapat menulis dengan benar.

Dengan kondisi seperti ini, Ihsaan sering mendapatkan tekanan. Tekanan datang dari teman-temannya, guru-gurunya dan orang tuannya sendiri. Terutama dalam hal ini, ayahnya. Apalagi, sang ayah seringkali membandingkan Ihsaan dengan kakaknya, yang memiliki segudang prestasi. Sang kakak sangat membanggakan orang tuanya. Teman-teman, para guru dan orang tuanya sendiri tidak memahami kondisi Ihsaan yang sebenarnya. Mereka tidak mengetahui bahwa Ihsaan mengalami disleksia. Kondisi ini membuatnya tertekan dan terisolasi dalam kesendirian.

Imbasnya, Ihsaan selalu mendapatkan nilai buruk di sekolahnya. Ia terkadang bolos dari sekolah untuk menghindari tekanan-tekanan tersebut. Akibat perbuatannya, ia akan dikirim ke asrama. Keputusan yang berat tidak hanya untuk Ihsaan sendiri tetapi juga bagi sang ibu yang sangat menyayangi anaknya.

Ihsaan menjadi semakin depresi karena keputusan tersebut. Lebih lanjut, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia harus berpisah dari orang tuanya. Terutama berpisah dari sang ibu yang selalu mencintai dan menyayangi Ihsaan.

Keputusan sang ayah sudah bulat. Dan akhirnya ia tetap dikirim ke asrama. Di asrama barunya Ihsaan diperlakukan sama dengan di sekolah lamanya. Setiap guru tidak ada yang mengerti kondisi Ihsaan. Di asrama ini, Ihsaan sering mendapatkan tekanan dari guru-gurunya dan teman-temannya.

Suatu kali, oleh gurunya, Ihsaan diminta untuk menerjemahkan isi dari sebuah puisi yang dibacakan temannya. Akan tetapi sang guru tidak suka dengan pendapat Ihsaan. Dengan perlakuan seperti ini, Ihsan menjadi lebih depresi lagi. Ia membuang semua buku-bukunya dan selalu merasa ketakutan. Ia merasa dirinya tidak ada yang peduli, merasa sendiri, dan hilangnya percaya diri.

Sampai akhirnya datang seorang guru yang enerjik mengajar ke sekolah tersebut. Ia bernama Ram Shankar Nikumbh (Amir Khan). Ram Shankar dtang Nikumbh datang sebagai guru penggant. Dia pernah mengajar di sebuah sekolah yang menangani Anak Berkebutuhan Khusus.

Pada awalnya Ram tidak begitu memperhatikan Ihsaa. Namun lama-kelamaan ia mulai memperhatikan Ihsaan. Melihat kondisi Ihsaan, Ram prihatin. Ram merasa Ihsan perlu mendapatkan bantuan. Untuk itu, Ram mendatangi rumah orang tua Ihsaan untuk mendapatkan beberapa informasi yang ia butuhkan.

Di sana Ram melihat semua tulisan Ihsaan. Ia sangat terkejut sekali ketika melihat lukisan-lukisan Ihsan yang sangat indah dan mengandung makna. Ihsaan mengungkapkan perasaannya lewat lukisan-lukisannya. Tidak hanya itu, Ram pun meminta buku-buku Ihsan. Ram mendapati bahwa tulisan Ihsan mempunyai kesalahan yang sama pada setiap bukunya, seperti: tertukarnya huruf b dengan d, terbaliknya tulisan huruf s dan R, menulis huruf h dan t seperti menulis dibalik cermin.

Ram berpendapat bahwa Ihsaan mengalami kesulitan dalam mengenali huruf. Ihsan tidak dapat membaca tulisan dan tidak dapat mengenali karakter dari setiap tulisan. Karenanya, Ihsaan tidak mengerti apa artinya. Ram mengatakan kepada kedua orang tua Ihsan, bahwa orang yang mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis disebut Disleksia.

