Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

TAJUK Bintang Penuntun Bangsa itu Bernama Pancasila 13 Jul 2018 06:09

Article image
Pancasila menuntun bangsa agar memiiki arah perjuangan yang jelas. (Foto: Ist)
Hanya melalui Pancasila, bangsa Indonesia dapat menemukan jati diri kebangsaan, kepribadian, moralitas, dan haluan keselamatan bangsa.

JOHN GARDNER, seorang intelektual Amerika terkenal pernah menulis: “Tidak ada bangsa yang dapat mencapai kebesaran jika bangsa itu tidak percaya kepada sesuatu, dan jika tidak sesuatu yang dipercayainya itu memiliki dimensi-dimensi moral guna menopang peradaban yang besar.”

Dalam konteks Indonesia, anjuran Gardner tak lain menunjuk pada Pancasila. Sejak disahkan secara konstitusional pada 18 Agustus 1945, Pancasila dipercayai (dijadikan) sebagai dasar statis yang menyatukan bangsa Indonesia. Pancasila mempersatukan bangsa Indonesia yang multikultural.

Namun, Pancasila juga adalah bintang penuntun (Leistar) yang mengarahkan bangsa untuk mencapai tujuan. Di dalam Pancasila tercakup landasan moralitas dan haluan kebangsaan yang terang dan visioner. Hanya melalui Pancasila, bangsa Indonesia dapat menemukan jati diri kebangsaan, kepribadian, moralitas, dan haluan keselamatan bangsa.

Sila pertama Pancasila menjadi sumber etika dan spiritualitas sebagai basis etis kehidupan berbangsa dan bernegara. Sedangkan sila-sila berikut menunjukkan komitmen kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial yang menjadi arah dari perjuangan bangsa. Ini yang menjadi arah perjuangan bangsa.

Kita tidak dapat membayangkan apabila Negara bhineka seluas Indonesia tidak memiliki Pancasila sebagai dasar yang diyakini sekalgus arah yang harus diikuti. Tentu sangat sulit menyatukan bangsa Indonesia dalam semangat perjuangan yang memiliki landasan moral.

Realitas bangsa Indonesia saat ini menunjukkan instrumentalisasi sila Pertama demi kepentingan sendiri ataupun golongan. Agama tidak menjadi basis spiritualitas etis, tetapi menjadi kendaraan kepentingan politik (ataupun ekonomi) pihak-pihak tertentu. Ketika landasan spiritualitas belum diaplikasikan, maka persoalan seperti maraknya isu SARA (politik identitas), kebencian antar warga, kejahatan kemanusiaan tetap ada dalam keseharian. Arah perjuangan bangsa pun menjadi kabur.

Mari kita jadikan Pancasila sebagai landasan spiritualitas etis. Sebab tanpa Pancasila, perjuangan bangsa tidak memiliki arah yang jelas.

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar