Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

HANKAM BNPT Ungkap Peran Perempuan Cegah Radikalisme dan Terorisme 06 Jul 2018 09:39

Article image
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius. (Foto: Ist)
Perempuan berperan dalam deteksi dini paham radikal yang memiliki ciri intoleran, anti-NKRI, anti- Pancasila, serta suka mengafirkan orang lain.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Perempuan berperan penting dalam pencegahan radikalisme dan terorisme sejak dini.

Peran signifikan ini ditegaskan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius dalam diskusi bertajuk "Islam Rahmatan Lil Alamin: Antara Ajaran dan Budaya" yang digelar Yayasan Lingkar Perempuan Nusantara (LPN) di Jakarta, Kamis, (5/7/2018).

"Seorang ibu harus bisa mendidik anaknya agar menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa, serta mengawasi mereka dari pengaruh radikalisme dan terorisme," ungkap Suhardi.

Selain itu, lanjut Suhardi, perempuan juga bisa berperan dalam deteksi dini paham radikal yang memiliki ciri intoleran, anti-NKRI, anti- Pancasila, serta suka mengafirkan orang lain.

"Hal ini perlu dijelaskan agar para perempuan bisa memiliki pemahaman yang sama terkait radikalisme dan terorisme ini," kata mantan Kabareskrim Polri ini.

Menurut Suhardi, sasaran utama kelompok radikal dalam merekrut anggota adalah generasi muda karena mereka masih dalam proses mencari jati diri.

"Emosional anak muda masih belum stabil, sementara di satu sisi pengetahuannya ingin maju terus sehingga sangat rentan disusupi paham-paham semacam itu," ujar mantan Kepala Divisi Humas Polri ini.

Namun, Suhardi juga tidak memungkiri bahwa belakangan ini kaum perempuan dan anak-anak pun mudah terpengaruh paham radikal yang berujung pada tindakan terorisme. Teror bom Surabaya beberapa waktu lalu menjadi bukti nyata.

"Ternyata orang (kelompok teroris) juga melirik wanita. Modus operandi itu bergerak dinamis sekali melihat kultur kita, perempuan dan anak-anak sudah mulai didekati," pungkasnya.

--- Redem Kono

Komentar