Wonderful Life (2016)

Film Wonderful Life merupakan sebuah film Indonesia yang disutradarai oleh Agus Makkie. Para aktor dan aktris yang membintangi film ini adalah Atiqah Hasiholan, Sinyo, Alex Abbad, Lydia Kandou, Putri Ayudya, Arthur Tobing, Abdul Arif, Totos Rasiti, Didik Nini Thowok.

Film Indonesia berjudul “Wonderful Life” ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama, karya Amalia Prabowo. Film ini mengisahkan tentang seorang ibu bernama Amalia (Atiqah Hasiholan) yang selalu merasa yakin bahwa dia bersama keluarganya merupakan orang-orang yang pintar secara akademis.

Orang tua pasti mengharapkan bahwa anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang membanggakan dalam prestasi akademik dan non akademik. Namun dalam konteks masyarakat saat ini, orang tua masih cenderung melihat bahwa prestasi akademik jauh membanggakan daripada prestasi lainnya.

Aqil, anak Amalia, digambarkan sebagai anak yang tidak dapat membaca, tidak dapat menghitung dan lain-lainnya. Hal ini tentu menggelisahkan ibu Amalia. Dalam usianya yang ke-8, Aqil belum bisa membaca dan menulis. Aqil lebih suka menggambar Keadaan ini tentu saja menjadi tamparan bagi sang ibu. Sang ibu dianggap gagal menjadi orang tua. Anggapan ini mendorong sang ibu seringkali memarahi sang anak. Ia memarahi sang anak karena belum tahu keadaan anak yang sebenarnya. Aqil dianggap sebagai anak yang malas.

Amalia lalu bertemu dengan psikolog. Dari perjumpaan ini, sang ibu mendapatkan informasi bahwa anaknya menderita disleksia. Disleksia merupakan sebuah gangguan terhadap kemampuan membaca dan menulis, yang membuat Aqil tidak mendapatkan hasil yang bagus dalam pelajaran di sekolahnya. Awalnya Amalia tidak dapat menerima kenyataan bahwa sang anak menderita disleksia.

Dalam perjalanan selanjutnya, Amalia mulai memahami dan menerima keadaan anaknya. Amalia belajar untuk memandang dan berpikir dari sudut pandang yang baru dalam kehidupannya. Amalia mencoba masuk ke dalam dunia anaknya. Ia menemani anaknya untuk bepergian ke alam sekitarnya. Ia mulai menemukan betapa sang anak mempunyai horison berpikir yang tidak biasa. Melihat segala sesuatu dengan lebih jauh. Lukisan-lukisan yang lahir dari tangan Aqil menampilkan karya imajinasi yang luar biasa.

Amalia pun menyakini bahwa tak ada yang salah dengan anaknya. Sebagaimana ia mendengar dari seorang tua “tidak ada yang salah dengan anak ibu, semuanya terlahir sempurna.

Dua film ini menampilkan kisah anak yang menderita disleksia dengan sudut pandang yang berbeda. Dalam film pertama, kita melihat sang anak dari sudut pandang sang guru. Sang guru coba memahami alasan di balik sikap sang anak yang tidak memberikan fokus selama pelajaran. Sedangkan dalam film Indonesia, kita melihat sang anak dari sudut pandang sang ibu.

Kekuatan dua film ini memang terletak dalam ide ceritanya. Bila kita menonton film ini, kita akan dihinggapi keharuan yang berujung pada kepedulian tentang anak-anak yang membutuhkan perlakuan khusus. Plot dari kedua film ini terangkai dengan baik sehingga kita dapat mengikutinya dengan intensitas perhatian yang stabil. Kita dihantar pada kenyataan yang mulia: selalu ada sisi indah dan anugerah dibalik apa yang tidak biasa dan berbeda di mata manusia lainnya.

 Pendampingan anak

Beberapa hal segar tentang pendampingan anak yang dapat dihirup selepas menonton dua film ini, Pertama, pahami anak. Adagium yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang” kiranya gayung bersambut dengan kedua film ini. Pemahaman dan pengenalan yang baik tentang sang anak akan membantu orang tua dan guru dalam memperlakukan anak-anak dengan semestinya. Setiap anak terlahir istimewa. Orang tua dan guru hendaknya melihat dan memperlakukan anak anak secara istimewa.

