Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL Bunuh Polisi, Seorang Anggota “Texas 7” Disuntik Mati 05 Dec 2018 11:25

Article image
Joseph Garcia (47), salah seorang anggota “Texas 7” yang disuntik mati di Texas. (Foto: Youtube)
Polisi bernama Aubrey Hawkins, 31, tewas ditembak kelompok itu ketika para narapidana kabur dari lokasi, menurut catatan pengadilan.

TEXAS, IndonesiaSatu.co – Pengadilan Texas pada Selasa (4/12/2018) menghukum mati salah satu anggota “Texas 7” yang terlibat pembunuhan terhadap seorang polisi di toko peralatan olahraga pada Malam Natal tahun 2000.

Sebelum menembak mati seorang polisi bernama Aubrey Hawkins (31), Joseph Garcia (47) dan enam rekannya dari “Texas 7” kabur dari penjara berpenjagaan sangat ketat beberapa hari sebelum insiden terjadi.

Garcia sebagaimana ditulis ANTARA (5/12/2018) dinyatakan meninggal pada pukul 18.43 waktu setempat. Ia disuntik di ruang hukuman mati Negara Bagian di Huntsville, kata peradilan kejahatan Texas.

Hukuman mati dijalankan setelah Mahkamah Agung AS menolak serangkaian petisi.

Garcia sendiri sedang menjalani hukuman penjara 50 tahun karena melakukan pembunuhan ketika ia dan enam narapidana lainnya kabur dari penjara di Kenedy, Texas, pada 13 Desember 2000, menurut dokumen pengadilan.

Sebelas hari kemudian, pada Malam Natal, Garcia dan teman-temannya yang kabur itu merampok sebuah toko peralatan olahraga di Irving.

Polisi bernama Aubrey Hawkins, 31, tewas ditembak kelompok itu ketika para narapidana kabur dari lokasi, menurut catatan pengadilan.

Mereka ditangkap sekitar satu bulan kemudian di Taman Colorado RV. Di tempat itu, salah seorang narapidana bunuh diri.

Garcia divonis hukuman mati pada 2013 setelah ia dianggap bersalah melakukan pembunuhan yang bisa diancam dengan hukuman mati terhadap petugas kepolisian.

Walaupun tidak menembak Hawkins, Garcia tetap dinyatakan melakukan pembunuhan berdasarkan hukum negara bagian, yang menganggap seseorang tetap bertanggung jawab jika mereka menjadi kaki tangan pembunuh.

Para pengacara Garcia bertahun-tahun, tanpa hasil, menentang kelayakan kasus itu serta hukuman yang dijatuhkan. Upaya yang telah mereka lakukan termasuk dengan mengajukan banding ke Mahkamah Agung AS pekan lalu.

Pada pengadilan banding, tim pengacara Garcia menekankan aspek konstitusi pada hukum tersebut. Mereka beralasan bahwa hukuman terhadap Garcia beserta kenyataan, bahwa narapidana itu selama 15 tahun menunggu giliran pelaksanaan hukuman mati, merupakan pelanggaran atas Undang-undang Dasar AS, yang tidak menyetujui penghukuman secara kejam dan tidak biasa.

"Garcia, yang tidak melakukan pembunuhan ataupun berniat membunuh, tidak termasuk `paling buruk di antara yang paling buruk`, yang disyaratkan merupakan unsur pembunuhan dengan ancaman hukuman mati," tulis tim pengacara.

Tiga dari tujuh narapidana yang kabur itu sudah menjalani hukuman mati sementara dua lainnya juga sedang menunggu eksekusi.

Garcia menjadi narapidana ke-12 yang dihukum mati di Texas dan yang ke-22 di Amerika Serikat pada 2018, demikian data Pusat Informasi Hukuman Mati, organisasi yang melacak hukuman mati di Amerika Serikat.

--- Simon Leya

Komentar