Breaking News
  • Indonesia-Australia jajaki tarif 0 persen untuk tiga komoditas
  • Kemendag amankan minuman beralkohol tanpa izin impor
  • Laos tertarik alutsista dan pupuk Indonesia
  • OJK: Masyarakat banyak belum paham fungsi produk jasa keuangan

INDUSTRI Bidik Pasar Dunia, Nilai Ekspor Batik Lampaui US$ 39 Juta 29 Sep 2017 00:42

Article image
Sekjen Kementerian Perindustrian Haris Munandar dalam acara Pameran Hari Batik Nasional (HBN) 2017 (Foto: Biro Pers Kemenperin)
“Indonesia telah menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia. Makanya, batik yang menjadi identitas bangsa kita, semakin populer dan mendunia,”ujar Haris Munandar.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co –- Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor batik dan produk batik sampai dengan semester I tahun 2017 mencapai US$ 39,4 juta dengan tujuan pasar utamanya ke Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Eropa. Capaian ini menandai bahwa industri batik nasional memiliki daya saing yang komparatif dan kompetitif di pasar internasional.

“Indonesia telah menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia. Makanya, batik yang menjadi identitas bangsa kita, semakin populer dan mendunia,” kata Sekjen Kementerian Perindustrian Haris Munandar di Jakarta.

Potensi pasar ekspor batik nusantara masih bisa ditingkatkan, mengingat perdagangan produk pakaian jadi dunia sebesar US$ 442 miliar.

“Ini menjadi peluang besar bagi industri batik kita untuk memperluas pangsa pasarnya karena batik sebagai salah satu bahan baku bagi produk pakaian jadi,” tuturnya.

Apalagi, saat ini batik bertransformasi menjadi beragam bentuk produk fesyen, kerajinan dan dekorasi rumah yang telah mampu menyentuh lapisan masyarakat luas dari berbagai kelompok usia, golongan, dan pekerjaan.

“Bahkan, tokoh-tokoh dunia seperti Barrack Obama dan Bill Gates senang menggunakan batik. Kita rakyat Indonesia, juga harus bangga menggunakan batik,” tegas Haris.

Sesuai tema Pameran HBN 2017: Menjaga Warisan Budaya Batik Indonesia, Sekjen mengingatkan, sebagai warga negara Indonesia semestinya dapat melestarikan warisan budaya nusantara tersebut. Banyak cara untuk melakukannya. Salah satu contohnya yang perlu diaperesiasi adalah upaya sinergi antara Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin dengan Yayasan Batik Indonesia dalam penyelenggaraan pameran HBN ini, yang dilaksanakan pada 26-29 September 2017.

Menurut Haris, langkah kolaborasi antara pihak akademisi (Academics), pelaku usaha (Business)pemerintah (Government)dan komunitas (Community) atau disebut ABGC menjadi sangat penting guna mewujudkan pelestarian budaya dan pengembangan industri batik nasional secara berkelanjutan.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, pihaknya terus meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional agar mampu menghasilkan produk-produk yang memiliki keunggulan komparatif. Selain didukung dengan sumber daya alam yang melimpah, potensi tersebut bisa tercapai karena juga adanya kebijakan pro bisnis dari pemerintah.

“Di tengah ketatnya persaingan global, beberapa produk Indonesia mampu kompetitif dan memberikan kontribusisignifikan terhadap perdagangan dunia. Tentunya ini dapat membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonominasional dan kesejahteraan masyarakat,” paparnya.

Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengemukakan, pelaku IKM nasional segera memanfaatkan platform digital untuk menjangkau konsumen semakin besar. 

“Selain memfasilitasi melalui kegiatan promosi dan pameran, yang tidak kalah penting adalah kami telah memiliki program e-Smart IKM untuk peningkatan akses pasar mereka terutama di pasar online yang potensinya sangat besar,” jelasnya

 

--- Ernie Elu Wea

Komentar