Anak adalah anugerah dari Tuhan dalam kondisi apapun mereka. Sebagaimana sang guru mencoba mengenal sang murid. Bila ia telah mengenalnya maka ia tahu perlakuan seperti apakah yang tepat bagi sang murid. Sebagaimana sang ibu mecoba tahu tentang anaknya, maka ia tahu yang terbaik bagi anaknya. Bila demikian, maka sang anak akan merasa nyaman dan aman berada bersama kita (guru dan orang tua). ia akan mendekat, belajar dan bertumbuh.

 Kedua, janganlah membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak lainnya. Sebagai orang tua maupun guru, kita sering membanding-bandingkan antara anak yang satu dengan anak yang lainnya. Murid yang satu dengan murid yang lainnya. Mungkin niat di balik tindakan ini adalah memotivasi sang anak untuk bersaing menjadi yang terbaik. Namun rupanya, pola seperti itu justru akan membuat sang anak tertekan dan bisa membuatnya merasa rendah diri dan tak berarti.

Sebagaimana diungkapkan oleh Nurbaeti Rachman, seorang pakar pengasuhan anak usia dini dari Komunitas Rumah Pencerah: "Membandingkan anak malah tidak mengajarkan hal positif. Ini malah menekankan siapa yang lebih baik dan buruk. Akibatnya anak jadi merasa rendah diri" (Health Liputan 6).

Untuk itu, baiklah kita tetap mengapresiasi keberadaan anak anak/murid murid sesuai dengan apa yang dimilikinya. Tentu saja sambil membimbingnya untuk bertumbuh ke arah yang lebih baik.

 Ketiga, jangan memaksakan kehendak orang tua kepada anak. Alangkah baiknya kita mencoba menyelami puisi Kahlil Gibran yang berjudul “ANAKMU BUKAN MILIKMU”:

Anakmu bukanlah milikmu.

Mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya.
Lewat kau mereka lahir, namun bukan dari engkau.
Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.
Berikan kasih sayangmu, namun jangan paksakan kehendakmu.
Sebab mereka punya alam pikiran sendiri.
Berikan tempat pada raganya, tetapi tidak untuk jiwanya.
Sebab jiwa mereka penghuni masa depan yang tidak dapat kau kunjungi, bahkan tidak di dalam mimpimu.

Kau boleh berusaha menyerupai mereka, namun tidak membuat mereka menyerupaimu.
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur. Juga tidak tenggelam di masa silam.
Kaulah busur, yang melepaskan anak panah kehidupan.
Sang Pemanah membidik sasaran dalam ketakterbatasan.
Dia merentangmu dalam keperkasaan-Nya agar panah melesat cepat dan jauh.

Meliuklah dengan sukacita di tangan Sang Pemanah, sebab Ia mengasihi anak panah yang melesat cepat, sebagaimana Ia mencintai busur yang kuat.

 Biarkanlah anak anak bertumbuh berdasarkan panggilan jiwa dan karakternya, karena yang akan menjalani pilihan tersebut adalah sang anak. Yang terbaik bagi orang tua belum tentu sesuai dengan apa yang menjadi keinginan sang anak. Anak yang dipaksakan menjalani pilihan orang tua akan berujung pada ketiadaan gairah. Anak akan ogah-ogahan dalam menjalani pilihan tersebut. Bahkan tak jarang ada beberapa anak yang kemudian tak tuntas dalam belajar.

Maka marilah kita membiarkan sang anak menjalani kehidupan yang dipilihnya. Kita hanya dapat mengarahkan tetapi tidak mendikte. Kita hanya bisa menasihati bukan memaksakannya.

Akhir kata, anak-anak adalah titipan terindah dari Tuhan untuk orang tua. Bertanggungjawablah dengan bijak agar anak tak menyalahkan kita di saat dewasa melainkan mengucap syukur dan terima kasih atas apa yang sudah diberikan orang tua untuk mereka.

 *Penulis adalah alumnus STFK Ledalero, pendidik dan penikmat film

Komentar