Breaking News

OLAHRAGA Buntut Polemik Sanksi kepada Tim PSN Ngada, Garda NTT Kembali Datangi Kantor PSSI 08 Jan 2020 13:05

Article image
Mafia sepakbola di tubuh PSSI. (Foto: ilustrasi/jawapos.com)
Garda NTT meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) membekukan sementara kepengurusan PSSI periode 2019-2023.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- "Turnamen Liga III Nasional rupanya bukan saja mencetak catatan terburuk sepanjang sejarah, melainkan wajah kepengurusan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) periode 2019-2023 juga menampilkan sifat-sifat mafioso yang menghalalkan segala cara demi melanggengkan kekuasaan."

Demikian pernyataan itu dilontarkan Gerakan Pemuda Nusa Tenggara Timur (Garda NTT) Jakarta dalam rilis yang diterima media ini, Selasa (7/1/20).

Bagaimana tidak, dalil Garda NTT, institusi tertinggi sepak bola tanah air ini melalui para punggawanya kerap melakukan aksi tipu-tipu terkait kemelut yang menimpa tim sepak bola kebanggaan Provinsi NTT yaitu PSN Ngada.

Garda NTT menilai aksi tipu-tipu tersebut sangat nampak ketika beberapa kali tim PSN Ngada menyampaikan protes dan keluhan terkait persoalan Liga III namun hingga kini tak kunjung mendapat keadilan.

Menyikapi hal itu, Garda NTT Jakarta, pada Rabu, (18/12/19) lalu bersama para tokoh asal NTT beserta Official tim PSN Ngada mendatangi Kantor Pusat PSSI yang terletak di Plaza FX untuk menyampaikan keluhan terkait hukuman pemotongan poin dan kartu kuning disertai denda Rp 30 juta yang menimpa PSN Ngada.

Padahal, hukuman itu sejatinya sangat tidak berdasar. Sebab, sesuai bukti-bukti valid yang dikemukakan, justru tidak tidak ada satupun pelanggaran yang dilakukan pemain PSN Ngada. Namun, bukti-bukti yang disodorkan justru tidak dipertimbangkan.

Wakil Ketua Umum PSSI, Cucu Soemantri yang menerima para tokoh dan official Ngada pada saat itu menjanjikan proses penyelesaian yang adil dan bermartabat bagi tim PSN Ngada, justru hingga kini tidak ada kabar.

Selanjutnya, karena merasa belum mendapatkan solusi soal nasib PSN Ngada, pada hari Jumat, (20/12/19) Garda NTT dan masyarakat diaspora NTT kembali mendatangi Kantor PSSI disertai serangkaian aksi unjuk rasa untuk menagih janji Wakil Ketua Umum, Cucu Soemantri.

Namun lagi-lagi masyarakat NTT kembali ditipu, sebab beliau tidak ada di tempat. Djoko Purwoko yang saat itu menerima delegasi dari berbagai elemen masyarakat NTT mengklaim diri mendapat penunjukkan lisan dari PSSI sebagai Tim Investigasi justru hilang kabar. Ketika dihubungi melalui ponsel pun nomor yang diberikan tidak bisa dihubungi.

Ketika dilacak melalui jejak digital, kami menemukan fakta dan informasi bahwa pe Juli 2019, nama Djoko Purwoko masih menjabat sebagai Presiden Club Malang United. Itu berarti, untuk kedua kalinya PSSI melakukan pembohongan publik.

Garda menilai, PSSI benar-benar sudah dikuasai para mafia bola sehingga cara-cara mafioso dipakai untuk membunuh klub-klub kecil yang sedang beranjak naik ke level nasional.

Tuntutan Sikap

Pelajaran tersebut membuat masyarakat diaspora dan Garda NTT bertekad untuk terus mengejar keadilan meski berkali-kali ditipu.

Melihat itikad yang kurang baik dari pengurus PSSI, Garda NTT kembali mendatangi Kantor PSSI pada Rabu (8/1/20) dan menyatakan sikap sebagai berikut;

Pertama, mengecam keras kasus dugaan manipulasi yang dilakukan oleh panitia dan pengurus PSSI yang menyebabkan kekalahan tim PSN Ngada (perwakilan dari NTT) secara tidak bermartabat.

Kedua, mendesak PSSI memecat perangkat wasit yang memimpin pertandingan PSN Ngada versus Gaspa 1958 Palopo pada Sabtu (14/12/ 19 di Stadion Joko Samudro, Gresik di antaranya Wasit Gilang Mijwar, Cadangan Wasit Faisal Abdul Wahid, Asisten Wasit 1 Tri Rachmad Jatmiko, Asisten Wasit 2 Wahyu Tri Wibowo, Penilai Wasit Suharto dan Match Commisioner Puthut Wibowoadi.

Ketiga, mendesak mundur Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan dengan dua wakilnya Iwan Budianto dan Cucu Soemantri karena tidak mampu mengatasi atau memberi keputusan solutif terkait persoalan di LIGA III.

Keempat, meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) membekukan sementara kepengurusan PSSI periode 2019-2023.

Pernyataan sikap tersebut resmi ditandantangani pengurus Garda NTT yakni Wilfrid Yons Ebiet selaku Ketua Umum dan Marlin Bato selaku Sekjend.

--- Guche Montero

Komentar