Breaking News

BERITA Buntut Mogok Kerja, Ratusan Buruh Asal NTT Diusir Paksa oleh Perusahaan Sawit WTC 18 Sep 2019 10:20

Article image
Para buruh asal NTT yang diusir paksa, mengungsi sementara di teras Kantor Camat Karangan, Kabupaten Kutai Timur. (Foto: Stef)
“Pihak kecamatan hanya mengizinkan hingga hari minggu saja. Kami ini seperti warga asing saja. Kami minta keadilan terhadap hak-hak kami,” pinta Aventinus.

KUTAI TIMUR, IndonesiaSatu.co-- Nasib malang kembali dialami ratusan buruh asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim).

Usai melakukan aksi mogok beberapa waktu lalu akibat pesangon dan hak-hak mereka diduga dipangkas pihak perusahaan sawit, PT. Wahana Tritunggal Cemerlang (WTC), kini para buruh yang tinggal di camp diusir paksa oleh para preman. Mirisnya, mereka dipaksa keluar dari camp dengan membawa serta anak-anak bayi dan istri yang sedang hamil bersama seluruh barang-barang milik mereka.

“Para buruh diusir dengan menggunakan preman. Ini sudah sangat sadis. Sedihnya, ada ibu-ibu hamil dan anak-anak bayi. Ini sudah tidak manusiawi. Kami tidak tahu harus ke mana karena Camat setempat tidak bisa berbuat apa-apa,” kata koordinator buruh, Aventinus, seperti dilansir SuaraFlores.net, Selasa (17/9/19) dari Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur, Kaltim.

Diterangkan buruh asal kabupaten Manggarai, Flores, NTT ini, kejadian pertama bermula pada hari Senin (9/9/19) lalu, di mana sebanyak 40 karyawan diundang oleh pihak perusahaan ke kantor. Setibanya di kantor, mereka langsung diusir dan dikejar dengan senjata tajam (parang, red) oleh preman yang diduga difasilitasi oleh perusahaan.

“Meskipun ada aparat Polisi, para preman tetap mengejar. Para buruh pun menghindari aksi kekerasan. Itulah awal mula kejadian,” kisah Aventinus.

Selanjutnya, lanjut dia, terjadi mediasi di kantor Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur, tetapi tidak ada penyelesaian. Pasalnya, pihak perusahaan dan para preman tetap bersikeras bahwa para buruh harus diusir. Akhirnya, para buruh mengambil jalan terbaik untuk menghindari konflik dan mengungsi di aula kantor kecamatan untuk sementara waktu.

“Pihak kecamatan hanya mengizinkan hingga hari minggu saja. Kami ini seperti warga asing saja. Kami minta keadilan terhadap hak-hak kami,” pinta Aventinus.

Buruh lain, Stefanus kemudian mengirim beberapa lembar foto situasi dan kondisi para buruh yang diusir paksa dan tinggal sementara di kantor camat setempat. Dalam foto tersebut, tampak para buruh tidur dan duduk di lantai lengkap dengan barang-barang mereka. Ada juga perempuan dan anak-anak.

Menurut Stefanus, sebelumnya, antara pihak perusahaan dan para buruh telah beberapa kali melakukan negosiasi yang difasilitasi oleh Dinas Nakertrans Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kaltim. Namun, dari beberapa kali negosiasi tersebut, pihak perusahaan tetap menolak keras untuk membayar hak-hak buruh yang dituntut para buruh. Pihak peruhaan bersih keras meminta semua buruh tersebut berhenti karena hal tersebut adalah keputusan kantor pusat.

Adapun aksi mogok dilakukan para butuh guna memprotes ketidakadilan perusahaan sejak  Juli-Agustus 2019. Mereka menuding pihak perusahaan memotong secara sepihak upah karyawan dengan dalil untuk PPH, koperasi, BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.

“Kami lakukan aksi mogok. Kami memprotes kebijakan pihak perusahaan yang menurut kami sangat tidak adil dan tidak manusiawi. Mereka memotong uang gaji kami tanpa alasan. Ada yang THR dipotong, ada yang gajinya dipotong untuk koperasi tapi sampai keluar tidak mendapatkan haknya. Ada juga yang dipotong dengan alasan untuk pajak dan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, tapi anehnya selama ini kami sakit, kami bayar sendiri. Bahkan pihak perusahaan meminta lagi surat dari rumah sakit biaya pengobatan namun uang kami tidak diganti atau dibayar,” jelas Aventinus. 

 

--- Guche Montero

Komentar